Dr.Roy T Pakpahan SH, Pemred Law-Justice.co

Obituari Peter Rohi, Wartawan Paripurna dan Pejuang di Setiap Masa

Minggu, 21/06/2020 07:03 WIB
Wartawan Senior, Peter Rohi (ist)

Wartawan Senior, Peter Rohi (ist)

Jakarta, law-justice.co - Kaget bercampur sedih saat mendapat kabar, wartawan pejuang dan idealis itu, Peter Rohi (78) telah wafat di Surabaya, Rabu (10/6/2020). Ingatan saya spontan langsung melayang saat kami berdua terdampar berhari-hari bersama beberapa wartawan lain seusai pengumuman hasil jejak pendapat di bumi loro sae, Dili, Timor Leste, Agustus 1999.

Referendum Timor Leste adalah salah satu kerja liputan jurnalistik yang paling menantang sepanjang karier jurnalistik saya. Saat saya dan bang Peter ditugaskan Pemred Harian Suara Bangsa,  alm. Petron Curie untuk meliput referendum, kami tentu sangat antusias untuk bisa segera berangkat ke bumi Timor Leste.

Saya berangkat lebih dahulu pada akhir Juli 1999 dan bang Peter menyusul seminggu kemudian. Sebelum berangkat kami sudah menyusun agenda peliputan dan berbagi tugas. Bang Peter yang memang berasal dari Pulau Timor NTT, secara fisik dan warna kulit memang sama dengan postur orang Timor Leste. Karena itu dia fokus menggali informasi dari rakyat Timor Leste yang pro Indonesia.

Sementara saya yang selain menjadi jurnalis, juga saat itu tercatat sebagai Dewan Pengurus Solidamor (Solidaritas Indonesia untuk Timor Leste), sebuah LSM yang peduli terhadap penentuan nasib sendiri warga Timor Leste. Solidamor sangat dekat relasinya dengan komunitas internasional dan rakyat Timor Leste yang pro kemerdekaan, termasuk dengan Xanana Gusmao.

Walaupun kami membagi tugas seperti itu tetapi bang Peter sejak awal memang bersimpati dengan rakyat yang memilih pro kemerdekaan. Alasan Peter sederhana saja, sejak jaman Hindia Belanda dan saat Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tidak pernah tercatat dalam peta atau dokumen manapun bahwa Timor Leste adalah bagian integral dari Indonesia. “Timor Leste dicaplok Indonesia adalah hasil kerja Soeharto dan Amerika Serikat,” ujar Peter dengan nada tegas.

Sebab itu, Peter yakin sebelum hasil referendum diumumkan, dia sudah menebak pasti rakyat pro kemerdekaan yang menang. Sebelum hasil referendum diumumkan sudah tersiar kabar bahwa jika rakyat pro kemerdekaan yang menang maka Timor Leste akan dibumihanguskan oleh kelompok yang pro Indonesia.

Saya dan bang Peter yang saat itu tinggal di kantor Solidamor, juga sudah bersiap-siap mengatur skenario kabur dari Timor Leste jika keadaan semakin runyam. Benar saja, setelah hasil referendum sudah diumumkan, bumi Timor Leste, khususnya kota Dili berubah menjadi kota tak bertuan dan hancur lebur. Kantor Solidamor pun habis dirusak para perusuh pro Indonesia.

Saat itu kelompok yang pro Indonesia memburu semua orang asing dan lokal yang pro kemerdekaan, tanpa peduli status dan profesinya, termasuk wartawan. Sebelum referendum sudah ada wartawan yang tewas dibunuh oleh kelompok pro Indonesia. Tentu situasi ini sangat membahayakan keselamatan jiwa saya yang selain wartawan juga aktivis Solidamor.

Bang Peter menyarankan saya untuk segera cabut dari Dili. Namun saat itu semua penerbangan udara penuh dengan para pengungsi Indonesia dan jika lewat darat pasti harus bisa melewati pos pemeriksaan kelompok pro Indonesia, yang dendam dengan hasil referendum dan pasti mencari siapapun orang yang dinilai pro kemerdekaan Timor Leste.

Bang Peter tetap memilih bertahan di Dili itu jelas karena mengikuti naluri jurnalistiknya. Dia menjadi saksi hidup bagaimana aparatur dan kelompok pro Indonesia membumihanguskan kota Dili. Dia merekam dan menulis semua yang terjadi saat Dili hancur luluh lantak. Saya  akhirnya mengungsi beberapa hari di sekitar bandara Komoro untuk menunggu antrian penerbangan. Sementara, bang Peter tetap menjalankan tugas jurnalistiknya walau keadaan sangat chaos.

Sebelum berangkat ke bandara, saya mengajak bang Peter untuk segera cabut dari Dili. Tapi seperti biasa dengan kemauannya yang keras dia berkata “Kalau saya ikut pulang, siapa yang akan memberitakan semua kejadian ini. “Kulit dan muka saya kan kayak orang Timtim, jadi pasti tidak dicurigai sama kelompok pro Indonesia,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Peter adalah satu-satunya wartawan Indonesia terakhir yang masih terus bertahan di Dili sampai sebulan setelah referendum. Ada beberapa wartawan asing yang masih bertahan tetapi mereka aman karena berada di markas Unamet (Lembaga PBB) yang dijaga ketat oleh pasukan PBB.

Sayangnya harian Suara Bangsa tidak bisa memuat semua hasil karya tulis dan foto bang Peter di Timor Leste karena berbagai alasan keamanan. Mudah-mudahan semua dokumen ini masih disimpan bang Peter, sehingga suatu saat bisa dibuat dalam buku sebagai bagian dari sejarah kelam pendudukan Indonesia di bumi Timor Leste.

Jejak Wartawan Pejuang

Saya pertama kali mengenal Bang Peter Rohi saat mulai bekerja di harian Suara Pembaruan, sekitar tahun 1992. Sosoknya memang wartawan yang idealis, pekerja keras, berani, independen, tak mudah menyerah dan pantang pulang ke meja redaksi jika belum berhasil mendapatkan berita yang ditugaskan.

Bang Peter adalah tipikal wartawan spartan yang tidak pernah puas dan sangat sederhana, bisa hidup dimana saja. Walau umur kita terpaut sangat jauh tapi itu tidak membuat jarak, malah bisa berkawan dekat. Bang Peter, sangat luar biasa pengalaman jurnalistiknya, reportase investigasinya, penulisannya yang mendalam dan tak pernah mengenal lelah.

Saat kami berdua sama-sama keluar dari Suara Pembaruan dan bergabung ke Suara Bangsa di bulan Juli 1998, dia meyakinkan saya bahwa di Suara Pembaruan itu sudah koran besar, sudah nyaman, dan tak ada lagi tantangan. “Saya yang sudah beranak istri dan berumur saja berani keluar dari zona nyaman, masa kau yang muda tak berani…? “..Sudahlah tak usah takut, burung di udara saja dikasih Tuhan makan..” Begitulah gaya bang Peter memprovokasi saya dan teman-teman lain sekitar 20 orang dari Suara Pembaruan yang eksodus ke Suara Bangsa.

Sayangnya umur Suara Bangsa tak bertahan lama hanya sampai Desember 1999, setelah dua petingginya meninggal dalam waktu berdekatan yaitu bang Moxa Nadeak dan bang Petron. Kepergian dua orang yang menjadi mentor dan pendiri Suara Bangsa ini memang membuat kami dan bang Peter sempat drop karena media ini kesulitan keuangan dan gagal mencari investor baru.

Setelah era reformasi dan Sinar Harapan terbit kembali, bang Peter sempat mengajak saya untuk ikut bergabung karena banyak alumni Suara Bangsa dan Suara Pembaruan ada disana. Namun  karena saya tidak cocok chemistry-nya dengan Pemred Sinar Harapan, saya menolak. Saya akhirnya sempat bergabung dengan Metro TV bersama dengan dua kawan alumni Suara Bangsa dan Suara Pembaruan, alm.Tuti Gintini dan Syah Sabur.

Peter Rohi sudah 60 tahun berkarier sebagai wartawan dan Pemimpin Redaksi di berbagai media massa. Dia tipikal wartawan petarung dan spesialis penerbit koran-koran baru. Banyak media baru yang lahir dari karyanya, walaupun sebagian dari media itu sudah tutup karena bisnisnya yang bermasalah. Peter setiap membuat media baru selalu berkata, "kita ini semuanya jago bikin koran dan ngurus redaksi tetapi tak mampu mengurus bisnis media yang bisa menghasilkan keuntungan," ujarnya dengan nada tinggi.

Setelah saya berkarier sebagai pengacara, lama tidak bersua dengan bang Peter, yang setelah pensiun dari Sinar Harapan, pulang ke Surabaya. Pernah beberapa kali ketemu di acara reuni alumni Suara Pembaruan. Dia masih seperti dulu, tetap masih setia sebagai wartawan pengelana yang bisa menulis di mana saja dan kapan saja.

Saat saya membuat portal investigasi dan news "Law-Justice.co" tahun 2018, saya sempat mengontaknya untuk menjadi mentor redaksi. Namun karena dia sudah menetap di Surabaya, saya hanya bisa berhubungan melalui wa saja. Peter sempat menulis buku tentang tokoh yang menjadi idolanya, Soekarno dan tentang perjuangan pers di Indonesia. Sebelum meninggal, saya dengar dia masih sempat ikut dalam tim kerja yang sedang bersiap menerbitkan harian Karawang-Bekasi, di saat kondisi tubuhnya sedang tidak baik.

Begitulah besar cintanya pada profesi dan dunia wartawan. Bang Peter adalah wartawan bohemian, pengelana yang gigih untuk terus berjuang mempertahankan kerja jurnalistik sampai akhir hayatnya. Jejak hidupnya penuh petualangan dan kaya berbagai pengalaman hidup. Bayangkan, dari seorang mantan prajurit marinir bisa bertransformasi menjadi wartawan. Dia bukanlah wartawan biasa, tapi wartawan paripurna dan jejaknya ada di setiap masa. Selamat jalan dalam keabadian Bang Peter…Senanglah di surga bersama burung-burung yang selalu ada dalam cerita mu...

(Warta Wartawati\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar