Dunia Sastra Indonesia Kembali Berduka, Ajip Rosidi Tutup Usia

Kamis, 30/07/2020 05:45 WIB
Dunia Sastra Indonesia Kembali Berduka, Ajip Rosidi Tutup Usia. (bisnis)

Dunia Sastra Indonesia Kembali Berduka, Ajip Rosidi Tutup Usia. (bisnis)

Jakarta, law-justice.co - Dunia satra tanah air kembali berduka karena sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi dikabarkan meninggal dunia.

Ajip meninggal dunia di usia 82 tahun.

"Betul, saya sedang mengurus segala sesuatu ini," kata salah seorang anak Ajip Rosidi, Nundang Rundagi seperti melansir Antara.

Suami dari Nani Wijaya ini menjalani operasi di RSUD Tidar Kota Magelang, akibat terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Nundang menambahkan, ayahnya menjalani operasi karena perdarahan di otak.

Saat ini, kata Nundang, dirinya tengah sibuk mengurus jenazah ayahnya.

Ajib Rosidi, sastrawan yang berasal dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menaruh minat besar terhadap perkembangan bahasa dan sastra Sunda.

Dirinya meraih gelar doktor kehormatan, honoris causa, bidang ilmu budaya dari Universitas Padjadjaran pada sembilan tahun silam.

Ajip Rosidi mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi pada tahun 1950, lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta pada 1953.

Berikutnya ia sekolah di Taman Madya, Taman Siswa Jakarta pada tahun 1956.

Meski tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di Jepang.

Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjajaran.

Karir tulis menulis Ajip Rosidi dimulai dari usia sangat muda.

Pada umur 12 tahun, saat masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat, tulisan Ajip telah dimuat dalam ruang anak-anak pada harian Indonesia Raya.

Sejak SMP Ajip sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955).

Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); Pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971).

Ia juga mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973). M

Ia juga pernah ,enjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981).

Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000).

Ia lalu terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979).

Lalu ia menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masaja batan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960).

Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tetapi mengundurkan diri (1996).

Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996). Salah seorang pendiri Yayasan PDS H.B. Jassin (1977).[

Sejak 1981, ia diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis.

Tahun 1989, secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancage setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah.

Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.

Pada tahun 2008, beberapa sastrawan mengapresiasi karyanya yang dituangkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Urang Sunda 70 Tahun Ajip Rosidi.

Karya sastra Ajip Rosidi diketahui berjumlah ratusan, di bawah ini adalah beberapa di antaranya :

Ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya:

Ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya:

- Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955)
- Ketemu di Jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, 1956)
- Pesta (kumpulan sajak, 1956)
- Di Tengah Keluarga (kumpulan cerpen, 1956)
- Sebuah Rumah buat Haritua (kumpulan cerpen, 1957)
- Perjalanan Penganten (roman, 1958, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh H. Chambert-Loir, 1976; Kroatia, 1978, dan Jepang oleh T. Kasuya, 1991)
- Cari Muatan (kumpulan sajak, 1959)
- Membicarakan Cerita Pendek Indonesia(1959)
- Surat Cinta Enday Rasidin (kumpulan sajak, 1960);
- Pertemuan Kembali (kumpulan cerpen, 1961)
- Kapankah Kesusasteraan Indonesia lahir? (1964; cetak ulang yang direvisi, 1985)
- Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna(kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967);
- Jeram (kumpulan sajak, 1970);
- Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna(kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967)
- Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia(1969)
- Ular dan Kabut (kumpulan sajak, 1973);
- Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan sajak, 1979, seluruhnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh T. Indoh, dan dimuat dalam majalah Fune dan Shin - Nihon Bungaku(1981)
- Manusia Sunda (1984)
- Anak Tanahair (novel, 1985, terjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Funachi Megumi, 1989.
- Nama dan Makna (kumpulan sajak, 1988)
- Sunda Shigishi hi no yume (terjemahan bahasa Jepang dari pilihan keempat kumpulan cerita pendek oleh T. Kasuya 1988)
- Puisi Indonesia Modern, Sebuah Pengantar (1988)
- Terkenang Topeng Cirebon (kumpulan sajak, 1993)
- Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995)
- Mimpi Masasilam (kumpulan cerpen, 2000, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang)
- Masa Depan Budaya Daerah (2004)
- Pantun Anak Ayam (kumpulan sajak, 2006)
- Korupsi dan Kebudayaan (2006)
- Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi, 2008)
- Ensiklopédi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya. 2000

 

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar