Sumanto Al Qurtuby: Jenggot Agamis, Jenggot Sekuler & Jenggot Politis

Minggu, 05/04/2020 21:33 WIB
Ilustrasi (Mina News)

Ilustrasi (Mina News)

law-justice.co - Di Indonesia, jenggot lebat menjuntai dipopulerkan oleh kelompok "sawah" (salafi-wahabi) belakangan ini, sejak munculnya kemerdekaan berekspresi pasca tumbangnya rezim Orde Baru. Tetapi tradisi berjenggot di kalangan umat Islam di Indonesia tentu saja bukan hal baru. Kalau di Timur Tengah, popularitas jenggot mencuat sejak munculnya gerakan "Islam politik" sekitar empat hingga lima dekade lalu. 

Kelompok "sawah" di Indonesia gencar mempopulerkan jenggot sebagai "sunah rasul" dan bahkan diembel-embeli "mantra": "tempat malaikat bergelantungan". Karena itu sebagian kaum Muslim berlomba-lomba menumbuhkan jenggot, meskipun hanya beberapa helai saja. Memang sudah jamak dimaklumi nabi menganjurkan umat Islam laki-laki untuk memelihara jenggot dan memendekkan atau menipiskan kumis sebagai simbol kesahajaan. Itulah sebabnya kenapa saya memelihara jenggot dan menipiskan kumis.

Karena kelompok Muslim ortodoks ini yang mempopulerkan jenggot, maka ada asumsi kalau asal-usul jenggot lebat itu dari Islam era Nabi Muhammad. Padahal tidak.  Tradisi berjenggot lebat sudah lama dipopulerkan oleh umat Yahudi, jauh sebelum Islam lahir di abad ketujuh di Jazirah Arab. 

Eitan Press, seorang Yahudi ortodoks di Yerusalem mengatakan: "Bagiku jenggot adalah lambang keyahudian dan bagian dari upaya untuk memelihara tradisi dan nilai-nilai fundamental ajaran Yahudi yang sudah ribuan tahun. Musa berjenggot. Raja Daud berjenggot. Dan tradisi menyuburkan jenggot dengan `minyak suci` sudah ada di Bibel Ibrani." 

Menurutnya, dalam Kitab Leviticus ada perintah memanjangkan jenggot dan larangan mencukurnya, sebuah tradisi yang kemudian berlangsung hingga kini terus dipelihara khususnya oleh sekelompok Yahudi ortodoks. 

Meskipun kitab Yahudi jelas memproklamirkan tentang pemeliharaan jenggot tetapi tradisi berjenggot sendiri sebetulnya bukan berasal dari Yahudi. Berbagai kajian kesejarahan menunjukkan, masyarakat laki-laki Timur Tengah di era klasik - Mesir, Mesopotamia, Assyria dlsb, baik masyarakat agamis maupun sekuler, sudah berjenggot ria. Dan itu bisa dimaklumi karena keterbatasan teknologi alat-alat pencukur jenggot. 

Dari Yahudi inilah kemudian dipraktikkan oleh sekelompok Kristen ortodoks yang juga memelihara jenggot yang mereka anggap sebagai bagian dari upaya untuk memupuk ajaran dan nilai-nilai kekristenan. Perlu diingat, tradisi berjenggot bukan hanya dipraktikkan oleh Yahudi ortodoks, Kristen ortodoks, dan Muslim ortodoks saja tetapi juga sekelompok agama ortodoks lain. Bahkan bukan hanya kelompok agama ortodoks saja, kelompok sekuler pun banyak yang berjenggot. 

Menarik untuk dicatat, jenggot ini di Yerusalem khususnya, mampu menjadi perekat dan pemersatu kelompok ortodoks dari kalangan Yahudi, Kristen dan Islam sekaligus, dan bahkan menjadi simbol perlawanan budaya dan politik guna melawan rezim atau faksi radikal-militan sektarian di Israel maupun Palestina.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumanto Al Qurtuby, 

Direktur Nusantara Institute

 

 

(Liesl Sutrisno\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar