Orang dengan Kondisi Ini Berisiko Besar Terinfeksi Virus Corona

Sabtu, 25/04/2020 20:07 WIB
Ilustrasi (BBC)

Ilustrasi (BBC)

law-justice.co - Orang yang kelebihan berat badan ternyata memiliki risiko lebih besar terinfeksi virus corona, dan bisa berkembang ke kasus yang mengancam jiwa, demikian diungkapkan sebuah penelitian. 

Hubungan antara kelebihan berat badan yang berkembang ke gejala parah COVID-19, diperoleh dari analisis terhadap 15.100 pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit di Inggris, seperti dilaporkan The Telegraph.

Para ilmuwan di Universitas Edinburgh, Liverpool dan Imperial College London, mempelajari sampel dari 177 rumah sakit di Inggris untuk mencari faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin atau kondisi kesehatan mendasar yang tampaknya sangat rentan terhadap virus.

Profesor Peter Openshaw di Imperial College London, yang memimpin penelitian bersama dengan Profesor Kenny Baillie di Universitas Edinburgh dan Profesor Calum Semple di Universitas Liverpool, mengatakan bahwa kemungkinan kelebihan lemak di sekitar organ internal menambah `badai sitokin` yang disebabkan oleh COVID-19, di mana tubuh melepaskan terlalu banyak protein dalam upaya melawan virus.

Studi telah menunjukkan, orang gemuk lebih mungkin menderita komplikasi serius atau meninggal karena infeksi, seperti flu.

Dokter mengatakan sistem kekebalan tubuh orang gemuk terus meningkat ketika mereka mencoba melindungi dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh peradangan sel. Menggunakan semua energinya untuk menangkal peradangan, berarti sistem pertahanan tubuhnya hanya memiliki sedikit sumber daya untuk bertahan melawan infeksi baru seperti COVID-19.

Orang yang gemuk juga cenderung makan makanan sedikit serat dan antioksidan yang menjaga sistem kekebalan tubuh tetap sehat, seperti buah dan sayuran. Kelebihan berat badan juga membuat diafragma dan paru-paru sulit untuk mengembang dan menghirup oksigen. Jika kekurangan oksigen, organ akan mulai gagal berfungsi.

Faktor-faktor ini dapat menjelaskan mengapa paru-paru orang gemuk cenderung memburuk lebih cepat ketika virus corona baru menyerang, dibandingkan dengan orang yang sehat. Beberapa hari yang lalu, Kepala Ahli Epidemiologi Perancis juga mengatakan kelebihan berat badan memiliki risiko lebih besar.

Profesor Jean-François Delfraissy, yang mengepalai dewan ilmiah yang memberi nasihat kepada pemerintah tentang epidemi itu, mengatakan hingga 25 persen orang Prancis sangat beresiko terkena virus karena usia, kondisi yang sudah ada sebelumnya atau obesitas.

Dia menambahkan bahwa orang Amerika juga sangat berisiko karena meningkatnya obesitas di AS, dengan saat ini 42,4 persen populasi orang dewasa kelebihan berat badan.

“Virus ini mengerikan. Ia dapat menyerang anak-anak muda, khususnya anak muda yang gemuk. Mereka yang kelebihan berat badan benar-benar perlu berhati-hati,” kata Delfraissy kepada radio Franceinfo. "Itulah sebabnya kita khawatir pada teman-teman kita di Amerika, karena mereka mungkin akan memiliki masalah paling besar karena obesitas."

Para ahli memperkirakan, obesitas menempatkan AS pada risiko pandemi flu Spanyol pada tahun 1918. Menurut CDC (Pusat Pengendilan Penyakit) 42,4 persen dari populasi orang dewasa AS obesitas dan 18,5 persennya adalah anak-anak.

Obesitas dikenal sebagai faktor risiko untuk beberapa kondisi kesehatan kronis termasuk diabetes Tipe 2, stroke, serangan jantung dan bahkan jenis kanker tertentu. Meningkatnya tingkat obesitas tidak hanya akan meningkatkan biaya perawatan kesehatan tetapi dapat memacu pandemi virus corona  atau pandemi lain masa depan.

Sebuah studi pandemi flu H1N1 2009, menemukan bahwa orang gemuk dua kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan angka populasi negara sebuah negara. Ini berarti bahwa orang gemuk yang didiagnosis dengan COVID-19 dapat menambah tekanan pada rumah sakit yang sudah kewalahan.

Dua penelitian di New York University mengamati 8.000 pasien yang berusia di atas 65 atau memiliki BMI di atas 30 adalah faktor risiko terbesar terinfeksi COVID-19. Dalam satu makalah, para peneliti menemukan hampir setengah (46 persen) dari semua pasien yang dirawat di rumah sakit dengan virus corona berusia 65 atau lebih.

Ditemukan juga, bahwa walaupun usia adalah faktor risiko terbesar, kondisi kesehatan yang paling kuat terkait dengan penyakit serius adalah obesitas. Laporan itu mengatakan: "Kondisi kronis dengan hubungan terkuat dengan penyakit kritis adalah obesitas, dengan rasio odds yang jauh lebih tinggi daripada penyakit kardiovaskular atau paru."

Sebuah studi terpisah menemukan pasien berusia di bawah 60 dua kali lebih mungkin membutuhkan perawatan rumah sakit atau ventilasi jika mereka mengalami obesitas, menjadikannya faktor risiko terbesar kedua.

Namun, para peneliti mengatakan `secara mengejutkan` tidak ada hubungan antara merokok dan peningkatan risiko jatuh sakit karena virus.

Dalam salah satu ulasan data terbesar pada kasus COVID-19 sejauh ini, para peneliti di NYU Grossman School of Medicine menganalisis laporan rumah sakit dari 4.103 pasien COVID-19 yang positif. Semua pasien berasal dari New York City -sebagai salah satu episentrum di dunia - dan didiagnosis antara 1 Maret dan 2 April. Sebanyak 1.999 pasien dirawat di rumah sakit setelah gejala mereka memburuk.

Para peneliti menemukan bahwa keputusan pasien yang harus dirawat adalah yang berusia di atas 65 dan mengalami obesitas. Selain itu, sebuah studi baru-baru ini dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Michigan menemukan bahwa orang dewasa yang obesitas dan terinfeksi flu tidak hanya berisiko lebih besar mengalami komplikasi parah, tapi juga akan sembuh lebih lama. (Daily Mail UK)

(Liesl Sutrisno\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar