Politik Dinasti di Pilkada Kediri, Anak Pramono Anung: Itu Takdir Saya

Sabtu, 01/08/2020 21:31 WIB
Hanindhito Himawan Pramono

Hanindhito Himawan Pramono

Jakarta, law-justice.co - Anak Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, yang maju sebagai bakal calon Bupati Kabupaten Kediri, Hanindhito Himawan Pramono, menyebut dirinya tetap berdarah-darah untuk maju sebagai kepala daerah meski mendapat karpet merah karena nama ayahnya. Pernyataan itu dijawab Dhito soal tudingan politik dinasti yang mengarah padanya.

"Dinasti politik itu adalah hal, sebuah hal yang menjadi takdir saya," ujar Dhito, saat dikutip dari Suara.com, Sabtu (1/8/2020).

Menurut Dhito, menjadi seorang anak pejabat publik serba dilematis. Jika dirinya berbuat salah, maka masyarakat akan ramai-ramai mencibirnya. Demikian pula bila berniat berbuat baik, pasti ada yang curiga.

"Kalau saya berbuat baik dan melakukan hal yang benar, orang juga akan hanya mengatakan `ya jelas saja kamu melakukan itu, karena kamu adalah anaknya seorang Pramono Anung`," katanya.

Suara-suara sumbang yang mencibirnya, kata Dhito, tak lagi diharaukan untuk tetap maju di Pilkada Kabupaten Kediri. Dhito mengaku hanya ingin membangun daerah asal ayahnya itu.

"Jadi saya tidak terlalu menghiraukan itu (tudingan politik dinasti). Saya lebih fokus turun ke bawah menyerap aspirasi dan berdiskusi bersama masyarakat," jelasnya.

Sementara, pengamat politik Universitas Brawijaya, Tri Hendra Wahyudi menjelaskan dinasti politik bisa bisa dilihat dari dua sudut. Pertama dinasti politik yang ditopang kapabilitas, kedua dinasti politik berdasarkan trah.

Jika dinasti politik itu ditopang kapabilitas, lanjut Hendra, maka tak masalah apabila yang bersangkutan maju di Pilkada. Namun bila dinasti politik itu hanya berdasarkan trah, hal itu yang menjadi masalah.

"Nah, di Indonesia celakanya dinasti politik itu biasanya tidak didukung oleh kapasitas politik yang memadai, sehingga itu menjadi citra yang buruk," kata Hendra.

Sementara terkait fenomena anak pejabat yang ramai-ramai mencalonkan diri di Pilkada serentak 2020 seperti Dhito, Gibran Rakabuming Raka, dan Bobby, menurut Hendra hal itu kurang bagus untuk demokrasi.

"Secara ekonomi mungkin mereka pengusaha, mungkin mereka pelajar yang berprestasi. Tapi mereka kan belum punya track record yang mumpuni dalam bidang politik," ujarnya.

"Bagi saya ini memang menjadi kekhawatiran kita, bahwa pencalonan tiga orang itu memang ada indikasi karena mereka punya hubungan darah dengan tokoh penting, entah bapaknya, entah mertuanya," imbuhnya.

Seperti diketahui, berpasangan dengan Dewi Maria Ulfa selaku bacawabup, Dhito sudah mengantongi rekomendasi dari enam parpol. Pasangan Dhito-Dewi berpotensi menjadi calon tunggal di Pilkada Kabupaten Kediri.

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar