Sejak 2015, Polisi Minneapolis Telah Membuat 44 Orang Pingsan

Kamis, 04/06/2020 21:01 WIB
Protes di Minneapolis atas kematian George Floyd di tangan polisi (Getty Images/Time Magazine)

Protes di Minneapolis atas kematian George Floyd di tangan polisi (Getty Images/Time Magazine)

law-justice.co - Sejak awal 2015, petugas dari Departemen Kepolisian Minneapolis telah membuat  44 orang pingsan dengan cara mengekang leher mereka. Demikian laporan analisis NBC News berdasarkan catatan dari data kepolisian.  

Polisi Minneapolis melakukan pengekangan leher setidaknya 237 kali selama rentang itu, dan dalam 16 persen insiden, tersangka kehilangan kesadaran. Kurangnya data yang tersedia, membuat hal ini sulit dibandingkan dengan kota lain di AS. 

Polisi mendefinisikan pengekangan leher yaitu ketika seorang petugas menggunakan lengan atau kaki untuk menekan leher seseorang, tanpa secara langsung menekan jalan napas. 

Pada tanggal 25 Mei, Petugas Kepolisian Minneapolis Derek Chauvin ditangkap karena rekama video menunjukkan ia sedang berlutut di leher rawan George Floyd yang terborgol selama delapan menit, termasuk hampir tiga menit setelah ia berhenti bernapas. Chauvin dituntut pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan berencana atas kematian Floyd.

Lebih dari selusin pejabat polisi dan pakar penegak hukum mengatakan kepada NBC News bahwa taktik khusus yang digunakan Chauvin - berlutut di leher tersangka - tidak diajarkan atau dikenai sanksi oleh agen kepolisian mana pun. 

Seorang pejabat kota Minneapolis mengatakan bahwa taktik Chauvin tidak diizinkan oleh departemen kepolisian Minneapolis. Bagi sebagian besar departemen kepolisian besar, variasi pengekangan leher, yang dikenal sebagai chokeholds, sangat dibatasi meski pun tidak dilarang.

Versi manual kebijakan Departemen Kepolisian Minneapolis yang tersedia secara online, bagaimanapun, memungkinkan penggunaan pengekangan leher yang dapat membuat tersangka tidak sadar, dan protokol untuk penggunaannya belum diperbarui selama lebih dari delapan tahun.

Data kepolisian Minneapolis menunjukkan bahwa dalam sebagian besar kasus penggunaan kekuatan yang melibatkan pengekangan leher adalah ketika seorang tersangka melarikan diri dengan berjalan kaki atau berontak ketika mereka ditahan. Hampir setengah dari orang yang kehilangan kesadaran terluka, menurut laporan, meski tidak menjelaskan keparahan dari cedera tersebut.

(Liesl Sutrisno\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar