Diserang Corona Jilid II, Dokter China Ungkap Kebohongan di Kota Wuhan

Minggu, 24/05/2020 08:41 WIB
Penasihat Medis Senior China Dokter Zhong Nanshan (detikcom)

Penasihat Medis Senior China Dokter Zhong Nanshan (detikcom)

Jakarta, law-justice.co - China kini kembali diserang oleh covid-19 jilid II. Hal itu terbukti dengan dilockdownnya beberapa kota akhir-akhir ini, termasuk munculnya kasus baru di Kota Wuhan, yang menjadi kota Asal virus corona.

Di tengah muncul kembalinya kasus ini, seorang dokter China yang juga menjadi Penasihat Kesehatan Senior China Zhong Nanshan meminta China untuk tidak gegabah mengklaim virus corona sudah hilang.

Dia lantas membongkar kebohongan yang dilakukan oleh pemerintah Kota Wuhan, saat kasus pertama muncul. Menurut dia, perneyataan pemerintah yang mengatakan bahwa virus corona tak menular antar manusia, dan juga mengklaim dapat mencegahnya menjadi bumerang bagi China, dan Kota Wuhan khususnya.

Padahal dia mengaku saat Ia ke Kota Wuhan, banyak petugas medis yang mengatakan situasi di Wuhan sangat buruk.

"Pada awalnya mereka diam, dan kemudian saya berkata mungkin kita memiliki banyak orang yang terinfeksi," katanya seperti dikutip dari CNN.

Dia menjelaskan abhwa dirinya sudah lama menaruh curiga terhadap angka kasus di Kota Wuhan. Sebab, menurutnya ada kejanggalan dengan jumlah kasus yang tak bergerak selama 10 hari, dimana tetap berada pada angka 41.

"Saya tidak percaya hasil itu, jadi saya bertanya dan kemudian, Anda harus memberi saya angka sebenarnya. Kurasa mereka enggan menjawab pertanyaan saya," jelasnya.

Apa yang dicurigainya itu benar terjadi. Sebab, pemerintah memberi tahu bahwa sebenarnya jumlah kasus saat itu sudah hampir 200, yakni 198 kasus. Dan dari jumlah itu, sudah ada 3 orang yang meninggal, dan 13 tenag medis tertular virus corona. Hal itu terungkap dalam pertemuan dengan pejabat pemerintah pusat, termasuk Perdana Menteri China Li Keqiang.

Pada saat itu juga dia langsung mengusulkan lockdown terhadap kota Wuhan. Apa yang diusulkannya disambut baik pemerintah, dan seperti diketahui kota WUhan dilockdown selama 76 hari.

Apa yang disampaikan Zhong diakui Wali Kota Wuhan Zhou Xianwang. Namun, dia mengatakan bahwa pemerintahnya tidak bisa mengungkapkan informasi tentang virus corona saat itu, setelah mendapatkan wewenang baru bisa menyampaikannya.

Akibatnya, menurut laporan Kantor Berita Xinhua, milik Pemerintah China memecat beberapa pejabat senior, termasuk dua pejabat komisi kesehatan provinsi, serta ketua Partai Komunis China di Wuhan dan provinsi Hubei.

"Ini membuat pemerintah memerintahkan semua kota, semua departemen pemerintah, harus melaporkan jumlah sebenarnya penyakit, jadi jika Anda tidak melakukan itu, Anda akan dihukum. Jadi sejak tanggal 23 Januari, saya pikir semua data sudah benar," kata Zheng.

Kini Zhong membicarakan mengenai vaksin. Menurutnya ada tiga vaksin Cina sedang dalam uji klinis , namun solusi lengkapnya kemungkinan akan masih lama lagi.

"Kita harus menguji lagi dan lagi dan lagi, dengan menggunakan berbagai jenis vaksin."

"Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan apa pun jenis vaksin yang tersedia untuk jenis virus corona. Itu sebabnya saya menyarankan agar persetujuan akhir dari vaksin (akan) memakan waktu lebih lama," jelasnya.

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar