Haris Azhar: Kelucuan Sidang Novel Tidak Cukup Diungkapkan Dengan Tawa

Sabtu, 13/06/2020 20:20 WIB
Salah seorang pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan (Foto: Robinsar Nainggolan/Law-justice.co)

Salah seorang pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan (Foto: Robinsar Nainggolan/Law-justice.co)

law-justice.co - Kasus penganiayaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan kini memasuki babak baru. Jaksa hanya menuntut pelaku dengan hukuman satu tahun penjara. Direktur Lokataru Haris Azhar mengatakan, persidangan itu adalah sebuah kelucuan yang bahkan tidak cukup diekspresikan dengan tertawa.

"Pengadilan novel itu lucunya tidak bisa sekedar diekspresikan lewat tawa. Kita mungkin harus menemukan ekpresi baru untuk kelucuan seperti ini," kata Haris dalam sebuah obrolan Webinar di Jakarta, Jumat (12/6/2020).

Haris meyakini, persidangan kasus Novel Baswedan ini merupakan sebuah dagelan yang dipertontonkan hanya untuk menujukkan bahwa aparat penegak hukum telah bekerja. Mengingat, isu penganiayaan terhadap Novel telah menjadi atensi publik dan dicap sebagai hutang pemerintah.

"Jadi pengadilan ini memang didesain untuk membahagiakan penguasa karena kasus Novel ini seperti tolak ukur keberhasilan pemeritah Jokowi. Dalam setiap pergantian Kapolri, ini menjadi sebuah hutang besar," ucap bekas Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu.

Sebagaimana diketahui, salah satu dari 2 terdakwa kasus penganiayaan dengan penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, yakni Ronny Bugis, hanya dituntut satu tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Menurut JPU, Ronny memang terbukti bersalah. Tapi yang membuat tuntutannya ringan adalah perilaku dia di persidangan yang dianggap baik, serta mempertimbangkan masa baktinya kepada institusi Polri selama 10 tahun.

Sejak awal, Haris dan tim kuasa hukum Novel meragukan bahwa kedua terdakwa adalah otak dari kejadian tersebut. Diyakini, ada orang besar yang berusaha dilindungi dengan menjadikan dua orang sebagai tumbal.

"Dilihat dari rekam jejak penyidikan, mereka sepertinya bukan pelaku utama. Banyak fakta di persidangan yang tidak cocok. Ketika dipaksakan untuk diproses, jadinya ya lucu-lucuan," kata Haris.

Ditambah lagi, tuntuan satu tahun penjara menjadi tidak masuk akal bagi Haris. Mengingat, kasus kekerasan terhadapa Novel yang terjadi pada 11 April 2017 itu, dilakukan secara sistematis dan terencana. Beberapa saksi memberi keterangan bahwa pelaku sempat memantau situasi rumah Novel dalam beberapa hari sebelum kejadian. 

"Mungkin dakwaannya tertukar sama berkas perkara pidana pelanggaran SIM," canda Haris.

 

(Januardi Husin\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar