Bulog Ungkap Penyebab Harga Gula Melambung di Pasar

Jum'at, 22/05/2020 09:01 WIB
Gula Pasir (Foto: Republika)

Gula Pasir (Foto: Republika)

law-justice.co - Direktur Operasional Bulog Tri Wahyudi Saleh menegaskan, lambannya distribusi bukan jadi penyebab harga gula melambung di pasar. Ia menuding, keterlambatan impor jadi faktor utama yang membuat harga gula sempat menyentuh angka Rp 20.000 per kilogram.

“Kami memastikan bahwa tingginya harga gula di pasar bukan disebabkan tidak lancarnya distribusi, namun hal ini disebabkan karena telatnya kedatangan impor gula,” ujar dia, saat Kementerian BUMN melakukan sidak di Komplek Pergudangan Bulog di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020).

Bulog memastikan, saat ini harga gula sudah stabil di pasaran. Pemerintah mematok Harga Eceran Tertinggi (HET) senilai Rp 12.500 per kilogram. Bulog sendiri menjualnya seharga Rp 11.900,- per kilogram.

Menteri BUMN Erick Thorir lantas menjelaskan mengenai impor yang masih menjadi masalah di bidang pangan.

"Sama seperti industri kesehatan, impor juga menjadi masalah krusial di industri pangan, dimana kita masih bergantung pada asing, hal ini perlu direformasi untuk memastikan ketahanan pangan di Indonesia," Ujar Erick Thohir.

"Saat ini BUMN sedang menyiapkan roadmap untuk industri pangan di BUMN. Dengan penggabungan PTPN, Bulog dan RNI dalam klaster pangan akan mendorong terbentuknya rantai industri pangan yang terkonsolidasi di BUMN," ungkap Erick.

Erick menjelaskan, saat ini BUMN memiliki 130.000 HA tanah dibawah PTPN dan 140.000 lahan yang dimiliki oleh rakyat yang dikelola BUMN seharusnya dapat untuk menyeimbangkan kebutuhan 3.5 juta ton gula di Indonesia, yang mana 36% diantaranya dipenuhi oleh swasta dan 800.000-900.000 ton dari impor.

“Dengan penggabungan klaster pangan ini, kami yakin BUMN dapat mengurangi impor dan kedepannya bisa mewujudkan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas tahun 2045,” pungkas dia.

Harga Beras dan Gula Dipastikan Stabil
Dirut Perum Bulog Budi Waseso memastikan stabilisasi harga bahan pokok beras dan gula, walau sebelumnya sempat mengalami keterlambatan ijin impor.

“Berdasarkan pantauan kami yang terus menerus di tengah situasi perang mengatasi penyebaran COVID-19, harga beras sudah kembali normal sejak awal kemunculan wabah ini pada Maret lalu. Sedangkan harga gula mulai terasa normal sejak BULOG melakukan operasi pasar khusus gula secara serentak ditanah air sejak awal Mei 2020,” kata Budi Waseso, melalui keterangan Pers, di Jakarta, Kamis (21/5/2020).

Hrga kedua komiditas inti itu sempat melambung karena kelangkaan. Saat ini, Bulog menjamin kecukupan pangan pokok bisa bertahan hingga akhir tahun dengan stok beras yang dikuasai Bulog sebesar 1,4 juta ton, yang tersebar merata di seluruh Indonesia .

Harga beras kini berkisar di harga Rp 11.750 - 12.000 per kilogram, sedangkan harga gula di pasaran ditetapkan sesuai Harga Eceran Tertinggi senilai Rp 12.500 per kilogram. Budi Waseso menjelaskan, pada 5 Mei lalu, Perum Bulog telah menggelontorkan sedikitnya 22.000 ton gula yang baru datang dari India dan langsung didistribusikan ke seluruh Indonesia guna menjamin stabilisasi harga dan ketersediaan stok gula di masyarakat. Impor gula tersebut baru sebagian dari ijin impor yang diberikan Kementerian Perdagangan dari total permintaan sebanyak 50.000 ton.

(Lili Handayani\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar