Tak Percaya Editor Metro TV Bunuh Diri, Kriminolog: Banyak Kejanggalan

Selasa, 28/07/2020 12:53 WIB
Tanya Pertemuan Terakhir, Polisi Periksa Kekasih Alm Editor Metro TV. (tribunnews)

Tanya Pertemuan Terakhir, Polisi Periksa Kekasih Alm Editor Metro TV. (tribunnews)

Jakarta, law-justice.co - Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Arthur Josias Simon Runturambi meragukan kesimpulan polisi yang menyatakan kematian editor Metro TV, Yodi Prabowo diduga kuat karena bunuh diri.

Kata dia, kesimpulan itu masih menjadi teka-teki Yodi mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

“Itu masih teka-teki dari yang sebelumnya kan bukti (dugaan pembunuhan) banyak. Jadi rilis terakhir jadi adegan teki-teki,” katanya seperti melansir pojoksatu, Minggu akhir pekan lalu.

Kata dia, jika dilihat dari luka tusukan korban, sama sekali tidak mengarah kepada tindakan nekat korban melakukan bunuh diri.

“Kalau melihat hasil forensiknya, artinya agak dipertanyakan kalau dilakukan seorang diri apalagi bunuh diri,” jelasnya.

Selain itu, dia juga menampik temuan penyidik yang menyebut korban melakukan perbuatan nekat lantaran dalam pengaruh narkoba.

“Kalau dia dikatakan depresi menggunakan narkoba, tentu dia tidak melakukan sikap yang ada saat ini. Pasti dia sudah ada di tempat-tempat, seperti dalam pengawasan rumah sakit. Bagi saya dia tidak berada dalam depresi yang sangat tinggi. Jadi kalau bunuh diri tidak menunjukkan ke situ," tegasnya.

Dia menilai kesimpulan kepolisian jika Yodi Prabowo meninggal karena bunuh diri membuat masyarakat bertanya-tanya.

Pasalnya, temuan awal polisi menyebut bahwa tusukan di dada dan di leher Yodi Prabowo diduga mengarah kepada tindak kejahatan pembunuhan.

“Apa yang dirilis terakhir agak berbeda dengan opini yang berkembang selama ini. Kok enggak sesuai,” kata Simon.

Kesimpulan polisi korban bunuh diri harus dijelaskan secara detail. Apalagi, opini yang berkembang di tengah masyarakat bahwa memang menjadi korban pembunuhan.

“Tetapi buat saya persoalannya polisi itu harus menjelaskan kenapa bisa ada perbedaan opini. Polisi harus menjawab. Ini kan kontradiksi. Gimana nih. Bukannya makin memperjelas. Malah membuat teka-teki baru,” ungkapnya.

Meski begitu, dia tida berani menyimpulkan jumlah pelaku pembunuh korban.

“Saya tidak berani menyimpulkan ya (pelaku pembunuh). Mungkin itu pengalaman atau ranah dokter forensik itu ya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepolisian daerah metro jaya mengungkapkan fakta baru dari tewasnya editor Metro TV, Yodi Prabowo yang diduga kuat bunuh diri.

Dokter Spesialis Forensik Instalasi RS Bhayangkara Kramat Jati, Arif Wahyono menyatakan, Yodi juga dinyatakan positif narkoba jenis amphetamine.

"Kesimpulan sebab mati korban kekerasan tajam di leher. Selanjutnya screening narkoba di dalam urine kami temukan kandungan amphetamine positif," katanya.

Meski begitu, dia masih enggan memastikan lebih lanjut ihwal bunuh diri Yodi Prabowo karena amphetamine.

Disisi lain, Direskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Tubagus Ade Hidayat, mengatakan, efek penggunaan ampthetamine itu untuk meningkatkan keberanian yang luar biasa.

"Kaitan ampthetamine, beliau kami periksa BAP ahli. Sebagai bukti, jawabannya, kalo diperkisa amphetaminenya positif berarti konsumsi. Lalu efeknya? Meningkatkan keberanian yang luar biasa," ujarnya.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar