Emil Salim: Disiplin adalah Kunci Sukses di Masa New Normal

Sabtu, 18/07/2020 09:01 WIB
Emil Salim (Tempo)

Emil Salim (Tempo)

law-justice.co - Pemerintah telah menetapkan masa transisi ke new normal di tengah pandemi virus corona, padahal lonjakan kasus baru terus terjadi. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam situs resmi covid19.go.id, kasus positif COVID-19 tembus pada angka 81.668.

Meningkatnya korban COVID-19, membuat Emil Salim, pendiri yang juga dewan pembina Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) prihatin. Ia meminta masyarakat peduli dan taat pada protokol kesehatan. Menurutnya dalam situasi seperti sekarang ini,  disiplin harus dipegang teguh oleh setiap individu demi suksesnya menekan penyebaran virus corona.

Emil mengatakan,  virus corona seyogianya bisa dikendalikan karena penyebarannya disebabkan oleh manusia, bukan oleh hal lain. Manusia menjadi tempat berkembang biaknya virus dan juga menjadi sarang untuk menyebarkan ke manusia lainnya.

"Awalnya, manusia tidak mengetahui kemunculan virus. Oleh karena itu kuncinya adalah mematahkan proses penularan tersebut dengan disiplin," ujar pria kelahiran Lahat, 8 Juni 1930 ini. Emil melanjutkan, selain disiplin, pemerintah juga harus menyosialisasikan masa transisi ini dengan cara yang tidak biasa seperti kemarin-kemarin, tetapi harus dilakukan dengan lebih frontal.

"COVID-19 memunculkan hal-hal baru yang butuh penyesuaian, termasuk perubahan pola pikir dari masyarakat, nilai-nilai sosial yang tentunya butuh pengertian. Dalam proses ini butuh kesabaran, pemahaman dan sikap tegas dari pemimpin," kata Emil.

Emil yang masih aktif menulis di usia 90 tahun ini menduga bahwa, penyebab munculnya virus-virus sejenis seperti sebelumnya ada SARS, Mers dan sekarang Covid-19 terjadi karena ulah dari manusia itu sendiri.

"Penelitian para ahli, banyak terjadi gangguan alam, antara lain kenaikan suhu bumi sehingga membawa pengaruh terhadap sistem lingkungan alam di mana berbagai binatang hidup. Jadi rumah hewan-hewan seolah-olah terganggu. Makanya kita lihat dalam periode akhir-akhir ini, banyak timbul penyakit yang berterkaitan dengan binatang atau serangga," jelasnya. 

Emil mencontohkan, para ilmuwan mengungkapkan fakta yaitu mencairnya es di Kutub Utara karena perubahan suhu, telah menghidupkan kembali virus berukuran raksasa di Siberia, yang terkubur selama 30.000 tahun di dalam es dan masih bisa menularkan. Virus ini diprediksi dapat memicu kembalinya virus-virus purba yang berisiko mengganggu kesehatan manusia.

"Ringkasnya ada terjadi peningkatan suhu dan mengakibatkan perubahan iklim. Para ahli menginginkan agar kita menjaga dengan mengusahakan agar suhu di bumi tidak terus naik sesuai dengan kesepakatan Paris yang disetujui oleh A.S. dan 187 negara, untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah dua derajat celcius, di atas tingkat pra-industri dan bahkan berupaya untuk membatasnya menjadi 1,5 derajat celcius," lanjutnya.

Oleh karena itu, mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup di era Orde Baru ini mengajak semua pemangku kepentingan termasuk pemerintah dan DPR RI untuk membuat langkah-langkah penyesuaian yang lebih efektif sesuai dengan kondisi yang ada setelah pandemi COVID-19 terjadi di Indonesia.

"Pemerintah maupun DPR harus paham bahwa keadaan hari ini tidak sama dengan keadaan kemarin jadi harus memandang seperti itu. Indonesia saat ini berbeda dengan Indonesia yang kemarin-kemarin, termasuk soal penerapan RUU Minerba (Pertambangan Mineral dan Batubara), yang sangat keliru kalau menganggap bahwa Minerba meneruskan pembahasan berdasarkan tahun 2019. Ini tahun 2020 lain. Keliru kalau menganggap bahwa UU Cipta Kerja seperti Cipta Kerja meneruskan 2019. Itu salah. Ada perbedaan, perubahan di dalam hal ini," tegas mantan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia ini.

Terkait kondisi ekonomi, lulusan University of California ini memastikan langkah yang diambil pemerintah ini sudah betul dan mau tidak mau harus dilakukan. Namun, menurutnya dalam situasi ini, yang harus dilakukan pemerintah adalah penerapan sistem ekonomi jarak jauh. Selain itu Emil mengatakan, masalah ekonomi di Indonesia bukan soal investasi tetapi sumber daya manusia, semestinya saling terhubung antara kesehatan, sosial, ekonomi dan lingkungan.

"Jadi semua pihak harus aktif untuk mencari solusi kebijakan yang lebih berani dan sesuai dengan dampak yang dialami masyarakat saat ini. Misalnya kebijakan tatanan normal baru, memperhitungkan dampaknya secara nyata pada ambang batas kapasitas tenaga dedis dan rumah sakit yang riil, mengubah kebiasaan sosial di masyarakat yang harus patuh, mental kita siap menghadapi virus dan tentu kebijakan terkait lingkungan," tutup Emil.

 

(Ricardo Ronald\Reko Alum)

Share:



Berita Terkait

Komentar