Hoegeng: Orang Hidup Lurus, Apakah Musti Kurus di Zaman Ini?

Rabu, 01/07/2020 17:16 WIB
Jenderal Hoegeng Imam Santoso (Buku Autobiografi Hoegeng/SH)

Jenderal Hoegeng Imam Santoso (Buku Autobiografi Hoegeng/SH)

law-justice.co - "Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng" tulis Ismail, seorang warganet di media sosial. Ia mengutip ucapan Abdurrahman Wahid, tokoh pemersatu bangsa yang akrab dipanggil Gus Dur.

Unggahan itu direspon berlebihan oleh kepolisian dengan memanggil Ismail ke kantor mereka untuk dimintai keterangan. Meskipun ia akhirnya dilepas kembali, tindakan polisi itu menuai kritik dari masyarakat.

Yenny Wahid pun tidak dapat menahan diri untuk tidak berkomentar. "Kalau soal humor Gus Dur itu sudah lama itu beredar, bahkan ada pernah mantan pejabat tinggi polisi mengutip itu. Artinya memang humor itu adalah salah satu kekuatan masyarakat kita. Salah satu cara mekanisme yang ada di masyarakat untuk sering mengingatkan, tidak ada institusi yang seperti malaikat yang terbebas dari kesalahan, masyarakat itu harus saling mengingatkan untuk terus membenah diri," kata dia.

Gus Dur tentu tidak asal sebut nama Hoegeng dalam humornya itu. Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso adalah mantan kapolri periode 1966-1971 yang memang dikenal sebagai polisi yang jujur dan tegas sepanjang sejarah. Hingga saat ini, belum ada lagi anggota polisi yang perilakunya seperti sang jenderal.

Perjalanan Hoegeng di kepolisian dimulai pada tahun 1956 saat dia ditugaskan pertama kali ke luar Pulau Jawa. Ia dipercaya untuk mengemban jabatan baru sebagai kepala direktorat reserse kriminal di kantor polisi Sumatera Utara (sekarang Polda Sumut). Kawasan itu dikenal sebagai daerah yang keras dan hitam.

Tiba di sana, Hoegeng dan keluarga diberikan rumah dinas yang disiapkan untuknya. Namun, tidak disangka, ia marah dan kesal ketika melihat rumah dinasnya itu telah diisi lengkap dengan furniture. Ia meminta anak buahnya untuk segera mengeluarkan semua  perabotan itu, yang diduga pemberian seorang cukong di Medan.

Saat itu, perjudian di Kota Medan sangat marak. Alih-alih agar tidak terganggu kegiatannya, para cukong selalu menyuap para polisi mengamankan usaha perjudian mereka.

Hoegeng memang tidak mempan digertak dan disuap. Dalam menjalankan tugas, tak terbilang banyaknya dia membongkar kasus penyelundupan dan perjudian yang dilakukan pengusaha yang dikenal dengan sebutan "Cina Medan". Tidak jarang pula dia harus menangkap dan menahan perwira polisi yang ikut terlibat.

Usai melakukan bersih-bersih di Medan, akhir tahun 1959 Hoegeng ditarik oleh Menko Hankam/KSAD Jenderal TNI Abdul Haris Nasution untuk mengisi jabatan kepala jawatan imigrasi. Menurut kabar yang beredar, jabatan tersebut diusulkan oleh banyak pihak yang kagum akan keberanian Hoegeng di Medan.

Selama bertugas di Jawatan Imigrasi, Hoegeng tetap mengenakan seragam polisi, karena dia hanya mengambil gaji dari kepolisian, sedangkan gaji dan fasilitas dari kantor imigrasi tak disentuhnya. Dia juga menolak mobil baru pemberian imigrasi serta upaya merenovasi rumahnya. Hoegeng beralasan, apa yang didapatkan dari kepolisian sudah cukup.

Pertengahan 1965, Hoegeng dilantik Presiden Soekarno menjadi Menteri Iuran Negara (kini Dirjen Pajak). Ada pengalaman menarik saat dia menjabat. Ketika itu ada seorang calon pegawai baru di lingkup Bea Cukai membawa selembar katabelece dari Wakil Perdana Menteri II Dr Johannes Leimena. Tujuannya tak lain agar diberi kemudahan. Hoegeng lantas berkirim surat kepada Leimena menyatakan maaf karena tak bisa membantu. Esok harinya Leimena mengontak Hoegeng sambil meminta maaf.

Kejujuran dan kebersihan hatinya dalam menjalankan tugas membuat Hoegeng hidup dalam kesederhanaan.  Setelah pensiun dari kepolisian, ia bahkan tidak punya rumah dan mobil pribadi. Hanya ada rumah dinas di Jalan Muhammad Yamin, Jakarta.

Melihat hal tersebut, Kapolri Mohammad Hasan berinisiatif mengalihkan rumah tersebut menjadi atas nama Hoegeng. Sejumlah kapolda juga iba kepadanya. Mereka lalu saweran dan membelikan mobil Holden Kingswood. "Itu satu-satunya mobil setelah bapak pensiun," kata Aditya S Hoegeng dalam tulisannya, “Saya Bangga Menjadi Anak Pak Hoegeng”.

Ia teringat saat dua unit sepeda motor Lambretta datang ke rumahnya, ketika sang ayah masih menjadi Kapolri. Dikirimkan oleh seorang pengusaha otomotif. Jatah buat pejabat. Anak kedua Hoegeng itu senang luar biasa karena sudah lama ingin memiliki sepeda motor.

Namun, Hoegeng langsung memerintahkan ajudan untuk mengembalikan sepeda motor tersebut. "Saya sempat kecewa tapi kami bisa memahami sikap bapak," kata Aditya.

Ketegasan Hoegeng perihal suap menyuap, ditegaskan dalam buku "Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan: Sebuah Autobiografi" karangan Abrar Yusra/Ramadhan K.H (SH 1993). Ia mengatakan, "Orang Hidup Lurus, Apakah Musti Kurus di Zaman Ini?"

Kondisi sebaliknya justru terjadi saat ini. Sejumlah pejabat kepolisian terlibat kasus mafia pajak. Malah, muncul persoalan rekening milik beberapa perwira yang menimbulkan kecurigaan.

Cerita lain menyangkut kunjungan kerja. Lazim untuk pejabat mengajak istri saat kunjungan kerja. Namun, tidak dengan Hoegeng. Ketika dia hendak berkunjung ke Belanda, Merry istrinya berniat ikut karena punya kerabat di sana. "Namun, Bapak melarang karena tak ingin ada orang lain yang mempergunjingkannya," ungkap Aditya.

Apa yang dilakukan Hoegeng semasa hidupnya, sungguh ibarat langit dan bumi jika melihat kondisi Korps Bhayangkara pada saat ini. Aparat kepolisian yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, justru bermain mata dengan para bandit.

Polisi akan selalu dikritik, akan selalu disindir. Tapi kritikan ataupun sindiran tersebut bukanlah berdasarkan kebencian masyarakat kepada polisi. Hal itu semata-mata untuk mengingatkan kembali pada visi dan misi kepolisian, seperti jargon yang selalu mereka dengungkan: Polisi dari Masyarakat untuk Masyarakat, Polisi adalah Cerminan Masyarakat.

Rakyat Indonesia masih menaruh harapan akan munculnya sosok-sosok seperti Hoegeng. Masyarakat mendambakan polisi yang jujur, bersih, dan selalu melindungi masyarakat. Kita berharap, polisi juga menjadi alat negara bukan alat pemerintah.

Berikut ini sekelumit perjalanan hidup Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso, yang dirangkum dari berbagai sumber:

Pendidikan

Hoegeng masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO (1934) dan menempuh sekolah menengah di AMS Westers Klasiek (1937). Setelah itu, ia belajar ilmu hukum di Rechts Hoge School Batavia tahun 1940. Sewaktu pendudukan Jepang, ia mengikuti latihan kemiliteran Nippon (1942) dan Koto Keisatsu Ka I-Kai (1943). Setelah itu ia diangkat menjadi Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang Semarang (1944), Kepala Polisi Jomblang (1945), dan Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah (1945-1946). Kemudian mengikuti pendidikan Polisi Akademi dan bekerja di bagian Purel, Jawatan Kepolisian Negara.

Di luar dinas kepolisian Hoegeng terkenal dengan kelompok pemusik Hawaii, The Hawaiian Seniors. Selain ikut menyanyi juga memainkan ukulele.

Karier

Saat menjadi Kapolri Hoegeng Iman Santoso melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Pada masa jabatannya terjadi perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabes Pol).

Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, Georgia, Amerika Serikat. Dari situ, dia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952). Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatra Utara (1956) di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara (1960), Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri luran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966. Setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi juga masih dalam 1966. Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo. Hoegeng mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 2 Oktober 1971, dan digantikan oleh Drs. Mohamad Hasan.

Atas semua pengabdiannya kepada negara, Hoegeng Imam Santoso telah menerima sejumlah tanda jasa,

  • Bintang Gerilya
  • Bintang Dharma
  • Bintang Bhayangkara I
  • Bintang Kartika Eka Paksi I
  • Bintang Jalasena I
  • Bintang Swa Buana Paksa I
  • Satya Lencana Sapta Marga
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II)
  • Satya Lencana Peringatan Kemerdekaan
  • Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
  • Satya Lencana Dasa Warsa
  • Satya Lencana GOM I
  • Satya Lencana Yana Utama
  • Satya Lencana Penegak
  • Satya Lencana Ksatria Tamtama

Profil Singkat:

Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso

Lahir : Pekalongan, Jawa Tengah

Tanggal: 14 Oktober 1921

Meninggal: Jakarta, 14 Juli 2004

Umur: 82 Tahun

Jabatan: Kapolri ke-5 (1968-1971)

 

 

 

(Bona Ricki Jeferson Siahaan\Reko Alum)

Share:



Berita Terkait

Komentar