Didukung Rakyat, Masa Jabatan Presiden Rusia Bisa Ditambah 2 Periode

Kamis, 02/07/2020 14:57 WIB
Presiden Rusia, Vladimir Putin. (aawsat.com)

Presiden Rusia, Vladimir Putin. (aawsat.com)

Jakarta, law-justice.co - Presiden Rusia Vladimir Putin berpeluang memerintah hingga 2036, atau hingga usianya 83 tahun. Hal itu tak lepas dari dukungan masyarakat melalui hasil pemungutan suara agar masa jabatan presiden ditambah dua periode lagi dengan mengubah Undang-Undang Dasar.

Namun para pengkritik mengatakan hasil pemungutan suara itu dipalsukan dalam skala besar-besaran.

Hasil resmi setelah 98 persen kertas suara dihitung, memperlihatkan bahwa Putin bisa berkuasa lagi selama dua periode atau selama 12 tahun. Dengan demikian dia bisa memimpin Rusia hingga 2036, karena masa jabatan sekarang baru berakhir pada tahun 2024. Dengan usianya yang saat ini sudah 67 tahun, Putin bisa memimpin Rusia hingga umur 83.

Komisi Pemilu Pusat mengatakan 78 persen suara yang dihitung secara keseluruhan mendukung pengubahan konstitusi. Hanya lebih 21 persen suara menentang.

Ella Pamfilova, kepala komisi itu, mengatakan pemungutan suara berlangsung transparan dan para petugas pemungutan suara melakukan segalanya untuk menjamin integritasnya.

Sementara itu, mengutip antara, Politisi oposisi Alexei Navalny punya pandangan berbeda dan menyebut pemungutan suara itu pertunjukan yang tak sah dan liar yang dirancang untuk mengabsahkan kepresidenan Putin sepanjang hayat.

"Kami tak akan pernah mengakui hasil ini," kata Navalny kepada para pendukung dalam sebuah video.

Navalny mengatakan oposisi tak akan memprotes sekarang karena pandemi corona tapi akan melakukannya dalam skala besar-besaran pada musim gugur jika para kandidatnya dihalangi ambil bagian dalam pemilu regional atau hasilnya dipalsukan.

"Apa yang paling ditakuti Putin adalah protes jalanan," kata Navalny. "Dia tak akan hengkang hingga kami mulai turun ke jalan-jalan dalam jumlah ratusan ribu dan jutaan orang," kata dia.

Rakyat Rusia telah didorong untuk mendukung manuver Putin berkuasa, yang digambarkan oleh kritikus sebagai kudeta konstitusional, dengan undian berhadiah rumah susun dan iming-iming berupa iklan kampanye yang memfokuskan pada amendemen konstitusional lain dalam satu paket perubahan yang sama seperti perlindungan pensiun dan larangan nyata atas pernikahan sesama jenis.

Satu kali pembayaran senilai 10.000 rubel (sekitar Rp 2 juta) dikirim ke mereka yang memiliki anak-anak atas perintah Putin saat warga menuju tempat pemungutan suara pada Rabu, hari terakhir pemungutan suara, yang diadakan tujuh hari untuk membatasi penyebaran virus. Warga Moskow Mikhail Volkov mengatakan dia mencoblos demi perubahan.

"Kami butuh perubahan radikal dan saya berpihak ke perubahan-perubahan itu," katanya. Warga yang lain kurang bersemangat. "Saya tak membaca perbaikan-perbaikan itu bila saya jujur," kata pemilih yang lain, Lyudmila.

"Yang penting dalam pemungutan suara apakah mereka sudah mengambil keputusan untukmu. Seperti itulah di negeri kami - baca sesuatu dan pilih. Saya telah memilih." Jumlah pemilih mencapai 65 persen, kata para petugas pemilu.

 

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar