Oknum Dokter Pelaku Pelecehan di Bandara Soetta Diselidiki

Sabtu, 19/09/2020 15:29 WIB
Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang (Kompas)

Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang (Kompas)

Jakarta, law-justice.co - PT Kimia Farma Diagnostika berencana memproses hukum laporan masyarakat yang dilakukan oknum dokter pemeriksa rapid test terkait pemerasan dan pelecehan seksual kepada penumpang di Bandara Soekarno-Hatta.

Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadilah Bulqini mengatakan pihaknya telah menghubungi korban. Ia berjanji untuk segera memproses laporan.

"PT Kimia Farma Diagnostika akan membawa peristiwa ini ke ranah hukum atas tindakan oknum tersebut yang diduga melakukan pemalsuan dokumen hasil uji rapid test, pemerasan, tindakan asusila dan intimidasi," kata Adil dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/9/2020).

Adil menyampaikan pihaknya juga melakukan investigasi internal terkait kejadian tersebut. Mereka menggandeng PT Angkasa Pura II dalam investigasi itu.

Sementara, Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi mengatakan pihaknya akan membantu penyelesaian kasus ini semaksimal mungkin.

"Kami siap bekerja sama dengan seluruh pihak termasuk sudah berkoordinasi dengan Polres Bandara Soekarno-Hatta yang saat ini tengah melakukan penyelidikan mengenai hal ini," kata Agus.

Agus memastikan pihak bandara akan membuka seluruh informasi terkait kasus tersebut. Salah satunya dengan mengecek rekaman CCTV di lokasi kejadian.

Dia berkata pihaknya menyesalkan informasi soal pelecehan dan pemerasan penumpang tersebut. Agus berharap kejadian serupa tak terulang kembali.

"PT Angkasa Pura II sangat berharap hal ini tidak berulang kembali. Bersama-sama, PT Angkasa Pura II dan stakeholder harus menjaga reputasi Bandara Soekarno-Hatta," tutur Agus.

Sebelumnya, perempuan berinisial LHI mengaku mendapat pelecehan seksual dan pemerasan saat menjalani rapid test di Bandara Soetta. Kejadian itu berlangsung pada Minggu (13/9) saat LHI hendak terbang ke Nias.

Hasil rapid tes LHI reaktif. Padahal ia baru saja menjalani tes PCR dan hasilnya negatif. Seorang dokter berinisial EFY menawarkan jasa agar LHI tetap bisa terbang dengan membayar Rp150 ribu.

LHI mengaku sempat menolak, tapi sang dokter terus membujuk. Setelah menjalani rapid test, ia diminta membayar kembali Rp1,4 juta sebagai jasa karena telah ditolong sang dokter.

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar