Warganet Sindir Prabowo dengan Label `Pak Timbul`

Senin, 10/08/2020 04:01 WIB
Prabowo Subianto Ketum Gerindra (breakingnews.co.id)

Prabowo Subianto Ketum Gerindra (breakingnews.co.id)

Jakarta, law-justice.co - Media sosial Twitter diramaikan dengan cuitan `Pak Timbul. Cuitan dari warganet itu merujuk pada sosok Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang kembali maju sebagai capres di Pilpres 2024 usai digelar Kongres Luar Biasa (KLB).

Kata-kata `Pak Timbul` itu juga merujuk pada pernyataan yang pernah dilontarkan Prabowo saat Pilpres 2019. Yakni timbul tenggelam bersama rakyat.

Seperti pemilik akun @HAF_IDZ_P mengomentari unggahan Dahnil Anzar Simanjutak tentang terpilihnya kembali Prabowo sebagai Ketum Gerindra.

"Tuyul peradaban nyata adanya. bungkam 1000 bahasa. pintar memainkan kata2 menjual Slogan kemiskinan. dan kemakmuran. kata2 bijak untuk menutupi kotor nya sebuah permainan. Salam selamat dan sukses pak timbul.." tulisnya.

Sementara, akun @Facenonmoon menanggapi cuitan Wakil Ketua Dewan Syuro PKS Hidayat Nur Wahid yang bercuit soal TKA China.

"Sepertinya prediksi pak Timbul bahwa 2030 negri ini akan hilang alias ganti pemilik bisa jadi kenyataan, bahkan mungkin sebelum 2030. Apalagi sekarang pak Timbul sudah ikut Tenggelam di dasar kolam butek bersama kenangan2 : prediksinya, gebrak2 podiumnya dan surat wasiatnnya," kata akun @Facenonmoon.

Atau akun @WarimanDjatmiko yang jelas-jelas menuliskan angka ’02’ yang merujuk pada pasangan Prabowo-Sandi di pilpres lalu.

"Dulu di kubu 02 sering banget ada yg dituduh abu2, pengkhianat. Tidak cuma itu, di dalam isinya saling tuding siapa penyusupnya eh pas Pilpres 2019 selesai, ternyata dibuka semua, justru yang pengkhianat itu pak TImbul Sugianto sialan lo, untung dah dikebiri di TImtim," tulis akun @WarimanDjatmiko.

Kendati demikian, partai berlambang Burung Garuda itu tak mau ambil pusing dengan cuitan yang tengah viral di media sosial `Pak Timbul`.

"Kami anggap itu lucu-lucuan saja dan santai saja, enggak baper," ujar juru bicara Partai Gerindra, Habiburrokhman, dikutip dari Pojoksatu.id, Senin (10/8/2020).

Menurutnya, saat ini sudah tidak ada kubu-kubuan yang sebelumnya sempat terjadi pada Pilpres 2019. Tak ada istilah cebong atau pendukung pemerintah maupun kampret sebagai pihak oposisi.

Saat ini, Komisi III DPR RI ini menambahkan, pihaknya mendorong persatuan nasional mengingat tantangan bangsa ke depan semakin berat. Ia juga meminta masyarakat untuk menjaga kesatuan bangsa, dan tidak merusak persatuan karena iklim politik masa lalu.

Ia pun menuturkan, keterbelahan bangsa akibat pilihan politik itu harus diakhiri karena semua bisa dicari solusinya.

"Enggak ada waktu lagi bagi kita untuk terus bertikai, seluruh bangsa di dunia juga begitu. Harus kompak untuk keluar dari jurang kesulitan," kata Habiburokhman.

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar