Tak Hanya Batuk & Demam Tinggi, Ternyata Ada Gejala Baru Virus Corona

Jum'at, 03/04/2020 14:59 WIB
Ilustrasi Virus Corona. (minews.id)

Ilustrasi Virus Corona. (minews.id)

Jakarta, law-justice.co - Virus corona telah menginfeksi hampir semua negara. Saat ini, sudah lebih 1 juta kasus dilaporkan dari seluruh dunia menurut Worldometers.

Gejala terinfeksi ada yang terlihat (simtomatik), ada yang ringan, bahkan ada yang tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimtomatik).

Bagaimana mengetahui Anda mengidap Covid-19 atau tidak?

Dilansir dari Lice Science (23/3/2020), menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), gejala yang harus diwaspadai adalah: demam tinggi, batuk, dan sesak napas. Gejala-gejala ini biasanya muncul antara 2-14 hari setelah paparan virus.

Dari laman CDC disebutkan, Anda disarankan segera menghubungi tenaga medis jika mengalami tanda-tanda peringatan darurat seperti; kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan yang menetap di dada, bibir atau wajah kebiru-biruan.

Sementara itu menurut WHO, gejala-gejala umum virus corona adalah sebagai berikut: demam,kelelahan, batuk kering. Sedangkan gejala khusus antara lain: sesak napas, sakit dan nyeri, sakit tenggorokan, dan sangat sedikit orang akan melaporkan diare, mual atau pilek.

Menurut sebuah laporan dalam Journal of American Medical Association, sebanyak 98 persen pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit mengalami demam.

Lalu sekitar 76-82 persen mengalami batuk kering. Sebanyak 11-44 persen dilaporkan kelelahan.

Dalam kasus Covid-19 yang lebih serius, pasien mengalami pneumonia yang berarti paru-paru mereka mulai penuh dengan nanah atau cairan. Hal itu menyebabkan sesak napas yang intens dan batuk yang menyakitkan.

Dilansir The Guardian (2/4/2020), menurut WHO, 1 dari 6 orang yang terpapar menjadi sakit parah.
Mereka adalah orang tua dan orang-orang dengan masalah medis mendasar seperti:tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes, kondisi pernapasan kronis.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan "kehilangan penciuman" sebagai gejala potensial yang dapat muncul. Hal yang terjadi bisa berupa kehilangan penciuman saja, tanpa gejala lain.

Bagaimana penyembuhannya?

Menurut WHO, karena ini adalah pneumonia virus, antibiotik tidak ada gunanya. Obat antivirus yang dimiliki untuk melawan flu tidak akan berfungsi. Selain itu saat ini juga belum ditemukan vaksin.

Sehingga pemulihan tergantung pada kekuatan sistem kekebalan tubuh.

Menurut WHO, orang-orang yang mengalami kasus ringan (tidak lebih parah dari pilek) bisa sembuh tanpa perawatan khusus.

Dilansir Live Science (2/4/2020), menurut CDC, perawatan bagi yang terinfeksi virus corona didasarkan pada jenis perawatan yang diberikan untuk influenza (flu musiman) dan penyakit pernapasan parah lainnya.

Itu dikenal dengan perawatan suportif. Perawatan itu pada dasarnya mengobati gejala yang sering muncul seperti demam, batuk, dan sesak napas.

Dalam kasus-kasus ringan, istirahat dan obat penurun demam seperti acetaminophen (Tylenol) mungkin diberikan.

Di rumah sakit dokter dan perawat kadang-kadang merawat pasien dengan obat antivirus oseltamivir atau tamiflu, yang tampaknya menekan reproduksi virus, setidaknya pada beberapa kasus.

Menurut Virolog Michigan Tech Ebenezer Tumban hal itu mengejutkan karena Tamiflu dirancang untuk menargetkan enzim pada virus influenza, bukan pada virus corona.

Institut Kesehatan Nasional AS (NIH) telah memulai uji klinis untuk menguji antivirus remdesivir untuk Covid-19 di Pusat Medis Universitas Nebraska.

Dalam kasus pasien pneumonia yang menghambat pernapasan, pengobatan melibatkan ventilasi okosigen.

Ventilator tersebut meniupkan udara ke paru-paru melalui masker atau tabung yang dimasukkan langsung ke tenggorokan.

Sebuah studi New England Journal of Medicine terhadap 1.099 pasien rawat inap dengan coronavirus di Cina menemukan bahwa 41,3 persen membutuhkan oksigen tambahan dan 2,3 persen membutuhkan ventilasi mekanik invasif

Glukokortikoid diberikan kepada 18,6 persen pasien, pengobatan yang sering digunakan untuk mengurangi peradangan dan membantu membuka saluran udara selama penyakit pernapasan.

Meski begitu para ilmuwan dari seluruh dunia masih berusaha mencari vaksin yang tepat untuk menghadapi virus ini. (Tribunnews)

 

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar