Pendeta Papua Tewas Ditembak, PGI Terima Dua Laporan Soal Pelakunya

Senin, 21/09/2020 14:33 WIB
Penembakan terhadap pendeta di Papua (grid)

Penembakan terhadap pendeta di Papua (grid)

Jakarta, law-justice.co - Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengaku belum jelas dari kelompok mana pelaku penembakan terhadap pendeta Yeremia Zanambani hingga tewas. Pasalnya, ada dua versi laporan yang diterima oleh PGI soal penembakan di Papua tersebut.

"Informasi mengenai penembakan ini masih simpang siur," kata Humas PGI Philip Situmorang seperti dilasnir dari detikcom, Senin (21/9/2020).

PGI mengecam penembakan yang terjadi di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada Sabtu (19/9) kemarin itu. Pendeta Yeremia yang tewas dalam penembakan itu merupakan pendeta yang dihormati di Klasis Hitadipa. Ada dua versi tewasnya Yeremia.

"Di satu sisi PGI mendapat laporan dari GKII dan pemberitaan media lokal yang menyebutkan, penembakan tersebut diduga dilakukan oleh aparat TNI yang sedang melakukan tugas operasi militer," kata Philip.

GKII yang disebut Philip di atas adalah Gereja Kemah Injil Indonesia, salah satu sinode anggota PGI. GKII menduga Yeremia tewas ditembak oknum TNI. Namun di ada versi kabar yang lain pula, Yeremia ditembak kelompok kriminal bersenjata.

"Sementara media nasional memberitakan bantahan pihak TNI, dan menyebut pelaku penembakan adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)," kata Philip.

Supaya peristiwa ini jelas, PGI mengusulkan pembentukan tim investigasi yang independen. Investigas independen bisa menghindari kondisi saling tuduh.

"Tidak mudah bagi kami mengklarifikasi peristiwa ini. Untuk itu kami telah menyurati Presiden Republik Indonesia, Kapolri dan Panglima TNI untuk mengusut tuntas kasus ini dengan membawanya ke ranah hukum," kata dia.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum PGI Gomar Gultom mendorong agar kasus ini diselesaikan secara hukum. PGI telah menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Idham Azis, meminta kasus ini diusut tuntas dan mengecam keras kekerasan di Papua.

"Siapapun pelakunya, TNI atau KKB, pemerintah harus mengusut tuntas kasus ini dan menyelesaikannya secara hukum, tidak bisa dibiarkan seperti selama ini, kalau menghilangkan nyawa orang Papua berlarut-larut tanpa penyelesaian," kata Gomar Gultom.

Berikut adalah sikap PGI terkait peristiwa tewasnya Pendeta Yeremia Zanambani:

1. Menyatakan duka yang mendalam kepada semua keluarga korban yang terluka dan yang kehilangan anggota keluarganya dalam kasus ini. Kiranya Tuhan yang Rahmani memberikan penghiburan bagi seluruh keluarga.

2. Mendesak dan mendukung upaya pihak kepolisian RI dalam hal ini Kepolisian Daerah Papua bekerja sama dengan Komnas HAM Perwakilan Papua untuk terus melakukan investigasi kasus ini.

3. Meminta pemerintah, lembaga adat dan gereja-gereja di Papua untuk ikut aktif memfasiltasi penyelesaian kasus ini.

4. Harus dihentikan segala bentuk kekerasan di Papua yang membawa korban, baik rakyat sipil maupun aparat keamanan.

5. Kasus ini menjadi kasus penembakan terakhir dan mendorong pemerintah menyelesaikan tuntas kasus-kasus sejenis selama ini, termasuk kasus Paniai, Nduga, dll

TNI Nyatakan Pendeta Ditembak KKB

Pihak TNI melalui Kepala Penerangan Kogabwilhan III, Kol Czi IGN Suriastawa, menjelaskan Pendeta Yeremia ditembak oleh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB). TNI mendeteksi ada pemutarbalikan fakta, seolah-olah penembak Pendeta Yeremia adalah pihak TNI.

"Fitnah mereka di medsos, jelas sudah setinggan dan rekayasa untuk menghasut masyarakat sekaligus menyudutkan TNI/Polri dan pemerintah menjelang SU (Sidang Umum) PBB," ujar Suriastawa dalam keterangannya, Minggu (20/9) kemarin.

TNI sadar KKB menyebarkan kabar bohong seolah-olah TNI-lah yang menembak Pendeta Yeremia. TNI mengatakan semua ini adalah konspirasi KKB untuk mencari perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Seperti yang telah saya sampaikan kemarin, mereka sedang mencari momen menarik perhatian di Sidang Umum PBB akhir bulan ini. Dan inilah yang saya khawatirkan, bahwa rangkaian kejadian beberapa hari ini adalah settingan mereka yang kemudian diputarbalikkan bahwa TNI menembak pendeta. Harapan mereka, kejadian ini jadi bahan di Sidang Umum PBB. Saya tegaskan, bahwa ini semua fitnah keji dari KKSB," kata Suriastawa.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar