China Ungkap Gaji Tenaga Kerjanya di RI, Jauh Dibanding Pekerja Lokal

Rabu, 03/06/2020 08:23 WIB
Ilustrasi Tenaga kerja asal China (Tirto)

Ilustrasi Tenaga kerja asal China (Tirto)

Jakarta, law-justice.co - Minister Counselor Kedutaan Besar China di Indonesia, Wang Liping merespon soal isu tenaga kerja asing (TKA) khusus dari China menjadi sorotan tajam publik di Indonesia.

Dia memastikan, kecuali sebagian merupakan kalangan manajemen, tenaga kerja yang lainnya adalah teknisi dan pekerja terampil.

Sebelum datang ke Indonesia kata dia, mereka sudah semuanya menyerahkan dokumen-dokumen sesuai dengan persyaratan Kementerian Ketenagakerjaan dan Ditjen Imigrasi, seperti sertifikat pendidikan, sertifikat keterampilan dan kualifikasi lainnya, dan juga sudah mendapatkan persetujuan yang diperlukan.

"Kalau kita lihat situasi pada saat ini, setiap pekerja Tiongkok di Indonesia setidaknya bisa menciptakan 3 lapangan kerja untuk masyarakat lokal Indonesia. Contohnya, proporsi pekerja Tiongkok terhadap pekerja Indonesia di Taman Industri IMIP adalah 1 banding 10; JD.id adalah 1 banding 70, dan Taman Industri Julong adalah 1 banding 150," ujar Wang seperti melansir detik.com, Selasa (2/6/2020).

Oleh karenanya menurut dia, pekerja terampil China pada umumnya dibayar USD 30 ribu per tahun atau sekitar Rp 434,5 juta (Kurs Rp 14.500). Angka itu belum termasuk biaya penerbangan internasional dan akomodasi yang wajib ditanggung oleh perusahaan.

"Seorang pekerja terampil Tiongkok pada umumnya dibayar US$ 30 ribu per tahun ditambah biaya penerbangan internasional dan akomodasi yang wajib ditanggung oleh perusahaan, sementara itu seorang pekerja lokal Indonesia dibayar 10% dari total biaya pekerja Tiongkok," tegasnya.

Disisi lain kata dia, demi mengendalikan biaya, investor China tak mempunyai alasan untuk tidak mempekerjakan pekerja lokal.

Bagi beberapa proyek yang diinvestasikan oleh pelaku usaha China, memang
Indonesia tak mampu menyediakan cukup tenaga teknis dan pekerja terampil, makanya perusahaan China harus menggunakan pekerja China meskipun biayanya tinggi.

Namun, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah merumuskan rencana lokalisasi, yakni lebih banyak mempekerjakan pekerja lokal demi menurunkan biaya.

"Sebagai contoh, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan secara bertahap beralih ke manajemen lokalisasi. HUAWEI sedang melakukan pelatihan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) pekerja lokal, dan sampai sekarang pekerja Indonesia yang menerima pelatihan tersebut telah melebihi 7.000 orang," ujarnya.

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar