Terus Dituduh AS, Peneliti Wuhan Akhirnya Ungkap Fakta Soal Covid-19

Jum'at, 29/05/2020 13:52 WIB
Ilmuwan dan Peneliti dari Laboratorium Wuhan soal Virus Corona, Shi Zheng Li (Tribunnews)

Ilmuwan dan Peneliti dari Laboratorium Wuhan soal Virus Corona, Shi Zheng Li (Tribunnews)

Jakarta, law-justice.co - Peneliti laboratorium, China sudah tak tahan dengan tingkah Amerika Serikat, khususnya Donlad Trump yang terus menuduh lab Wuhan sebagai tempat diproduksinya virus yang kini sudah menyebar ke 216 negara itu.

Peneliti wanita bernama Shi Zeng Li itu pun mengungkap sejumlah temuan dan fakta terkait virus corona. Dia membantah bahwa lab Wuhan menyebarkannya.

Dia lantas menegaskan bahwa temuan dan penelitiannya sangat bermanfaat untuk mengatasi pandemi. Apalagi ia sendiri sudah meneliti soal virus bawaan kelelawar ini selama 15 tahun terakhir.

"Temuan saya membuat kita paham penyebab penyakit pneunomia yang belum diketahui dalam waktu lebih singkat begitu kasus pertama muncul di Wuhan akhir tahun lalu," kata Zeng Li dalam wawancara dengan stasiun berita CGTN, seperti dikutip dari South China Morning Post, Jumat (29/5/2020).

Saat ini Shi Zeng Li menjabat sebagai direktur pusat pengkajian penyakit menular di Akademi Sains China di Institut Virologi Wuhan.

Ia pun mejelaskan bagaimana munculnya virus tersebut. Ia mengaku penyebab penyebaran ini ditemukan dengan melakukan ujicoba transgenik tikus dan resus monyet di awal Februari dengan menyimulasikan gejala-gejala yang dialami pada manusia yang mengidap penyakit covid-19.

Ia menjelaskan alasan kenapa China bisa begitu cepat mengumumkannya sebagai penyakit corona dan diduga bawaan dari kelelawar karena tak lepas dari hasil penelitiannya selama 15 tahun terakhir.

Penelitiannya yang memakan waktu belasan tahun itu fokus mempelajari soal coronavirus yang dibawa oleh kelelawar, dan kemungkinannya penyakit itu bisa melompat ke spesies lain. Pengalaman ini membuat mereka bisa bergerak cepat mencari solusi teknikal begitu ada penyakit ditemukan.

"Contohnya ketika kami terapkan metode deteksi antibodi dan nucleic acid, dan penggunaan teknologi isolasi virus yang sebenarnya semua ini butuh waktu sangat banyak untuk dieksplorasi penuh, tapi begitu kami punya sampelnya ini bisa diidentifikasi patogennya," terangnya.

Bertahun-tahun katanya dia habiskan untuk pelajari coronavirus di laboratorium. Bahkan dia mengatkan penelitiannya dimulai sejak wabah SARS merebak di China pada 2002-2003 yang juga diduga dari kelelawar. Sejak saat itu, ia dan tim-nya fokus meneliti virus-virus yang dibawa oleh binatang malam tersebut.

Tapi, karena lokasi laboratoriumnya yang berada di kota yang menjadi awal mula pandemi. Zheng Li menyadari ada konspirasi yang menyebut penyebaran virus corona kali ini sebuah konspirasi dan Zheng Li pun terseret.

Adalah Presiden AS dan pejabat AS yang gencar melakukan konspiras tersebut. Mereka menuduh lab Wuhan sebagai sumber virus yang menyebabkan covid-19. Kini akibat virus ini, ratusan ribu orang di seluruh dunia telah meninggal dunia, dan jutaan lainnya tertular.

 

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar