Anick HT, Penulis

Atas Nama Derita, Mulai dari Karantina di Mesjid Hingga Lebaran Online

Jum'at, 22/05/2020 14:35 WIB
Salat di Masjid saat pendemi covid-19 (Suara surabaya)

Salat di Masjid saat pendemi covid-19 (Suara surabaya)

Jakarta, law-justice.co - Sahabat, adakah di antara kita yang tak terpengaruh mewabahnya virus korona saat ini? Semua aspek dalam dunia ini berubah. Semua alur kehidupan manusia bergeser, bahkan terbalik sedemikian rupa.

Pada titik tertentu, wabah ini melahirkan satu normalitas baru yang berbeda dengan normalitas yang terjadi sebelumnya. Kita semua menjadi saksi dari perubahan besar ini.

Virus kecil ini memiliki daya yang besar untuk memaksa kita mengosongkan rumah-rumah ibadah, menghentikan pesta-pesta, menggagalkan ribuan perayaan pernikahan, dan bahkan menutup ritual sakral kaum muslim sedunia: umrah, dan mungkin ibadah haji nanti.

Tak ada detik berlalu tanpa berita tentang korona. Buku ini menyebutnya sebagai: terlalu banyak bom atom di satu era. Namun di balik dentuman berita dan peristiwa itu, perlu ada rekaman lain yang mengabadikan suara batin, cerita kelam, dan kisah dramatis di belakang berita-berita permukaan itu.

Di sinilah kemudian, sekali lagi, Denny JA bereksperimen untuk merumuskan sebentuk narasi cerita batin yang berlatar peristiwa nyata, namun sekaligus membangun kisah dramatis di belakangnya dalam bentuk fiksi. Ia menamainya sebagai cerpen esai.

Kegagapan kita semua menghadapi wabah ini melahirkan kisah-kisah dramatis, terkadang kelucuan tragis, yang perlu juga dicatat sebagai satu ekspresi manusia menghadapi apa yang menimpanya.

Sebagai prasyarat menempelkan cerpen ini dengan fakta yang menghiasi percaturan dan perang melawan wabah ini, maka kehadiran catatan kaki yang merupakan rangkaian fakta menjadi mutlak.

Denny JA sendiri tak hanya berteori. Buku ini memuat delapan cerpen esai yang merupakan eksperimennya dalam upaya mengabadikan suara batin itu.

Lima Gagasan Utama Buku

1. KEYAKINAN AGAMA VERSUS KORONA

2. DOKTER, PARA PENGABDI YANG MEMPERTARUHKAN NYAWA

3. LARANGAN MUDIK DAN LEBARAN ONLINE

4. KETIKA PAK MENTERI DIMINTA MUNDUR

5. KETAATAN PADA GURU DAN AKIBATNYA

-000-

Tiba-tiba kita dikejutkan oleh berita bahwa 300 orang dikarantina di dalam sebuah masjid di Kebon Jeruk, Jakarta. Di dalamnya terdapat 78 warga asing. Mereka adalah kelompok Jamaah Tabligh yang dikarantina karena 3 orang dideteksi potitif korona.

Salah satu dari 300 orang yang dikarantina tersebut adalah Iman, yang dalam cerpen berjudul “Kak, Aku Dikarantina di Mesjid” adalah adik dari tokoh utama, Darta.

Iman adalah seorang yang hijrah dan merasa menemukan dunia barunya setelah bergabung dengan Jamaah Tabligh, sebuah kelompok dakwah yang mengembangkan gaya hidup seperti Nabi Muhammad SAW.

Kelompok inilah yang mengubah Iman menjadi seorang pendakwah, setelah hidupnya berantakan ditinggal wafat oleh istrinya.

Kelompok ini berpusat di India, dan telah ada di 220 negara dengan anggota sekitar 140 juta. Melalui Iman, cerpen ini mengeksplorasi perdebatan tentang pandangan Islam ala Jamaah Tabligh dengan pemikiran rasional yang dihadirkan melalui Wahib, adik pertama Darta yang Ph.D di Amerika dalam studi Islam.

Pertentangan antara penjiwaan Islam ala Iman dan pemikiran rasional ala Wahib menjadi perdebatan yang menarik dan memberikan sudut pandang yang beragam dalam memaknai Islam.

Di luar perdebatan itu, cerpen ini juga memperlihatkan argumen di balik ngototnya Jamaah Tabligh tetap menyelenggarakan acara-acara yang menghadirkan ribuah jemaah yang pada akhirnya menjadi kluster besar penyebaran virus korona di beberapa negara.

DUA

Kisah kedua ini diinspirasi oleh seorang dokter di Prancis yang berusia 68 tahun. Ia seharusnya sudah pensiun, namun karena wabah korona ini, ia kembali lagi turun lapangan dan membantu menangani korban virus korona.

Ia sendiri kemudian terpapar virus tersebut dan meninggal.

Melalui tuturan tokoh utama bernama Jaka, cerpen berjudul “Dokter Itu Sampai di Puncak Gunung” ini bercerita tentang Cahya, seorang dokter yang adalah kakak Jaka, dan pengabdiannya yang dramatis menghadapi pandemi.

Ada pergulatan batin yang dalam ketika Cahya memutuskan untuk berdedikasi terlibat menangani korban virus. Meski ia tergolong seorang dokter yang mapan, namun minimnya ahli paru-paru dalam masa pandemi ini membuatnya memenuhi panggilan jiwanya.

Salah satu yang menarik adalah cara cerpen ini menyisipkan pesan kuat yang tertanam dalam benak Cahya sebagai seorang dokter, untuk mencapai puncak gunung. Puncak gunung adalah gambaran capaian paripurna dari seorang manusia, selayak Mozart ketika main piano, dan Van Gogh ketika melukis.

Dan itulah pesan terakhir Cahya kepada Jaka, bahwa ia telah sampai ke puncak gunung, lalu wafat.

Melalui keluhan Cahya, cerpen ini juga menggarisbawahi betapa rentannya penyebaran korona ini akibat penanganan yang berantakan dan fasilitas yang tak memadahi di rumah sakit. Bahkan, kemungkinan orang sehat menjadi terpapar virus justru di rumah sakit sangat tinggi.

TIGA

Ini kisah menarik tentang Eko, sahabat penutur utama bernama Darta. Kisah berjudul “Lebaran Online” ini dilatari fakta tentang ditolaknya mayat pasien korona di beberapa daerah, karena kekhawatiran berlebihan terhadap penyebaran virus ini.

Eko nekat pulang kampung, karena selama beberapa hari dihantui oleh mimpi bertemu dengan ibunya. Meski Darta, dan bahkan kakak Eko sendiri sudah melarangnya pulang karena takut malah membawa virus ke kampung, Eko merasa bahwa umur ibunya tersisa tak lama lagi.

Eko juga merasa sehat, tanpa gejala apapun. Diam-diam, Eko nekat pulang, dan terjadilah apa yang dikhawatirkan: Eko pulang, lalu menulari ibunya yang lebih rentan, sehingga ibunya wafat duluan, sebelum dua hari kemudian Eko juga meninggal.

Tragisnya, masyarakat di daerahnya menolak Eko dan ibunya dimakamkan di sana. Entah mengapa, masyarakat percaya, mayat itu walau sudah ditanam di tanah, masih bisa menularkan. Bahkan ada yang percaya mayat yang mat karena virus korona membawa petaka yang lebih besar di desa.

Darta sendiri menyadari kesulitan Eko di tengah pandemi ini. Usahanya dalam merintis ojek online terpukul. Demikian juga pandangan agamanya yang sangat terganggu dengan kebijakan jaga jarak akibat wabah ini.

Sebagai pelopor gerakan salat di mesjid, ia merasa berdosa ketika justru jamaah di mesjid dilarang. Ia menolak mentah-mentah ketika Darta menyarankan berlebaran online, alias lebaran jarak jauh tanpa mudik.

EMPAT

Cerita berjudul “Aktivis Itu Minta Pak Menteri Mundur” ini diinspirasi oleh kelucuan yang bagi sebagian orang dianggap fatal. Seorang menteri kesehatan yang beberapa kali membuat pernyataan blunder tentang virus korona.

Menteri Terawan menantang Harvard University untuk membuktikan bahwa di Indonesia ada virus korona. Beberapa hari kemudian Sang presiden sendiri mengumumkan adanya kasus korona di Indonesia.

Di lain kesempatan, ia juga menyatakan bahwa Indonesia bebas korona karena masyarakatnya gemar berdoa.

Latar itulah yang membuat Janggi, adik dari penutur utama yang bernama Pak Fatah, terlibat dalam gerakan untuk menuntut Menteri Kesehatan tersebut mengundurkan diri atau dipecat oleh Presiden. Janggi sendiri menyimpan kekecewaan besar karena istrinya meninggal terpapar virus korona.

Baginya, meninggalnya Dewi, istrinya, adalah karena salah urus di rumah sakit rujukan. Akibat menterinya terlalu menyepelekan ancaman virus ini sehingga terlambat menyiapkan fasilitas kesehatan dalam menghadapi pandemi.

Janggi adalah prototype aktivis sejati yang sangat jauh berbeda dengan Fatah, kakaknya. Ketika kakak beradik itu mendapatkan warisan yang sama, Janggi mendedikasikan jatah warisannya untuk membangun perpustakaan kelilingnya, sementara Fatah menggunakannya untuk memulai bisnisnya.

Pergulatan batin Janggi sepeninggal istrinya kemudian mengantarkan Janggi pada kesimpulan, bahwa inilah saatnya ia berlayar masuk ke dalam diri, seperti dalam kutipan Jalaluddin Rumi yang tertempel di tembok dinding rumah yang ditinggalinya.

LIMA

Ini adalah kelucuan lain yang mewarnai tragedi di masa pandemi ini. Kelucuan yang berakhir tragis ketika atas nama ketaatan dan penghormatan kepada seorang guru membuat murid-murid guru tersebut melabrak protokol pemulasaran jenazah korban virus korona.

Cerpen berjudul “Robohnya Kampung Kami” ini dilatari fakta yang terjadi di Kolaka, Sulawesi Tengah, di mana keluarga korban membuka plastik jenazah positif korona, lalu mencium dan memeluk jenazah tersebut.

Alkisah, Pak Ahmad adalah pemimpin sebuah komunitas keagamaan yang sangat dihormati dan berwibawa. Bagi komunitasnya, ia bukan sekadar guru spiritual mereka, namun juga pelindung dari segala rongrongan keyakinan yang selama ini mereka alami sebagai kelompok minoritas.

Ketika komunitas ini dipersekusi oleh kelompok lain yang mengatasnamakan mayoritas karena dianggap murtad dan menista agama, rumah mereka dirusak, mesjid mereka dibakar, Pak Ahmad lah yang siap pasang badan menghadapi kelompok tersebut dengan segala cara.

Pak Ahmad pula yang paling mengerti dan paham tentang hukum. Dan meski kini hidup di pengungsian, komunitas tersebut masih bertahan dengan keyakinannya, di bawah kepemimpinan Pak Ahmad.

Karena itu, ketika Pak Ahmad wafat karena virus korona, para jemaatnya tak bisa melepas begitu saja penguburan jenazah tanpa memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi mereka. Mereka harus mencium, memeluk, dan menangisi untuk terakhir kalinya.

Begitu juga ketika mengantarkan jenazah ke makam, mereka berebut memanggul kerandanya.

Tak lama kemudian, terdengar berita bahwa kampung tempat komunitas itu berada diisolasi. Persentuhan dengan jenazah korban virus memungkinkan penularan virus ini kepada mereka semua.


REFLEKSI

Kita belum pernah mengalami mewabahnya virus sedahsyat ini. Di zaman serba digital seperti ini, ketidaksiapan dan kepanikan kita justru melahirkan banyak sekali lalu lintas informasi yang serba tak jelas, mana yang valid, mana yang palsu.

Kultur, keyakinan, pola hidup yang sudah mapan memunculkan kegagapan yang melahirkan kisah-kisah dramatis, lucu, dan tragis, dalam menyikapi situasi tak normal seperti saat ini. Dan pandemi ini melahirkan banyak kejadian pertama kali.

Pertama kalinya kita dilarang melaksanakan salat Jumat di Mesjid selama berminggu-minggu. Pertama kalinya penyelenggaraan umrah dihentikan selama ini. Pertama kalinya kita menyelenggarakan sekolah, ujian, dan kerja, di dalam rumah sendiri selama berbulan-bulan. Pertama kalinya restoran-restoran dilarang melayani penjualan makan di tempat dalam waktu lama. Dan seterusnya.

Di tengah berbagai kejadian baru tersebut, jurnalisme telah bekerja merekam perkembangan detik demi detik. Hadirnya media online seperti melengkapi seluruh sisi fakta yang terjadi, meski seringkali justru mengaburkan cara kita melihat fakta karena kesulitan kita mengecek kebenaran pada setiap kejadian.

Nah, penulis fiksi harus turut andil merekam pergulatan dan suara batin dari berbagai kejadian yang ada, karena jurnalisme seringkali hanya mengungkap fakta permukaan.

Melalui fiksilah sisi kedalaman dan drama di balik berita yang ada bisa ditangkap dan digambarkan. Dalam kerangka itulah kehadiran cerpen esai, atau karya sastra lainnya, penting untuk melengkapi gambaran utuh sejarah pandemi ini.

Dalam masa pandemi ini, bermunculan pula inisiatif-inisiatif untuk membangun semangat positif dan ketahanan masyarakat dalam melewati masa krisis yang ada. Cerpen esai ini adalah salah satunya.

Inisiasi Denny JA untuk menghadirkan pergulatan emosi, latar belakang, dan kisah dramatis dalam era pandemi ini patut disambut oleh para penulis lainnya.

(Tim Liputan News\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar