Sosiolog Sebut Masyarakat Tak Terpengaruh dengan Lonjakan Kasus Corona

Sabtu, 23/05/2020 08:32 WIB
Ilustrasi keramaian pusat perbelanjaan di Jakarta (Foto: Antara/Andrea)

Ilustrasi keramaian pusat perbelanjaan di Jakarta (Foto: Antara/Andrea)

Jakarta, law-justice.co - Melonjaknya jumlah kasus pasien Covid-19 yang sangat tinggi dalam dua hari terakhir di Indonesia disebut tidak membuat masyarakat terkejut atau mendapatkan shock therapy.

Hal itu disampaikan oleh Sosiolog Universitas Airlangga, Bagong Suyanto dalam menanggapi fenomena kerumunan warga menjelang lebaran dibeberapa daerah.

"Mungkin bagi sebagian yang miliki pengetahuan baik, catatan angka itu menjadi shock therapy dan dijadikan preferensi untuk disikapi. Tapi untuk lainnya, itu tak akan berpengaruh," katanya seperti melansir beritasatu.com, Jumat (22/05).

Kata dia, berapa pun jumlah kasus positif Covid-19 yang terjadi, ada sekelompok masyarakat yang memiliki logika sendiri. Ini terbukti dari pasar yang masih penuh dan tempat publik yang masih ramai.

"Banyak masyarakat yang tidak rasional dan catatan angka itu tidak menjadi dasar mereka berperilaku," ujarnya.

Menurutnya, pola pikir masyarakat kita percampuran antara rasional dan keyakinan. Banyak yang masih berpikir bahwa hidup dan mati adalah persoalan yang diatur oleh Tuhan.

Adanya seruan dan penjelasan dari pejabat pun tidak akan banyak didengar oleh masyarakat pada kelompok ini. Oleh karena itu, kata Bagong, pemerintah perlu melibatkan ulama atau tokoh masyarakat yang memiliki kedekatan personal dengan kelompok masyarakat ini.

Selain itu, masyarakat perlu diberikan penjelasan dan penghargaan secara sosial jika melakukan protokol kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga tidak akan bisa dilakukan maksimal karena ada masalah ekonomi. Oleh sebab itu, harus dicari pendekatan lain yang tidak hanya menjelaskan rasional medis.

Menurut Bagong, rekayasa perilaku sosial perlu dilakukan, sehingga masyarakat akan rela melakukan sesuatu dengan menyadari manfaatnya secara medis maupun sosial.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar