Ingin Bangun Bandara di Atas Laut, Jokowi Juga Siapkan Pesawat Amfibi

Kamis, 17/09/2020 16:57 WIB
Ilustrasi bandara di atas laut (tribunnews)

Ilustrasi bandara di atas laut (tribunnews)

Jakarta, law-justice.co - Bandara perairan atau waterbase akan dibangun pemerintah untuk mendukung sektor pariwisata di Indonesia. Hal itu disebut sudah serius diupayakan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Untuk mendukung hal itu, di saat bersamaan pengembangan pesawat pendukungnya juga disiapkan, termasuk N219 versi amfibi, buatan Indonesia.

Bandara perairan belum begitu dikenal di Indonesia, ada beberapa bandar udara perairan yang merupakan bandar udara khusus yaitu bandar udara perairan milik Newmont (Aman Mineral) yang berlokasi di Benette Nusa Tanggara Barat (NTB), Bandar Udara Moyo di NTB, bandar udara Perairan di Pulau Bawah Anambas, dan Kahayan River di Kalimantan Tengah.

Melansir cnbcindonesia, ada 10 lokasi yang jadi studi Kemenhub untuk waterbase adalah daerah Danau Toba - Sumatera Utara, Pulau Senua - Kepulauan Riau, Pulau Gili Iyang, Sumenep - Jawa Timur dan Derawan, Berau - Kalimantan Timur.


Lalu ada Gili Trawangan, Lombok Utara - NTB, Labuan Bajo, Manggarai Barat - Nusa Tenggara Timur, Bunaken, Manado - Sulawesi Utara, Wakatobi - Sulawesi Tenggara, Pulau Widi, Halmahera Selatan - Maluku Utara, dan Raja Ampat - Papua Barat.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Novie Riyanto kembali mengulas rencana tersebut di sela Dialog Publik Hari Perhubungan Nasional bertajuk `Wujudkan Asa, Majukan Indonesia`.

"Kami mempunyai program untuk membangun 5 seaport. Nah seaport ini tentu saja akan kami optimalkan. Sebagai pilot project mulai 2020 sampai ke depan secata bertahap kita akan menghidupkan seaport," ujarnya, Kamis (17/9/20).

Keberadaan bandara di laut ini bakal dibarengi dengan upaya menggenjot produksi pesawat amfibi di dalam negeri. Sejauh ini, pengembangan pesawat amfibi tengah dilakukan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

"Termasuk syukur-syukur akan berkoordinasi pabrikan dan industri nasional seperti PTDI untuk N219. Kami harapkan untuk dorong juga siapa tahu kita bisa memproduksi secara nasional N219 yang versinya adalah versi amfibi," kata Novie.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengungkap sederet proyek infrastruktur yang saat ini jadi prioritas untuk dibangun. Salah satunya adalah 5 bandara perairan, yang bakal dibangun untuk mendukung pariwisata.

"Kita membangun 21 bandara baru. Kita membangun 10 bandara hub primer. Melakukan perbaikan 175 bandara, dan juga mengupayakan 5 lokasi bandara perairan untuk pariwisata perairan," kata Budi Karya Sumadi dalam sebuah webinar, Jumat (14/8/20).

Dalam kesempatan yang sama, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga sempat mengungkit adanya rencana pembangunan bandara perairan. Ini untuk mendukung pesawat udara yang dimanfaatkan sebagai sarana pariwisata.

"Kita juga ingin mengembangkan kapal-kapal seaplane ini untuk di daerah daerah yang banyak orang diving. Seperti Danau Toba, seperti Labuan Bajo, di Raja Ampat," tuturnya.

Ia menekankan bahwa proyek ini harus punya manfaat di dalam negeri. Komponen dalam negeri jadi perhatian serius agar berdampak positif bagi masyarakat.

"Ini kita coba pakai dalam negeri. Karena presiden perintahkan penggunaan APBN, penggunaan stimulus. Kita upayakan semua pakai lokal konten," tegasnya.

Adapun pada tahun 2020, PT Dirgantara Indonesia pernah menargetkan akan memproduksi 4 pesawat N219 dan dalam waktu 11 tahun bisa dihasilkan 532 unit pesawat. Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Elfien Goentoro menyebutkan bawah sebagai karya anak bangsa, N219 ini ditargetkan dapat menggunakan 60% komponen lokal.

Dalam wawancaranya, dia juga mengungkapkan bahwa proyek ini sekaligus bentuk upaya mewujudkan mimpi Presiden RI ke-3 BJ Habibie. Dia menegaskan, Habibie sejak dulu sudah bermimpi Indonesia bisa membuat pesawat dari anak bangsa sendiri dan juga bisa memproduksi hingga mengkomersialkan sendiri.

"Karena jujur saja selama sejarah PTDI ini ini belum terwujud. Harusnya sudah terwujud dengan N250 yang terhentikan sebelum TC selesai. Hari ini kita akan bisa melakukan terobosan dengan membuat N219 ini cita-cita Pak Habibie bisa terpenuhi sampai kita mengkomersialkan pesawat tersebut," ujarnya.

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar