Mantan Anggota Komite Etik FIFA: PSSI Dirundung Kesedihan

Sabtu, 01/08/2020 22:11 WIB
Gedung kantor PSSI di Stadion GBK (Foto:Denny Hardimansyah/Law-Justice)

Gedung kantor PSSI di Stadion GBK (Foto:Denny Hardimansyah/Law-Justice)

Jakarta, law-justice.co - Mantan anggota Komite Etik FIFA asal Indonesia, Dali Tahir mengatakan di dalam sepakbola, pembentukan Satuan Tugas Timnas Indonesia itu tidaklah ada. Selain itu, posisi dalam anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI merangkap sebagai Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Jenderal pun sebuah pelanggaran.

"Sedih saya melihat PSSI. Pengangkatan Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi itu saja sudah melanggar statuta FIFA/PSSI. Belum lagi adanya pembentukan Satgas Timnas Indonesia yang tidak dikenal dalam sepakbola," ujar Dali, dilansir dari Viva.co.id, Sabtu (1/8/2020).

Yunus Nusi adalah salah satu anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI periode 2019-2023. Kemudian dia ditunjuk sebagai Plt Sekjen PSSI menggantikan Ratu Tisha Destria yang mengundurkan diri.

Menunjuk anggota Exco sebagai Plt Sekjen PSSI adalah sebuah pelenggaran statuta. Itu ibarat mencoreng wajah PSSI sendiri. Apalagi statuta itu merupakan adopsi dari milik FIFA.

Dali mengingatkan kepada ketua umum PSSI, Mochamad Iriawan untuk mengakhiri semua pelanggaran ini. Jangan sampai malah pria yang akrab disapa Iwan Bule itu menjerumuskan PSSI ke sanksi FIFA.

ia menambahkan beberapa hari lalu Iriawan menegaskan bakal terus mempercayai Yunus menjadi Plt Sekjen PSSI, setidaknya hingga Piala Dunia U-20 2021 usai.

"Pelanggaran statuta FIFA/PSSI itu jangan dianggap sepele. Itu bisa berbahaya bagi PSSI pimpinan Iwan Bule. Perlu dicatat bahwa FIFA itu memiliki sikap zero tolerance," katanya.

"Bisa sampai di banned atau dilarang ikut dalam kompetisi resmi FIFA dan juga berpengaruh terhadap penyelenggaan tuan rumah Piala Dunia U-20 2021," tambahnya.

Dali mengatakan, dirinya adalah salah satu perumus statuta PSSI guna diharmonisasi dengan milik FIFA. Butuh waktu panjang untuk menyelesaikan semuanya, dan itu penting untuk ditaati.

"Harus selalu kita pahami bahwa penguasa tunggal sepakbola dunia adalah FIFA. Apalagi, banyak manfaat yang dinikmati anggota FIFA , dari kursus ke pelatihan: wasit, inspektur pertandingan, kepelatihan organisasi dan juga bantuan finansial yang rutin," kata Dali.

Yang membuat Dali semakin miris, hampir semua Exco PSSI sekarang ini seolah tak memahami isi statuta. Buktinya mereka diam saja ketika ada pelanggaran yang terjadi.

"Saat ini terlalu banyak hal yang Exco PSSI yang gagal faham tentang statuta FIFA/PSSI. Salah satunya adalah menempatkan anggota Exco untuk menjabat sebagai Plt Sekjen PSSI. Ini conflict of interest dan tidak dibenarkan karena fungsi Exco hanyalah pemutus kebijakan," ujarnya.

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar