Tak Mau PSBB, Survei Tunjukkan Masyarakat Lebih Pilih New Normal

Minggu, 12/07/2020 12:01 WIB
Ilustrasi Virus Corona. (minews.id)

Ilustrasi Virus Corona. (minews.id)

Jakarta, law-justice.co - Sejak awal munculnya virus corona di Indonesia, pemerintah tak mau menerapkan lockdown, tetapi hanya melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk mencegah penyebarannya lebih luas. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara lain yang langsung menerapkan sistem lockdown.

Setelah lama menerapkan PSBB, pemerintah pun memutuskan untuk menerapkan kebiasaan hidup normal baru (new normal). Tujuannya agar masyarakat dapat beraktivitas kembali.

Namun, seiring dengan penerapan kebijakan baru tersebut, kasus baru pun makin meningkat. Bahkan saat ini, dalam sehari kasus baru covid-19 bisa lebih dari 2.000 kasus.

Meski begitu, berdasarkan hail survei masyarakat tak mau menerapkan PSBB lagi. Masyarakat lebih memilih new normal.

“Secara mutlak, mayoritas publik lebih menginginkan tetap diterapkannya new normal, seandainya gelombang kedua covid-19 terjadi, yaitu mencapai 82,4 persen,” kata Direktur Eksekutif Center for Political Communication Studies (CPCS) Tri Okta S.K melalui press release di Jakarta pada Minggu (12/7/2020).

Menurut Okta, New Normal diakui telah menjadi pilihan sebagian besar masyarakat, dengan memperhatikan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker. Hanya sebagian kecil publik yang memilih diberlakukan kembali PSBB, yaitu sebesar 12,8 persen. Sedangkan sisanya menyatakan tidak tahu/tidak menjawab sebanyak 4,8 persen.

Pilihan tersebut tidak lepas dari dampak ekonomi yang memukul hampir seluruh sektor usaha, besar dan kecil. Seperti diakui sendiri oleh Presiden, krisis kesehatan telah berkembang menjadi krisis ekonomi, ditandai dengan ancaman pertumbuhan negatif pada kurun 2020.

Berbeda dengan krisis 1998, di mana waktu itu sektor UKM mampu bertahan. Di sisi lain para pakar epidemiologi masih mewanti-wanti bahwa pandemi belum selesai dan vaksin masih dalam tahap pengembangan.

“Untuk itu pemerintah dalam komunikasi publik harus menggencarkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan, dari memakai masker, sering cuci tangan atau pakai hand sanitizer, dan memperhatikan physical distancing,” tandasnya.

Survei CPCS dilakukan pada 21-30 Juni 2020, dengan jumlah responden 1200 orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Survei dilakukan melalui sambungan telepon terhadap responden yang dipilih secara acak dari survei sebelumnya sejak 2019. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar