Heryani Busono Wiwoho, Penyintas Tragedi 65:

Aku Tidak Dendam, Hukum Karma Ada di Dalam Kehidupan Ini

Selasa, 08/09/2020 10:40 WIB
Heryani Busono Wiwoho, dipenjara 13 tahun tanpa pengadilan (Facebook)

Heryani Busono Wiwoho, dipenjara 13 tahun tanpa pengadilan (Facebook)

law-justice.co - Tulisan ini mengisahkan tentang penyintas tragedi ‘65, Heryani Busono Wiwoho (77 tahun). Ia adalah dosen Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipenjara 13 tahun lamanya tanpa proses peradilan. Heryani menjadi saksi mata bagaimana sebuah sayap militer angkatan darat (RPKAD) menculik orang-orang yang dianggap Soekarnois dan mereka yang dituduh sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Semuanya bermula pada Oktober 1965, saat Heryani resmi ditahan militer di Detasemen Polisi Militer (DenPOM) Yogyakarta. Lokasi penahanannya terletak di jalan Gondolayu atau lebih dikenal sebagai perempatan Tugu Yogyakarta, yang sekarang menjadi pusat wisata Kota Gudeg.

Penahanan semena-mena itu dilakukan tanpa dasar hukum yang diputuskan secara sah di pengadilan. Kurang lebih seminggu, Heryani ditahan di DenPOM. Pihak militer melakukan interogasi mendalam terhadap dirinya. Kira-kira ada 20 buah pertanyaan yang diajukan, mulai dari nama, alamat, jenis kelamin, keluarga, pekerjaan, dan Ormas atau partai politik. Militer juga menanyakan aktivitas Heryani dalam berorganisasi. Salah satunya, ia dimintai pendapat tentang peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965.

Mengenai keanggotaan Ormas, Heryani saat itu mengaku anggota HSI (Himpunan Sarjana Indonesia). “Mengapa masuk HSI? Kenapa tidak masuk organisasi sarjana lainnya?” kata Heryani menirukan pertanyaan orang yang menginterogasinya.

Pada tahun 19965, belum ada organisasi sarjana selain HSI. HSI adalah organisasi sarjana yang pertama berdiri dan kemudian menyusul organisasi sarjana lainnya seperti ISRI (Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia).

Dalam sebuah pidato, presiden Soekarno mengatakan agar para sarjana jangan melempem, jangan hanya hidup di menara gading. Sumbangkan ilmumu untuk rakyat. Janganlah senantiasa berpikir "ilmu untuk ilmu", tetapi “ilmu untuk rakyat”. Apa gunanya punya ilmu tapi tidak diperuntukkan bagi kepentingan rakyat?

Heryani mengatakan, jiwanya merasa terpanggil dengan imbauan Bung Karno tersebut. Satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah dengan masuk organisasi. Sebab kalau berjuang seorang diri, percuma saja, tidak dapat terwujud, pikir Heryani saat itu.

Setelah diinterogasi, Heryani ditahan 13 tahun lamanya. Kemerdekaan Republik Indonesia yang baru sebentar ia rasakan, seolah-olah sirna. Ia harus mendekam dari penjara ke penjara dan mengembara dalam prahara.

Pengembaraan selanjutnya ialah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan yang berada di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta. Letaknya 50 meter dari pendopo Tamansiswa yang menjadi cikal bakal perjuangan Ki Hadjar Dewantara.

Heryani bersama tahanan lainnya diangkut menggunakan truk dari DenPOM ke LP Wirogunan. Sesampainya di sana, mereka disuruh masuk ke dalam bangunan tua yang dikelilingi tembok tinggi, dengan empat buah menara kecil untuk mengintai pada keempat sudutnya.

 “Kami diperiksa satu persatu, dan semua perhiasan termasuk jam tangan dan uang harus ditinggal di kantor. Kami lalu dibawa masuk setelah nama-nama dicatat dan sidik jari kami diambil petugas,” ujar Heryani.

Heryani ditempatkan di ruangan seluas kira-kira 4 x 7 meter dengan sebuah pintu dan dua jendela besar berjeruji besi yang tingginya dua meter dan lebar satu meter. Di sebelah Utara dan Selatan ruangan terdapat amben batu bersemen.

Di sisi bangunan sebelah Timur terdapat WC yang dikelilingi tembok setinggi 1,5 meter. Kalau malam hari ada yang terpaksa buang air besar, bisa dibayangkan baunya menyusuri setiap sudut ruangan. Heryani dan tahanan lainnya tidur berjajar di atas amben batu dengan beralaskan selembar tikar.

Saat makan, petugas menyediakan menu yang terdiri dari jagung grontol, sayur kubis hijau, ikan asin, dan sambal. Mula-mula jagungnya lumayan banyak untuk ukuran perempuan, tetapi lama kelamaan semakin berkurang sehingga tinggal kira-kira 25 biji. Sedangkan tempat makanannya jauh dari ukuran bersih. Apalagi tempat sambalnya, yang ditaruh di sebuah ember kecil yang kumuh. Piringnya terbuat dari aluminium yang jelek dengan cangkir aluminium yang ada pegangannya dari kawat.

Suatu pagi para tahanan diberitahu ibu-ibu petugas bahwa akan ada pemeriksaan oleh pasukan RPKAD sehingga harus segera merapikan kamar. Tidak lama kemudian masuklah serombongan tentara memakai baret merah lengkap dengan senjata mereka.

Para tentara itu masuk ke kamar dan mengobrak-abrik barang-barang tahanan. Setelah mondar-mandir beberapa saat, para tentara itu meninggalkan sel. Sesaat sebelum keluar, tiba-tiba salah seorang tentara berhenti dan menoleh kepada gadis hitam manis yang berdiri di dekat pintu. Tentara tersebut mengeluarkan kalimat melecehkan.

“Hei, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) Lubang Buaya”, ujarnya dengan suara menyentak. “Berapa kali kamu dimakan AURI (sekarang TNI AU) dalam sehari?".

“Tiga kali, Pak, pagi, siang, dan malam,” jawabnya gemetar tapi keras.

Heryani dan ibu-ibu lainnya hampir tak dapat menahan tawa. Mereka geli karena lain yang ditanya, lain pula yang dijawab. Gadis itu mengira, berapa kali dia diberi makan oleh AURI. Tanpa disangka-sangka tentara itu menendang kedua kaki gadis tadi dengan sepatunya yang keras.

“Ampun Pak, ampun Pak“, teriak si gadis.

Heryani menahan nafas seketika, tidak jadi geli melihat adegan tersebut. Demikian juga halnya dengan ibu-ibu lainnya, yang semula ingin tersenyum, menjadi kecut wajahnya.

Setiap hari jumlah para tahanan makin bertambah. Tiap saat ada saja yang ditangkap dan dibawa ke LP Wirogunan. Tahanan-tahanan yang berada di Benteng Vredenburg kemudian juga dipindahkan ke sana. Benteng Vredenburg terletak di depan Gedung Agung, di pojok simpang empat yang menuju ke Kraton. Sekarang benteng itu dijadikan museum yang terkenal dengan Kawasan 0 Kilometer.

Bulan Februari 1966 para tahanan pria terutama para mahasiswa dan anak-anak muda lainnya dipindahkan ke Nusa Kambangan. Para tahanan perempuan hanya mendengar deru mesin-mesin truk yang datang dan pergi membawa mereka keluar dari LP Wirogunan.

Bulan April 1966, beberapa nama dipanggil termasuk Heryani. Ada sekitar 50 orang yang dipanggil dan mereka harus mempersiapkan diri karena akan dipindahkan. Pihak keluarga harus mengirimkan sebuah tikar dan sebuah bantal. Tidak terasa, sudah 6 bulan lamanya ia mendekam lembaga pemasyarakatan.

Mereka kemudian diangkut menggunakan truk dengan terpal warna hijau. Truk tersebut berjalan menyusuri jalanan kota Yogya untuk kemudian berhenti di kantor DenPOM di perempatan Tugu Yogyakarta. Selang beberapa saat, truk kembali melaju ke Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tahanan Bastion di Komplek Benteng Pendem

Akhirnya mereka tiba di Kecamatan Ambarawa setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Masing-masing dari mereka turun satu-persatu dari truk. Kemudian masuk ke halaman bangunan besar kuno bertingkat dikelilingi kawat pagar berduri. Mirip rumah drakula seperti dalam film-film.

Keesokan harinya para tahanan yang lebih dahulu tiba memberi tahu bahwa Heryani dan kawan-kawannya dari Yogya akan menempati penjara tua yang disebut Bastion, salah satu tempat di kompleks Benteng Pendem. Para tahanan perempuan ini berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah seperti Semarang, Salatiga, Beringin, Kopeng, Bandungan, Ambarawa, Demak, Kudus, Pati, Rembang, Kendal, Kaliwungu, Solo, Tawangmangu, Karanganyar, Pemalang, Pekalongan, Cilacap, Purwokerto, dan Purbalingga.

Bastion yang berarti benteng pertahanan ini didirikan oleh Belanda pada tahun 1830, setelah Perang Diponegoro (1825-1830). Bastion letaknya menghadap ke Barat Laut dan benteng induknya menghadap ke utara, memanjang dari Timur ke Barat.

Benteng tua ini menjadi tempat tahanan poltik (Tapol) pria yang sebagian besar adalah militer yang jumlahnya berkisar antara 400-500 orang. Para Tapol militer itu berasal dari Jawa Tengah, yaitu Yon K, Yon L, Yon D, Yon C lengkap dengan komandannya.

Selain itu ada Armed atau Artileri Medan; Brigif V; kemudian pasukan dari Salatiga. Ada pasukan yang baru saja kembali dari Kalimantan Utara. Begitu sampai di rumah mereka langsung ditangkap dan dibawa ke Ambarawa. Beberapa mahasiswa AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Militer Indonesia) juga ditahan dengan tuduhan bahwa semasa mereka di SMA, mereka ikut dalam organisasi IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia).

Sebelum Heryani datang, jumlah Tapol di Benteng Pendem kira-kira 2.000-an orang. Kemudian ada yang dipindahkan. Konon banyak yang dibunuh, sehingga tinggal sekitar 500 orang.

Selama berada di Ambarawa, Heryani mengaku pernah satu kali diinterogasi oleh tim jaksa yang terdiri dari lima orang dan diketuai oleh jaksa Jayusman. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak jauh berbeda. Sama dengan pertanyaan-pertanyaan sewaktu diinterogasi di Yogya tahun 1965.

Bedanya, sekarang ada pertanyaan tambahan, “Apa Anda merasa dendam diperlakukan seperti ini?” Heryani berpikir, mungkin ini tanda-tanda ketakutan aparat, mengingat perilaku mereka yang begitu bengis, sadis, dan tidak berperikemanusiaan. “Mungkin mereka dibayangi rasa ketakutan,” ujar Heryani.

Suatu hari, petugas datang dan memanggil 17 nama termasuk Heryani. Mereka harus berkemas dan berkumpul di lapangan tidak jauh dari klinik kesehatan dan diangkut truk tertutup meninggalkan Bastion, Ambarawa. Tak terasa, Heryani telah hidup di Bastion Benteng Pendem selama dua tahun sejak 1966 sampai 1968.

LP Perempuan Bulu

Truk terus meluncur, melewati Ungaran, Gombel, kemudian belok kiri, terus lagi dan akhirnya berhenti di depan LP Perempuan "Bulu" di jalan Siliwangi, Semarang, Jawa Tengah. Para tahanan 17 orang tersebut semuanya turun dan kembali harus memenuhi peraturan-peraturan penjara.

Kondisi LP Bulu, seperti juga di LP Wirogunan, semua pintu tertutup rapat dan dikelilingi tembok-tembok tinggi. Heryani menempati sebuah sel yang luasnya 2 x 2 meter, dengan sebuah amben kayu yang menempel di kedua sisi tembok. Pintu sel adalah sebuah pintu besi berjeruji, ditutupi pintu kayu yang tidak saling terkait.

Di muka sel ada sebidang tanah seluas 2x2,5 meter yang kemudian menjadi tanah garapan Heryani. Setelah dipaculi, di tanah kecil itu Heryani menanam bayam, sawi, tales padi, cabai, dan tomat.

Kemudian pada tahun 1968 terjadi penangkapan-penangkapan lagi. Beberapa orang ibu dan gadis-gadis dimasukkan ke LP Bulu. Mereka berasal dari Semarang, Kendal, Salatiga, Purwodadi dan Klaten. Mendengar pengalaman mereka selama disiksa, hati Heryani menangis. Siksaan terhadap mereka sungguh lebih kejam dari pada pengalaman ibu-ibu di tahun 1965 yang sudah cukup kejam.

Salah satu yang mendapatkan prilaku kejam dialami oleh Ibu Niek yang profesinya sebagai bidan. Ia dipukuli, ditelanjangi dan disetrum seluruh tubuhnya. Ibu Niek ditempatkan di sel sebelah kiri, berjejer dengan sel Heryani. Heryani dapat melihat dengan jelas, kedua mata Ibu Niek merah seperti mengalami pendarahan. Kuku-kukunya membiru dan kulit tubuhnya kering. Gadis-gadis lainnya pun mengalami siksaan yang sama.

Menjelang akhir tahun 1970 semakin banyak tahanan yang masuk ke LP Bulu. Ada beberapa yang dibebaskan dan sekitar 150 orang akan dipindahkan kira-kira pada awal tahun 1971. Heryani termasuk yang dipindahkan. Tak terasa, dia telah hidup di LP Bulu sekitar 3 tahun.

Taman Bunga Plantungan

Heryani dipindahkan ke Plantungan, menempati bekas Rumah Sakit Lepra. Plantungan terletak di daerah Sukoharjo, kabupaten Kendal, kira-kira 90 km dari Kota Semarang.

Rumah Sakit Lepra yang terletak di daerah pegunungan, dibangun pada tahun 1871. Ketika mereka datang, bangunan itu berumur tepat satu abad. Kompleks RS Lepra belum selesai diperbaiki, masih dalam tahap pengecatan. Untuk sampai ke sana, mereka harus melewati sebuah jembatan gantung yang sungainya berarus deras. Ada lima buah bangsal yang masing-masing luasnya kira-kira 140 meter persegi, yaitu blok A, B, C, D, E dan F.

Tak lama kemudian datang tapol-tapol dari Jakarta berjumlah sekitar 30 orang. Mereka sebelumnya ditempatkan di penjara perempuan Bukit Duri. Kemudian disusul Tapol dari Bandung, mereka ditahan di daerah masing-masing seperti Tasikmalaya, Ciamis, dan Sukabumi. Mereka berjumlah sekitar 70 orang dan sudah tua-tua, rata-rata usia 60-70 tahun.

Kurang lebih lima tahun Heryani dan kawan-kawannya tinggal di Pelantungan, tiga orang teman mereka meninggal karena kanker. Seorang asal Surabaya, bu Tomo, kena kanker kandungan. Berikutnya ibu Titah mantan pegawai Lembaga Pemasyarakatan Cilacap terkena kanker Payudara. Kemudian seorang lagi, ibu Hadi, yang usianya mendekati 60 tahun asal Purwokerto, juga mengidap kanker payudara.

Heryani sempat dipindahkan lagi ke LP Perempuan Bulu. Selang kurang lebih dua tahun, akhirnya tiba gilirannya untuk dibebaskan pada 26 Juli 1978. Heryani diberi surat pembebasan yang isinya antara lain menyatakan bahwa, sampai saat ini berdasarkan bukti-bukti menurut hukum, belum dapat diyakinkan bahwa dia terlibat dalam peristiwa G30S.

Kisah Heryani merupakan nestapa di Indonesia, dipenjara 13 tahun lamanya tanpa suatu proses hukum. Kebebasan, kemerdekaan hidup, dan bahkan pekerjaannya sebagai dosen UGM direnggut tanpa ada proses pemulihan nama baik.

Paska menghirup udara bebas, kemerdekaan Heryani sebagai manusia masih dihantui bayang-bayang militer. Bagaimana tidak, ia masih harus wajib lapor ke Koramil TNI AD. Selain itu, hari-harinya masih terus diawasi oleh intel.

“Aku tidak memiliki rasa dendam kepada mereka. Kalau aku dendam, maka aku sama seperti mereka. Aku hanya percaya bahwa hukum karma itu ada dalam kehidupan ini,” pungkas Heryani menutup cerita.

Laporan: Hartanto Ardi Saputra

(Januardi Husin\Reko Alum)

Share:



Berita Terkait

Komentar