Martunis, Anak Angkat Cristiano Ronaldo yang Kini Jadi Youtuber

Selasa, 05/05/2020 20:01 WIB
Martunis, anak angkat Ronaldo (Dok. Pribadi)

Martunis, anak angkat Ronaldo (Dok. Pribadi)

law-justice.co - Bagi sebagian orang, bencana tsunami Aceh yang terjadi 16 tahun silam, mungkin akan terekam dalam ingatan seumur hidupnya. Bagaimana tidak, sekitar 167 ribu orang tewas, termasuk yang hilang dan 500 ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Situasi Aceh pada saat peristiwa itu, tergambar begitu mengerikan. Keluarga yang tercerai-berai, bangunan runtuh, kendaraan yang bergelimpangan di jalan, dan tidak terhitung manusia yang terseret ke laut. Dan Martunis adalah salah satunya. Saat kejadian di tahun 2004, ia baru berusia tujuh tahun. Sebelum ditemukan, ia telah terombang-ambing seorang diri di tengah gelombang selama 21 hari.

Meskipun getir, pemuda kelahiran 2 Mei 1997 ini, bersedia mengenang kembali kejadian menakutkan itu untuk pembaca law-justice.co. Martunis bercerita, tsunami yang menghantam tanah kelahirannya terjadi di hari Minggu. Waktu itu, sehabis mandi pagi, ia memilih kaus jersey Tim Nasional Portugal untuk dipakainya, karena sorenya Martunis berencana akan bermain bola bersama teman-temannya.

Sambil menunggu waktu, ia dan adik perempuannya menonton televisi. Saat itulah, musibah besar datang tanpa diduga. Tiba-tiba saja gempa mengguncang. Ibunya segera membawa ia dan adiknya keluar rumah.

Ayahnya, Sarbini, datang tak lama kemudian. Mereka segera menyelamatkan diri dengan menggunakan mobil pick up. Sayang, langkah itu kalah cepat dengan air bah yang keburu datang menerjang. Martunis terlempar keluar dari mobil, ia berusaha menggapai tangan adiknya, namun terlepas. Namun ia berhasil meraih sebuah spring bed yang dijadikan sebagai pegangan. Itulah terakhir Martunis melihat ayah, ibu dan adik perempuannya.

Setelah itu, Martunis sempat tak sadarkan diri, hingga ia menemukan dirinya sudah terombang ambing di tengah laut. Ia mencoba bertahan hidup dan melewati hari demi hari di atas kasur yang membuat tubuhnya tetap terapung di permukaan laut. “Saat itu saya tidak tahu sudah berapa hari ada di tengah laut. Saya ketakutan,” katanya.

Cristiano Ronaldo dan Martunis (Dok. Pribadi)

Untuk bertahan hidup, Martunis memakan apa saja yang mengapung di sekitarnya. “Waktu itu banyak mie instan dan roti yang mengapung,  saya ambil dan saya makan Kalau minum kadang menunggu hujan. Dikumpulkan di baju lalu diperas, baru saya minum,” kenang Martunis.

Terombang-ambing di tengah laut entah sampai kapan, membuat Martunis sempat ingin bunuh diri. Untunglah, saat pikirannya sedang kacau itu, ia tertidur. Dan ketika terbangun, ia melihat daratan dan orang-orang yang berdiri di tepi pantai.

Teriakan minta tolongnya terdengar, ia pun segera dievakuasi. Martunis pun selamat. Ia bertemu kembali dengan ayahnya, namun ibu dan adik perempuannya meninggal dalam musibah itu. Seorang wartawan menuliskan peristiwa penyelamatan itu, dan memotret Martunis yang mengenakan kaus Timnas Portugal, klub bola di mana Cristiano Ronaldo bergabung.

Berita itu segera saja melintas benua dan sampai ke telinga Cristiano Ronaldo. Terketuk hatinya melihat apa yang menimpa Martunis, Ronaldo pun terbang ke Aceh untuk bertemu langsung dengannya. Bukan hanya mengunjungi, Ronaldo bahkan mengangkat Martunis sebagai anaknya.

Pesepak bola dunia itu lalu membawa Martunis mengunjungi Portugal. “Awalnya di sana hanya 1,5 bulan. Lalu saya pulang. Baru ketemu lagi dengannya di Bali pada 2013, kemudian ikut kembali ke Portugal pada 2014 untuk berlatih bola di Academy Sporting Portugal Club pada 2015,” kisah Martunis.

Selama di Portugal, Martunis tinggal di asrama khusus untuk pemain bola. Kegiatannya sehari-hari adalah latihan bola, mulai pagi hingga siang lalu istirahat, dan kembali berlatih di sore hari. “Kalau siang biasanya saya gunakan untuk belajar bahasa. Selain itu, ya berlatih bola,” katanya.

Meskipun agak susah beradaptasi, baik dari makanan dan bahasa, Martunis menikmati kehidupannya di negara itu. Kesempatan tersebut juga digunakannya untuk keliling Eropa seperti Italy, Perancis dan Spanyol.

Di mata Martunis, Ronaldo merupakan sosok yang murah hati, ia tidak ragu mengabulkan berbagai permintaannya. “Waktu itu saya sempat meminta sebuah ponsel, karena milik saya rusak. Benda itu langsung diberikan keesokan harinya. Begitu juga ketika saya meminta untuk menontonnya saat bertanding di Madrid, ia segera memberikan tiket pesawat untuk saya. Ronaldo juga tak segan memberikan tiket VIP untuk menonton pertandingan antara Portugal dengan Perancis,” lanjutnya.

Martunis (Dok. Pribadi)

Saat ini, Martunis sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Meskipun ia tidak sempat menamatkan kuliahnya di Universitas Syiah Kuala, jurusan teknik karena diajak Ronaldo ke Portugal. Pekerjaannya sekarang adalah membuat konten Youtube, yang sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir. Ini dilakoninya sejak ia mengalami cedera lutut dan diharuskan istirahat bermain bola.

Menurut Martunis, jumlah subscriber akun Martunis Ronaldo 07 sudah mencapai 200 ribu orang. “Pemasukan dari endorse dan youtube. Cukup untuk biaya hidup sehari-hari,” ungkapnya. Untuk membuat konten, Martunis mengaku tidak belajar khusus. Ia mempelajarinya dari konten-konten yang sudah ada di youtube. Alat yang digunakan pun sederhana saja, telepon selular dan kamera.

Banyak netizen memintanya untuk membuat vlog bersama Ronaldo. Namun ia akui membuat vlog bersamanya tidaklah mudah. Martunis hanya sekali berhasil merekam kebersamaannya dengan Ronaldo saat berada di sebuah acara di Turin, Italy beberapa tahun silam.

Hubungan Martunis dan Ronaldo tetap terjalin baik, meskipun karena kesibukan Ronaldo, komunikasi biasanya dilakukan melalui Miguel, asisten manajernya. “Ronaldo selalu menyemangati, saya harus kerja keras, harus tetap berusaha, walaupun kondisi lagi kayak gini (pandemi corona),” ucapnya.

Bulan lalu, Martunis melepas masa lajangnya dengan menikahi Sri Wahyuni, gadis pujaannya. Tidak ada acara khusus karena situasi pandemi yang tidak memungkinkan untuk berkumpul. Ronaldo juga mengirimkan ucapan selamat untuknya.

Kesulitan yang dialami masyarakat akibat pandemi corona, ternyata tidak membuat Martunis berpangku tangan. Ia melelang salah satu koleksi jerseynya yang didapatnya dari Ronaldo, dan uangnya dibelikan sembako yang dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

“Ini kan lagi musibah. Jadi kita harus saling membantu. Kalau dana dari pribadi, saya tidak ada. Jadi saya lelang satu jersey yang saya punya. Kaus itu dibeli oleh Bong Chandra seharga 180 juta,” kata Martunis.

Ke depan, Martunis mengaku tidak ingin melanjutkan kuliah. “Saya ingin bekerja saja,” ujarnya. Ia berharap, karirnya sebagai seorang youtuber bisa terus maju. Apalagi sudah ada tawaran dari sebuah rumah produksi di Amerika untuk membuat film tentang tsunami Aceh. “Tapi masih proses izinnya dari Ronaldo,” tutupnya.

 

 

(Lili Handayani\Reko Alum)
Share:



Berita Terkait

Komentar