Dr. Handrawan Nadesul:

Waspada! New Normal Menjadi New Abnormal, Kalau Bukan Crazy Normal

Sabtu, 27/06/2020 19:00 WIB
Ilustrasi (Daily Express)

Ilustrasi (Daily Express)

law-justice.co - Sejawat dr. Agus W. Budi Santoso mengirimkan saya artikel yang mengurai analisis biologi ihwal perkembangan bagaimana potensi Covid-19 menyebar dan menginfeksi, bahkan berikut penghitungan matematisnya.

Sungguh mengerikan kalau tahu betapa perlu diwaspadainya lingkungan sekitar kita berada di masa Normal Baru sekarang ini, bahkan mereka yang masih tetap tinggal di rumah sekalipun, potensi Covid-19 menyelinap masuk masih bisa terjadi. Apalagi di tempat publik, ketika mulai dibuka kembali orang diperbolehkan bergerak keluar rumah.

Kemarin saya menulis ihwal virus load, berapa banyak Covid-19 diperlukan untuk menjadikan kita jatuh sakit. Saya katakan sukar memperkirakan. Tergantung seberapa padat Covid-19 berada di tempat kita berada suatu saat, dan berapa lama kita di situ, menentukan besaran dosis Covid-19 yang kita sedot ke dalam tubuh. Maka formula suatu infeksi berhasil terjadi ialah besaran terpajan Covid-19 dikalikan lama kita terpajan. Makin lama kita berada di lokasi Covid-19 berada, dan makin besar populasi Covid-19 di situ, semakin mudah dan cepat kita terinfeksi.

Itulah bahaya baru yang mengancam sekarang, ketika orang lebih longgar berada di luar rumah. Covid-19 menemukan kesempatan baru mendapatkan mangsanya di tengah kondisi semakin bertambah banyaknya orang memasuki tempat publik dalam situasi Normal Baru, yang diperkirakan malah akan menjadi Abnormal Baru kalau bukan Crazy Normal. Mengapa?

Populasi Covid-19 mendapat kesempatan lebih berbiak baru dengan kesempatan berpindah ke tubuh baru, karena orang-orang pembawa Covid-19 tak bergejala (presymptomatic) yakni mereka yang sudah dimasuki virus namun gejala belum muncul, dalam 5 hari sebelum gejala muncul dia berpotensi menularkan, dan orang asymptomatic, yakni sudah membawa Covid-19 namun tanpa gejala. Satu saja ada orang dengan presymptomatic dan asymptomatic beredar di tempat public, yang berarti Ro berkembang secara eksponensial, jumlah kasus baru akan meledak.

Tempat-tempat publik itu berada di tempat ibadah, kegiatan paduan suara (koor), kegiatan khotbah tanpa masker, mal, restoran, tempat gym, kantor, meeting bisnis, sekolah dan kampus, serta semua tempat dengan AC sentral, termasuk di pesawat udara.

Mengapa tujuan Normal Baru akan berubah menjadi Abnormal Baru atau Crazy Normal? Oleh karena ada potensi untuk terjadinya cluster Covid-19 yang baru, bila semakin banyak orang termasuk pembawa Covid-19, memasuki tempat-tempat tersebut.

Apabila ada 1.000 ekor Covid-19 dari sekali tarikan napas atau sekali mengucek mata, untuk mendapatkan jumlah Covid-19 yang sama di tempat yang hanya mendapatkan 100 Covid-19 dari sekali napas, cuma diperlukan 10 kali napas, atau bila sekali napas hanya 10 Covid-19 hanya perlu 100 kali napas untuk memperoleh jumlah Covid-19 yang sama memasuki tubuh.

Normal orang bernapas 16 kali per menit. Berarti untuk 100 kali napas agar diperoleh 1.000 Covid-19, hanya dibutuhkan waktu 6 menit saja berada di tempat publik yang isi Covid-19-nya hanya 10 ekor untuk sekali napas. Makin lama kita berada di tempat publik berisi Covid-19 makin besar kemungkinan, risiko, probabilitas terinfeksiya. Makin padat populasi Covid-19 di tempat kita kunjungi, makin sedikit diperlukan waktu untuk menjadikan kita terinfeksi.

Maka yang harus disikapi, bahwa kondisi Normal Baru memerlukan kewaspadaan lebih terutama bagi kelompok yang kalau terinfeksi akan berat penyakitnya, kalau bukan sukar tertolong.

Yang ditakutkan orang pembawa Covid-19 bukan hanya dua, yakni yang sudah dimasuki Covid-19 tapi gejala belum muncul, dan mereka yang sudah dimasuki Covid-19 tapi tanpa gejala saja, melainkan mereka yang sudah sakit tapi berkeliaran di tempat publik tempat kita berada. Bahaya itu terjadi apabila mereka semua tidak memakai masker. Itu maka sudah saatnya memasuki Normal Baru tindakan hukum tegas perlu diberlakukan terhadap mereka yang tidak memakai masker.

Tanpa masker, sekali batuk saja tersembur 3.000 droplet dengan laju 7 Km/jam, bersin 30 ribu droplet dengan laju 240 Km/jam. Dalam batuk dan bersin terkandung 200 juta Covid-19. Sedang sekadar bernapas saja 50-5 ribu droplet dengan jumlah Covid sedikit saja dengan laju rendah, sebagian besar Covid-19 akan jatuh ke tanah. Mengobrol tanpa masker selama lima menit saja sudah cukup untuk mendapatkan dosis Covid-19 yang berpotensi bikin kita terinfeksi.

Dari semburan batuk dan bersin ini, sebagian besar Covid-19 yang tersemburkan itu akan jatuh ke tanah/lantai, dan ke semua permukaan di ruangan batuk dan bersin terjadi. Termasuk di toilet umum, semua bagian permukaan, pegangan pintu, sudah menempel Covid-19. Tertular bisa terjadi dari tangan tercemar, di situ makna di balik perlu rutin mencuci tangan, dan semua permukaan tempat pulblik perlu rutin dilakukan disinfektans.

Risiko mereka yang patuh tetap tinggal di rumah saja pun menjadi meningkat apabila masih ada orang yang keluar masuk rumah mereka, entah anak, sopir, asisten rumah tangga, dan mereka yang keluar masuk rumah ini berpotensi terinfeksi selama memasuki Normal Baru di luar rumah: di tempat publik yang sudah disebut di atas.

Semua ini perlu dan harus menjadi perhatian semua pihak, memberikan edukasi agar setiap lapisan masyarakat dapat sungguh memahami apa makna di balik wajib memakai masker, jangan sampai cuma patuh bermasker karena takut dihukum, melainkan harus karena takut terinfeksi.

Pilihan masker juga harus selektif, masker yang terstandard medis, bukan asal masker, kalau daya lidungnya kecil saja. Masker kain pun perlu dipilah. Terlalu tebal betul melindungi, tapi mengganggu pernapasan. Terlalu tipis betul tidak mengganggu pernapasan tapi daya lindungnya lemah. Belum efek buruk emisi zat kimia tekstil dari masker kain yang bisa menggangu kesehatan.

Sudah waktunya pemerintah menegakkan hukum yang bukan cuma macam kertas saja lagi, tapi bikin jera. Target kebijakan Normal Baru yang menginginkan mulai menyelamatkan ekonomi supaya lebih menggeliat, namun apabila tanpa mau mengerti lebih rinci tabiat biologi-epidemiologi Covid-19, bisa-bisa membuahkan sama-sama tidak akan menyelamatkan kedua-duanya, kesehatan maupun ekonomi juga.

Salam sehat,
Dr. Handrawan Nadesul

(Tim Liputan News\Reko Alum)

Share:



Berita Terkait

Komentar