Polling Ust Tengku: Puan-Gibran Kalah Telak Lawan HRS-UAS di 2024

Minggu, 16/08/2020 08:52 WIB
Polling Ust Tengku: Puan-Gibran Kalah Telak Lawan HRS-UAS di 2024. (twitter).

Polling Ust Tengku: Puan-Gibran Kalah Telak Lawan HRS-UAS di 2024. (twitter).

Jakarta, law-justice.co - Meski pemilihan Presiden dan wakil presiden masih akan berlangsung beberapa tahun lagi: 2024, akan tetapi geliat persiapan menuju ke sana sudah terasa dari sekarang.

Banyak polling dibuat, baik oleh organisasi maupun individu, untuk memotret kira-kira siapa kandidat yang punya peluang besar, juga membaca seperti apa perilaku publik.

Salah satu polling dibuat oleh Wakil Sekretaris Jenderal, Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain.

Lewat akun twitter pribadinya, dia memasangkan Habib Rizieq Shihab - Ustaz Abdul Somad melawan Puan Maharani - Gibran Rakabuming Raka.

"Andaikata Pilpres tahun 2024 digelar. Dan calon pasangannya haad to head antara Habib Riziq dgn Ustadz Abdul Shomad melawan Puan Maharani dgn Gibran kira kira anda pilih mana? Mari kita polling. Monggo..." ungkapnya di twitter.

Hasil polling sementara waktu dari timeline Twitter @ustadtengkuzul menunjukkan mayoritas netizen memilih pasangan Habib Rizieq Shihab - UAS.

Mereka mendapat dukungan 77,7 persen. Sedangkan duet Puan - Gibran hanya dapat 7,7 persen atau lebih rendah dari golput yang mencapai dua kali lipatnya: 14,5 persen dari sekitar 12.740 suara pemilih.

 

Ustaz Tengku kemudian membeberkan apa sesungguhnya motivasi dan tujuan menyelenggarakan polling serta kenapa memasangkan tokoh agama dengan tokoh nasionalis.

Dia mengatakan, bahawa hanya ingin mengetahui bagaimana kedudukan tokoh agamis dibandingkan tokoh nasionalis di mata rakyat Indonesia sekarang ini.

Pasalnya kata dia, tidak bisa dipungkiri bahwa pertarungan antara kelompok agamis yang dipelopori Hasyim Asy`ari saat menjadi pioner mendirikan Partai Masyumi pada 9 September 1945 dengan kelompok nasionalis pimpinan Bung Karno lewat PNI. Di tahun 1955, hasil pemilu imbang. Sama-sama dapat 58 kursi konstituante.

Tetapi semenjak Presiden Soeharto sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kata Tengku, praktis dikuasai pihak nasionalis sekuler, kalau mungkin Gus Dur dianggap pemimpin agamis.

"Pada pemilu 2024 nanti saya mau tahu apakah pemimpin kelompok agamis akan lebih berpengaruh dan disukai rakyat dibandingkan pemimpin dari kelompok nasionalis sekuler yang dianggap tidak cinta dengan agama? Mari kita lihat bersama," kata Tengku seperti melansir suara.com.

Mengapa Tengku memasangkan Puan dan Gibran?

"Gaya-gayanya kelompok nasionalis dari PDIP ingin memajukan Puan Maharani, setidaknya saat masih dipimpin Ibu Mega. Sementara Pak Jokowi sudah kelihatan mau menaikkan anaknya jadi wali kota Solo. Sebuah persiapan kaderisasi jadi penguasa juga?" katanya.

"Lawannya ya tidak usah tanggung-tanggung. Dari kelompok agamis HRS dan UAS yang jelas dikenal luas, dicap sebagai oposisi... Kalau tokoh-tokoh dari NU, misalnya, kan bukan oposisi..." Tengku menambahkan.

Menurut Tengku soal besar kecilnya peluang Habib Rizieq Shihab - UAS bisa diusung ke bursa pemilu presiden tergantung keadaan.

Jika batas minimal untuk mencalonkan dari partai dinolkan, bukan mustahil kedua akan diajukan salah satu partai Islami. Cuma saja apa berani penguasa dan partai penguasa mengnolkan batas minimal itu?" kata dia.

Besaran presidential threshold atau syarat partai bisa mengusung calon saat ini 20 persen atau 25 persen total suara di DPR atau suara sah nasional.

Tak perlu dinolkan, menurut Tengku, batas minumum mencalonkan diturunkan jadi delapan persen saja, kemungkinan calon dari kelompok agamis akan muncul.

"Dan Gus Dur pernah menang dari kelompok agamis, bukan? Mengalahkan Ibu Megawati dari kelompok nasionalis sekuler. Padahal PDIP saat itu memenangkan pemilu tahun 1999," katanya.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar