Di Tengah Pandemi, AS Pamer Senjata Laser, Mampu Membakar Drone

Sabtu, 23/05/2020 17:03 WIB
Momen saat USS Portland menembakkan senjata laser dalam uji coba di Samudra Pasifik (US Navy via CNN)

Momen saat USS Portland menembakkan senjata laser dalam uji coba di Samudra Pasifik (US Navy via CNN)

Jakarta, law-justice.co - Di tengah Pandemi Covid-19, Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) memamerkan senjata baru mereka jenis laser. Menurut pernyataan Armada Pasifik Angkatan Laut Jumat, (22/5/2020) senjata laser ini berenergi tinggi yang dapat menghancurkan pesawat di tengah penerbangan.

Dalam sebuah gambar dan video yang disediakan oleh Angkatan Laut menunjukkan kapal dermaga amfibi USS Portland berhasil mengeksekusi target.

"implementasi sistem tingkat pertama dari laser negara-padat kelas energi tinggi, untuk menonaktifkan pesawat drone udara," kata pernyataan itu seperti dilansir CNN.

Gambar dan video juga menunjukkan laser yang berasal dari dek kapal perang. Klip video pendek itu juga menunjukkan apa yang tampaknya merupakan pembakaran drone.

Angkatan Laut tidak memberikan lokasi tertentu dari tes demonstrator sistem senjata laser (LWSD), hanya mengatakan bahwa itu terjadi di Pasifik pada 16 Mei.

Kekuatan senjata itu tidak diungkapkan, tetapi sebuah laporan tahun 2018 dari Institut Internasional untuk Studi Strategis mengatakan itu diharapkan menjadi laser 150 kilowatt.

"Dengan melakukan uji lanjutan di laut terhadap UAV dan kerajinan kecil, kami akan memperoleh informasi berharga tentang kemampuan Demonstrator Sistem Senjata Laser Solid State terhadap potensi ancaman," Kapten Karrey Sanders, komandan Portland, mengatakan dalam pernyataan itu.

"Dengan kemampuan canggih baru ini, kami mendefinisikan kembali perang di laut untuk Angkatan Laut."

Angkatan Laut mengatakan laser, yang disebutnya senjata energi terarah (DEW), bisa menjadi pertahanan efektif terhadap drone atau kapal kecil bersenjata.

"Pengembangan DEWs Angkatan Laut seperti LWSD memberikan manfaat perang langsung dan memberikan komandan peningkatan ruang keputusan dan opsi respons," kata pernyataan itu.

(Ricardo Ronald\Yudi Rachman)
Share:



Berita Terkait

Komentar