RUU Pemilu, Ambang Batas Parlemen Diusulkan Naik 7 Persen

Rabu, 03/06/2020 14:01 WIB
Ilustrasi RUU Pemilu (Foto: Detik)

Ilustrasi RUU Pemilu (Foto: Detik)

law-justice.co - Dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilu yang baru, ambang batas parlemen diusulkan naik dari 4 persen menjadi 7 persen. Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mengatakan, usulan itu akan memunculkan polemik karena dikhawatirkan mengurangi prinsip keterwakilan masyarakat dalam Pemilu. Menurut Dia, angka 4 persen sudah sangat ideal.

Saleh berharap, rencana perubahan UU Pemilu ini jangan disahkan terburu-buru sebelum mendengar langsung aspirasi masyarakat.

"Menurut saya, semakin banyak kepentingan masyarakat yang terakomodir, maka UU tersebut akan semakin baik. Karena itu, tidak perlu buru-buru. Masih cukup waktu untuk mendengar dan menerima masukan dari masyarakat luas," katanya kepada wartawan belum lama ini.

Dia melanjutkan, ambang batas parlemen yang ada di dalam draf RUU Pemilu harus dibahas dan dikaji lebih dalam lagi. Yang tertulis di dalam draf tersebut belum final karena masih rancangan awal.

"Fraksi-fraksi belum diminta pandangannya. Masyarakat juga belum didengar masukan dan aspirasinya. Masih banyak waktu untuk mendiskusikan dan membahasnya," jelas Saleh.

Saleh menjelaskan, jika ambang batas parlemen ditetapkan 7 persen, akan banyak kursi DPR RI yang hilang. Berapa suara masyarakat yang tidak bisa dikonversi dengan kursi? Jumlahnya bisa mencapai 40 kursi. Suara rakyat untuk memilih itu akan hilang dan diganti oleh partai-partai lain yang kebetulan suaranya lebih banyak.

"Semangatnya adalah kebersamaan. Kalaupun ada niat penyederhanaan, tetapi tidak boleh melenceng jauh untuk menghabisi partai-partai tertentu. Kalau konsep penyederhanaan itu, saya kira semuanya memahami. Dan itu sudah dilakukan beberapa kali. Bahkan, dalam setiap pembahasan UU pemilu, hal itu dilakukan agar lebih akomodatif. Alangkah indahnya jika ambang batas itu tidak diinaikkan lagi," tutup Saleh.

(Ricardo Ronald\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar