Kesal Dipecat dari Komisaris BUMN, Relawan Jokowi Merasa Dibuang

Kamis, 13/08/2020 08:54 WIB
Kesal Dipecat dari Komisaris BUMN, Relawan Jokowi Merasa Dibuang. (wartakota).

Kesal Dipecat dari Komisaris BUMN, Relawan Jokowi Merasa Dibuang. (wartakota).

Jakarta, law-justice.co - Sebanyak 42 orang relawan Jokowi dikabarkan tersingkir dari jabatan komisaris di BUMN.

Oleh karena itu menurut Koordinator Relawan Bersatu Jaga Jokowi (RBJJ), Aidil Fitri, pihaknya merasa terbuang usai mendukung Joko Widodo kembali menjabat sebagai Presiden.

"42 relawan dipecat dari posisi komisaris di BUMN, termasuk anak dan cucu BUMN. Saya sendiri enggak respek pada membuang relawan, kan? Nah, bagaimana pun kawan-kawan itu kan berjuang juga gitu lho," katanya seperti melansir wartakotatribunnews.

Meski begitu dia enggan membeberkan nama-nama 42 relawan Jokowi yang disingkirkan dari jabatannya di BUMN. Dia menilai mereka masih berkompetisi.

"Padahal secara kinerja dan profesionalitas tidak ada persoalan, dan itu bisa dilihat dari evaluasi di masing-masing perusahaan. Kita seperti kehilangan induk hari ini. Itu yang terjadi hari ini," sambungnya.

Dia berharap segera ada perubahan terkait keputusan ini. Pasalnya menurut dia, relawan berhak berperan di dalam pemerintahan.

"Temen-temen yang berkompeten mampu banyak juga, tinggal diseleksi aja. Seperti kami itu ada ratusan organ relawan gabungan, itu kan banyak orang-orang pinter di sana kan," tuturnya.

Sebagai informasi, Relawan Bersatu Jaga Jokowi (RBJJ) yang terdiri dari 50 organisasi relawan, mendorong perombakan kabinet segera dilakukan.

Kemarahan Presiden Jokowi akibat tidak puas dengan kinerja menterinya dinilai percuma tanpa adanya perubahan komposisi kabinet.

"Pak Jokowi marah sudah empat kali. Marah tak mengubah."

"Jadi kita minta beliau bersikap tegas aja, kalau mau reshuffle ya reshuffle," ujar Koordinator RBJJ Aidil Fitri dalam jumpa pers di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2020).

Sebab, kata dia, reshuffle kabinet adalah hak prerogatif Presiden.

"Ternyata empat kali marah tapi tidak juga ada perubahan, kabinetnya berjalan begitu saja," katanya.

Dia mengatakan, relawan melihat tidak semua pembantu Presiden, terutama di bidang ekonomi, mampu memberikan yang terbaik dan menunjukkan kinerja yang diharapkan.

Bahkan, lanjut dia, ada yang jelas justru memperburuk situasi.

"Hal ini yang kami lihat terjadi di Kementerian Badan Usaha Milik Negara."

"Dengan aset Rp 8.000 triliun seharusnya BUMN menjadi penopang utama dan faktor penting untuk bisa ikut memutar roda perekonomian negara," tuturnya.

Dia melanjutkan, dari BUMN induk, anak, dan cucu, total 1.200 BUMN dengan tidak kurang 7.200 direksi dan komisaris.

Dia membeberkan ada BUMN pertanian, perkebunan, pangan, gula, persenjataan, transportasi, perbankan, pariwisata, industri, kereta api, produksi garam, hingga kondom.

Dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang, lanjutnya, ketika pertumbuhan ekonomi anjlok menjadi minus 5,32, menjadi bukti BUMN tak mampu menjadi benteng ekonomi yang kuat.

"Di sisi lain, kenyataan yang kita dalam dua bulan terakhir ini, BUMN justru menjadi kementerian paling gaduh," imbuhnya.

Viralnya pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir terkait keengganannya menjadi relawan uji coba vaksin, dinilai hanya satu dari sederet blunder dan gaduh yang terjadi dua bulan terakhir ini.

"Mulai dari pertentangan soal data utang kementerian, penempatan TNI/Polri aktif, rangkap jabatan direksi dan komisaris BUMN, logo baru BUMN di tengah Pandemi."

"Video deklarasi Capres 2024, kasus Denny Siregar, polemik seputar transparansi rekrutmen 6.000-7.200 orang direksi dan komisaris BUMN."

"Hingga istilah titipan yang digemborkan Erick Thohir ke media," paparnya.

Dia mengatakan, semua itu hanya menimbulkan gaduh yang tak perlu terjadi, kalau Erick Thohir mampu mengambil keputusan dan pernyataan yang tidak menyinggung dan melanggar norma hukum serta rasa keadilan publik.

"Pada akhirnya gaduh itu juga tidak mampu memberikan jalan keluar atas PHK massal yang terjadi sejak Februari hingga Juli 2020 di 10 BUMN dan menimpa 3425 karyawan BUMN," bebernya.

Dia mengatakan, Erick Thohir adalah contoh menteri yang gagal menjalankan amanah, visi dan misi Presiden Jokowi.

Padahal, kata dia, Presiden Jokowi dalam pidato kemarahannya beberapa waktu lalu menekankan sense of crisis dan kecepatan respons dari para menteri dalam menghadapi situasi ini.

Erick Thohir dianggap sebagai menteri gimmick yang selalu heboh dan gaduh di setiap langkahnya.

"Relawan minta Pak Jokowi segera mengganti Erick Thohir dari kursi Menteri BUMN."

"Kekecewaan relawan sudah terakumulasi, kok bisa ya para pendukung capres lain dengan mudah masuk dengan alasan kompetensi? Sementara relawan Jokowi terbuang," cetusnya.

Pimpinan organisasi yang tergabung dalam Relawan Bersatu Jaga Jokowi (RBJJ) adalah:

1. Aidil Fitri FOREDER
2. Sudung PIB
3. Johnny Kurniawan GRI
3. Sisrie Srikandi WLJ
4. Andre Parasut
5. Lendry GemarJokowi
6. Abah Agus RJN
7. Raja Gerima
8. Edo Panjaitan Perisai
9. Anne LBP
10. Uki BMP
11. Steven Samuel Lee Lahengko TGJ
12. Benni Iskandar Forkom Jkw2P
13. Ernest Gaman
14. Ardiansyah Tanjung Juara Indonesia
15. Yeni Vera rika LPJ
16. Danny mawengkang Kawanua JKT
17. Kurniasari Ambar BRIB
18. Andi Junianto Barus FKPPPN
19. Indro Tjahjono GETAR
20. Iskandar Merdeka
21. Putri Kecebong NKRI
22. Tenor Gemantara
23. Suryadi FIH
24. Dedy dhukun BJN (Bajunegri Nusantara)
25. Asnawi BMD
26. Hajirin Siregar RLAPD
27. Yuni Sri Rejeki RNN
28. Suliman RKM
29. Rumondang GNC
30. Djonly CBI( Cahaya Biru Indonesia)
31. Kristin IPAB
32. Saut Sinaga Ramijo
33. Yayak Priasmoro Garnas Indonesia
34. Dewisari SJN
35. HHG 007
36. Fery Indik Indik Jokowi
37. Haeruddin GMKB
38. Wiwiek Dwima LGO
39. Melova cantiq IHI MJ
40. Zahara Sari Tanjung SBA (Srikandi Bejo Akmal)
41. Makmur Idrus SHC (Sultan Hasanuddin Center Makassar)
42. Ika RJ2P
43. Yardin Zulkarnain Respon Indonesia
44. Jeng Farida KMCKnB
45. Anton Solinusa
46. Hamzah Basatu (FK-Kaltim)
47. Isdalina Pelita Hati Rakyat
48. Lenny Herline RNJ
49. Jojo Suryono RJI
50. Lukman LST.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar