Efek Positif `Work from Home`, Volume Sampah di Jakarta Berkurang

Kamis, 09/04/2020 12:45 WIB
Banyaknya kiriman sampah dari hulu ke Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, mencapai 500 ton. Robinsar Nainggolan

Banyaknya kiriman sampah dari hulu ke Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, mencapai 500 ton. Robinsar Nainggolan

Jakarta, law-justice.co - Pemerintah provinsi DKI mencatat pengurangan volume sampah sejak arahan bekerja dari rumah (work from home) diumumkan oleh Gubernur Anies R. Baswedan pada Senin (16/3/2020).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih menjelaskan rata-rata volume sampah pada 16-31 Maret 2020 turun sekitar 620 ton per hari, dibandingkan 15 hari sebelumnya. Menurutnya, penurunan tersebut didorong oleh rendahnya kontribusi sektor komersial saat bekerja dari rumah.

"Kita dapat menerapkan tiga strategi pengurangan sampah yang sejak tahun lalu dikampanyekan di Jakarta, yaitu program sampah tanggungjawab bersama atau samtama,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2020).

Andono menuturkan, ketiga program tersebut menekankan aktifitas kurangi, pilah, dan olah sampah atau KuPiLah yang dilakukan oleh masyarakat sebagai sala satu sumber penghasil sampah. Andono menurunkannya menjadi tiga strategi utama.

Pertama, strategi pintu depan pada tahap sebelum mengonsumsi. Menurutnya, masyarakat harus tahu dan sadar apa yang mau dikonsumsi sejak awal dan menghindari barang yang berpotensi menghasilkan sampah.

Kedua, strategi pintu tengah yakni semua sisa barang tidak buru-buru dibuang ke tempat sampah. Andoro mencontohkan dengan mengambil makanan tidak berlebihan, sehingga berpotensi menjadi sampah.

"Jika ada pakaian tidak terpakai atau makanan berlebih, dapat didonasikan ke yang membutuhkan." katanya.

Ketiga, strategi pintu belakang yaitu disiplin memilah sampah. Andoro berujar sampah anorganik yang dapat didaur ulang dikumpulkan sementara di rumah. Adapun, lanjutnya, saat wabah Covid-19 mereda dan situasi sudah relatif aman, masyarakat dapat ditabung di bank sampah terdekat.

“Sampah anorganik, seperti kaleng, botol, kardus bekas, dapat disimpan sementara dan relatif aman karena tidak membusuk,” ucapnya. (Bisnis Indonesia)

(Tim Liputan News\Yudi Rachman)
Share:



Berita Terkait

Komentar