Hadapi China, Taiwan Beli Rudal dari AS

Sabtu, 19/09/2020 17:30 WIB
Ilustrasi Rudal (Liputan6)

Ilustrasi Rudal (Liputan6)

Jakarta, law-justice.co - Taiwan menganggarkan belanja senjata ke Amerika Serikat (AS) dengan nilai sebesar USD 7 miliar. Saat ini, anggota Parlemen AS tengah membahas persetujuan permintaan pembelian senjata besar-besaran dari Taiwan.

"Kesepakatan itu akan memberi pulau otonom tidak hanya dengan senjata pertahanan, tetapi juga dengan kemampuan ofensif dalam bentuk rudal serangan jarak jauh dan drone tempur," ujar pejabat militer AS, dikutip dari Viva.co.id, Sabtu (19/9/2020).

Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan, kesepakatan itu mencakup drone MQ-9B Reaper dengan nilai USD 400 juta dan peralatan pendukung lainnya. Drone MQ-9B Reaper merupakan drone hasil pengembangan terbaru AS yang dilengkapi dengan Kontrol Teknologi Rudal.

Tidak hanya itu, selain drone Reaper canggih buatan AS, Taiwan juga berencana membeli rudal AGM-84H/K SLAM-ER. Rudal itu merupakan varian serangan darat jarak jauh dari rudal anti-kapal Harpoon.

"Senjata itu dapat ditembakkan dari luar jangkauan sistem pertahanan udara China, yang berarti senjata tersebut hampir pasti akan digunakan untuk menyerang sasaran di daratan China jika terjadi konflik," dikutip dari New York Times.

Kendati demikian, hingga saat ini Taiwan sendiri belum blak-blakan terkait dengan rencana pembelian senjata dari AS tersebut. Bahkan, sejumlah media Taiwan menyatakan, bahwa rencana itu masih merupakan spekulasi semata. Tapi, China sudah mencium rencana itu jauh-jauh hari sebelum kedatangan Keith Krach.

Beijing menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam dengan rencana AS untuk masuk ke negara tetangganya itu. Bahkan, China menyatakan secara terbuka bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan latihan militer di dekat selat Taiwan sebagai simbol bahwa Taiwan merupakan bagian dari integritas teritorial China dan AS tidak bisa masuk ke Taiwan dengan semena-mena.

"Kami sedang melakukan latihan militer di dekat Selat Taiwan, dengan alasan kebutuhan untuk menjaga kedaulatan dan integritas teritorial kami," kata otoritas China dikutip VIVA Militer dari Sputnik News, Jumat (18/9/2020).

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar