Menko Luhut Bakal Tawarkan `Harta Karun` Indonesia ke Amerika Serikat

Minggu, 26/07/2020 09:57 WIB
Luhut B. Panjaitan (Jawa pos)

Luhut B. Panjaitan (Jawa pos)

Jakarta, law-justice.co - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan bakal menawarkan `harta karun` milik Indonesia kepada negara manapun yang siap menjadi investor.

Kata dia, salah satu negara yang bakal ditawari adalah negara Amerika Serikat (AS).

Kata dia, sebenarnya China sudah menyanggupi untuk mengembangkan `harta karun` ini. Hanya saja kata dia, demi menjaga iklim investasi nasional, dirinya tidak ingin menyerahkan ke negeri Tirai Bambu tersebut.

"Ini kita juga memang dilematis, karena rare earth kan paling banyak diproduksi di Tiongkok, Amerika sendiri begitu di banned oleh Tiongkok itu kelabakan juga. Nah investor yang paling cepat sekarang itu Tiongkok, nah kalau kita semua kasih Tiongkok nanti semua mental," katanya dalam acara Investasi di tengah Pandemi secara virtual seperti melansir detik.com, Sabtu 25 Juli 2020 kemarin.

Dia menjelaskan, `Harta karun` yang dimaksud ini adalah rare earth alias mineral tanah jarang. Dia menegaskan, komoditas satu ini diyakini mudah ditemukan di Indonesia.

Kata dia, pemerintah saat ini tengah mencari investor dari luar China demi memberikan kesempatan kepada negara lain yang berpotensi besar mengembangkan rare earth.

"Jadi kita ya memelihara ekuilibrium kita cari investor, apakah Amerika mau, kita coba atau yang lain," ucapnya.

Dia menambahkan, mencari investor pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kata Luhut banyak banyak prosedur yang harus disepakati antara kedua belah pihak baik pemerintah maupun investor.

"Jadi kita harus melihat national interest kita, tidak sekedar hanya terima orang datang investasi, tidak begitu ceritanya. Ada perhitungan strategi kita, pertimbangan geopolitik sebelum memutuskan itu dan seberapa banyak yang akan kita berikan, nggak akan kita berikan semua," tuturnya.

Sebagai informasi, pasir timah yang biasa diekspor ilegal dari Bangka Belitung (Babel) merupakan tempat untuk menemukan `harta karun` ini. Di dalam pasir timah mengandung mineral tanah jarang.

Tanah jarang juga disebut memiliki harga yang tinggi, bahkan bisa dijual hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibanding timah itu sendiri. Komponen satu ini bahkan bisa digunakan untuk partikel nuklir, untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga komponen elektronik.

"Tanah jarang atau rare earth ini mineral ikutan, dari proses pemurnian timah itu kan diayak istilahnya dimurnikan, dan mineral pasir itu mengandung tanah jarang atau monazite namanya," ujar Direktur Utama PT Timah kala itu, Sukrisno.

Tanah jarang bisa diproses menjadi 12 komponen, termasuk monazite, thorium, dan lainnya. Salah satu yang paling potensial untuk dijual adalah monazite, yang dikembangkan PT Timah dengan membangun sebuah pabrik kecil pengolahan tanah jarang.

Melihat potensi besarnya, Badan Geologi Kementerian ESDM akan melakukan survei potensi rare earth alias tanah jarang. Survei ini akan dilakukan tahun depan.

 

(Annisa\Tim Liputan Investigasi)

Share:



Berita Terkait

Komentar