Sebelum Corona, Perusahaan Obat Ini Sudah Untung Triliun, Sesudahnya?

Senin, 06/04/2020 21:33 WIB
PT Kalbe Farma (misterseekers)

PT Kalbe Farma (misterseekers)

Jakarta, law-justice.co - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) perusahaan yang menjual obat-obatan ini pada tahun 2019, sebelum virus corona (Covid-19) muncul, meraih penjualan bersih konsolidasi Rp 22,63 triliun tumbuh sebesar 7,4% dibandingkan Rp 21,07 triliun pada periode yang sama tahun 2018.

Direktur Keuangan Kalbe Farma, Bernadius Karmin Winata mengatakan bahwa pertumbuhan penjualan sepanjang tahun 2019 didukung oleh Divisi Obat Resep Perseroan, yang membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 7,1% menjadi Rp 5,16 triliun, serta menyumbang 22,8% dari total penjualan bersih Kalbe di tahun 2018.

Sementara, divisi Produk Kesehatan meraih penurunan penjualan sebesar 2,8% menjadi Rp3,4 triliun dengan kontribusi sebesar 15,3% terhadap total penjualan bersih Perseroan.

“Penurunan penjualan divisi obat bebas disebabkan oleh menurunnya jumlah penjual ritel sehubungan dengan pelaksanaan regulasi distribusi produk obat bebas berdot biru,” jelasnya, dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Lebih lanjut Ia menuturkan jika penjualan bersih Divisi Nutrisi tercatat sebesar Rp 6,62 triliun di tahun 2019, tumbuh 5,0% dari pencapaian di tahun sebelumnya dan menyumbang 29,3% dari total penjualan bersih Kalbe.

Sedangkan Divisi Distribusi & Logistik meraih peningkatan penjualan bersih sebesar 15,7% dari Rp 6,37 triliun menjadi Rp 7,37 triliun, serta menyumbang 32,6% terhadap total Pertumbuhan penjualan divisi distribusi dan logistik yang lebih tinggi dibandingkan dengan divisi lainnya menghasilkan rasio laba kotor yang lebih rendah yaitu menjadi 45,3% dibandingkan tahun sebelumnya 46,7% Rasio laba sebelum pajak mencapai 15,0%, dan bertumbuh sebesar 2,9% dibandingkan tahun lalu.

“Perseroan akan terus mengelola efektivitas penjualan dan pemasaran, serta memonitor biaya-biaya operasional lainnya, untuk mempertahankan pertumbuhan laba sebelum pajak. Untuk mempertahankan marjin ke depan, Perseroan akan menggabungkan strategi pengelolaan portofolio produk dan program efisiensi operasional,” ucapnya.

Adapun, laba bersih bertumbuh sebesar 2,0% mencapai Rp 2,5 triliun dibandingkan Rp 2,45 triliun pada tahun 2018. Pertumbuhan laba bersih terutama disebabkan oleh pertumbuhan penjualan dan pengendalian biaya pemasaran.(wartaekonomi)

 

(Gisella Putri\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar