Masker Non Medis Produksi Kim Kardashian West Picu Kontroversi

Sabtu, 23/05/2020 21:01 WIB
Kim Kardashian West (Washington Post)

Kim Kardashian West (Washington Post)

law-justice.co - Bintang reality show Kim Kardashian West menjadi salah satu desainer yang ikut memanfaatkan krisis virus korona dengan meluncurkan serangkaian masker wajah, yang ternyata memicu kontroversi.

Diluncurkan pada akhir pekan di bawah label Skims, masker non-medis dikeluarkan dalam lima warna kulit, dan dilaporkan terjual habis dalam waktu kurang dari 30 menit. Bagi yang belum kebagian, masuk ke dalam dalam daftar tunggu. 

Namun keberhasilan penjualan tersebut dibarengi dengan tuduhan “rasisme kasual”. Pendapat yang beredar di media sosial mengatakan bahwa warna nude yang dikeluarkan tidak sesuai dengan warna kulit orang hitam. Dilansir dari The Guardian, pihak Skims belum memberikan jawaban saat diminta konfirmasi. 

Skims mengumumkan bahwa mereka akan menyumbangkan 10.000 masker ke berbagai badan amal lokal di Los Angeles, di mana mengenakan masker adalah wajib jika jarak fisik tidak memungkinkan. 

Masker non medis produksi Kardashian-West (Daily Mail)

Sejumlah merek fesyen lainnya merespons pandemi virus corona dengan menata ulang rantai pasokan mereka dengan membuat masker dan peralatan pelindung pribadi lainnya. Dalam banyak kasus bukan untuk mencari untung. 

Pada saat yang sama, beberapa perusahaan penghasil untung besar telah dituduh “melakukan coronawashing” atau menggunakan pandemi sebagai sarana publikasi. Yang lain, seperti ASOS dan Boohoo, juga dikritik karena mengambil untung dari krisis dengan membuat “masker mode" dalam cetakan leopard dan paisley yang terbukti tidak bisa atau kurang dalam memberikan perlindungan terhadap virus

Masker Skims dijual delapan dollar per buah dan tersedia dalam warna bernama sand, clay, cocoa, sienna dan onyx. Mengingat masker itu adalah "non-medis”, situs penjualan memberikan memperingatkan bahwa masker “bukan respirator dan tidak akan menghilangkan risiko tertular penyakit atau infeksi" - memakainya hanya akan tampak lebih bergaya daripada tindakan pencegahan pandemi.

Ini bukan pertama kalinya merek Kardashian West memicu kontroversi rasial. Skims awalnya diluncurkan pada 2019 sebagai Kimono, sebuah nama yang menuai kritik karena dianggap mengeruk untung dari budaya milik orang Jepang. 

Walikota Kyoto, Daisaku Kadokawa, menulis surat terbuka kepada Kardashian-West, meminta agar kata kimono "tidak boleh dimonopoli” dan memintanya untuk mempertimbangkan kembali nama merek, hal yang sudah sepatutnya dia lakukan.

(Liesl Sutrisno\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar