Polisi Buru 8 Anak Buah John Kei yang Masih Berkeliaran

Kamis, 23/07/2020 22:57 WIB
Tersangka kasus penyerangan di Tangerang dan Jakarta Barat John Kei (depan) (jaringanmedia)

Tersangka kasus penyerangan di Tangerang dan Jakarta Barat John Kei (depan) (jaringanmedia)

Jakarta, law-justice.co - Delapan orang anak buah John Kei yang telah ditetapkan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) masih bebas berkeliaran. Polisi menduga kedelapan orang itu kabur ke luar Jakarta dan belum diketahui keberadaan mereka.

"Sangat dimungkinkan dia meninggalkan Jakarta dan kami masih belum dapat perkembangannya," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Tubagus Ade Hidayat, seperti dilansir jpnn.com, Kamis (23/7/2020).

Tubagus mengatakan pelarian mereka ke luar Jakarta menjadi kendala pihaknya melakukan penangkapan. Delapan anak buah John Kei yang buron itu tidak terlibat langsung dalam penyerangan kepada kelompok Nus Kei.

"DPO itu adalah hasil pengembangan, bukan DPO orang yang melakukan, kalau orang yang melakukan itu sudah (ditangkap)," katanya.

Tubagus menjelaskan meski tidak terlibat langsung dalam rangkaian kasus tersebut, akan tetap mencari delapan orang tersebut untuk mendalami perannya dalam perkara itu.

"Ya sebetulnya semuanya memiliki (peran), kalau sudah DPO berarti dibutuhkan. Saat ini masih dicari," jelasnya.

Polda Metro Jaya diketahui telah menetapkan John Kei dan 38 orang anak buahnya sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Diketahui pada 21 Juni 2020, John Kei cs melakukan aksi penyerangan terhadap kelompok Nus Kei di dua lokasi. Penyerangan terjadi di kawasan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat dan di rumah Nus Kei yang berada di Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang.

Penyerangan itu dilatarbelakangi masalah pribadi antara John Kei dan Nus Kei terkait penjualan tanah di Ambon, Maluku.

Akibat perbuatannya, John Kei dan anak buahnya dijerat pasal berlapis. Di antaranya Pasal 88 KUHP tentang permufakatan jahat dan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, Pasal 170 KUHP tentang perusakan dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun dan atau pidana mati.

 

(Hendrik S\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar