Ngeri! Kantor Kementerian Luar Negeri Lebanon Diambil Alih Demonstran

Minggu, 09/08/2020 00:56 WIB
Ilustrasi demonstrasi (ZonaSultra.com)

Ilustrasi demonstrasi (ZonaSultra.com)

Jakarta, law-justice.co - Sekelompok pengunjuk rasa yang dipimpin para purnawirawan Tentara Lebanon menyerbu Gedung Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Kota Beirut, Lebanon. Massa demonstran pun menyatakan kantor milik pemerintah itu sebagai "markas besar revolusi". Pengambilalihan paksa Kantor Kemenlu Lebanon itu disiarkan langsung di TV lokal.

Aksi itu bisa terjadi karena sebagian besar perhatian aparat keamanan terfokus pada demonstrasi lain yang juga berlangsung tegang di jalan kota itu.

Massa pengunjuk rasa di jalan itu melampiaskan amarah mereka kepada elite politik yang mereka anggap bertanggung jawab atas ledakan dahsyat dan mematikan di ibu kota Lebanon itu, Selasa (4/8/2020). Mereka juga memasang tiang gantungan di lapangan utama sejak Jumat (7/8/2020) kemarin.

Tiang gantungan itu sebagai simbol tuntutan agar para pejabat yang dinilai bertanggung jawab dalam ledakan Beirut beberapa hari lalu segera diadili dan dihukum.

"Ada kebencian dan ada darah antara kami dan pemerintah kami. Rakyat ingin membalas dendam," kata seorang pengunjuk rasa, Najib Farah (35), kepada AFP, yang dilansir dari iNews.id, Sabtu (8/8/2020).

Di jalan menuju Gedung Parlemen Lebanon, para pemuda melemparkan batu ke arah aparat keamanan. Petugas yang berjaga di sekitar gedung itu pun membalasnya dengan menembakkan gas air mata.

Beberapa dari massa pengunjuk rasa tampak membawa potret korban ledakan Beirut dan spanduk bertuliskan nama-nama korban bencana tersebut. Mereka menyalahkan ledakan besar Selasa lalu pada para pemimpin—yang menurut mereka pantas mendapatkan ganjaran s“Pemerintahku membunuh rakyat,” demikian bunyi salah satu tulisan pada alat peraga yang dibawa peserta aksi unjuk rasa.

“Kamu korup, kamu penjahat,” bunyi tulisan lain yang ditujukan kepada para penguasa di Lebanon.

“Sekarang ada peluang untuk perubahan nyata, tidak seperti demonstrasi lainnya sejak Oktober,” kata Farah.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan, sedikitnya 158 orang tewas akibat ledakan Beirut pada Selasa (4/8/2020). Selain itu, diperkirakan 6.000 orang terluka dan sedikitnya 21 orang hilang dalam bencana besar itu.

Pejabat setempat juga memperkirakan, ada 300.000 warga yang kehilangan rumah atau tempat tinggal akibat ledakan Beirut.

 

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar