Corona Menggila, Pemerintah & Parlemen AS Kompak Tuduh China Berbohong

Kamis, 02/04/2020 20:22 WIB
Ketua DPR AS Nancy Pelosi saat hendak merobek teks pidato Donald Trump (Eurweb)

Ketua DPR AS Nancy Pelosi saat hendak merobek teks pidato Donald Trump (Eurweb)

Jakarta, law-justice.co - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyulut bara perselisihan dengan China. Hal itu terjadi karena kini kasus infeksi virus corona (COVID-19) di AS jauh lebih tinggi daripada yang terdata di China. Atas dasar itu, Trump menyebut China memanipulasi data kasus yang terjadi di Negeri Tirai Bambu.

"Bagaimana kita tahu jika data mereka akurat. Jumlah mereka tampaknya sedikit yang diperlihatkan," kata Trump pada konferensi pers mengutip AFP.

Saat ini Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus corona terbanyak di dunia, bahkan mengalahkan China yang adalah pusat awal munculnya wabah.

AS memiliki 215.175 kasus dengan 5.110 kematian dan 8.878 sembuh per Kamis (2/4/2020). Sementara di China hanya ada 81.554 kasus dengan 3.312 orang meninggal dan 76.236 sembuh, menurut Worldometers.

Namun demikian, Trump menegaskan bahwa hubungan AS dengan China masih bagus dan bahwa ia tetap dekat dengan Presiden Xi Jinping.

Sebelumnya, tuduhan serupa juga telah dilayangkan anggota parlemen AS. Senator Republik Ben Sasse menyebut bahwa data China adalah "propaganda sampah".

Apalagi setelah sebuah dokumen intelijen rahasia yang dikirim ke Gedung Putih minggu lalu menunjukkan adanya pemalsuan data kasus COVID-19 sesungguhnya oleh China, menurut Bloomberg.

"Klaim bahwa Amerika Serikat memiliki lebih banyak kematian karena virus corona daripada China adalah salah," kata Sasse dalam sebuah pernyataan.

"Tanpa mengomentari informasi rahasia, ini jelas sangat menyakitkan: Partai Komunis China telah berbohong, berbohong, dan akan terus berbohong tentang virus corona untuk melindungi rezim."

Hal senada juga disampaikan oleh Michael McCaul, anggota Republik tingkat teratas di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS. McCaul mengatakan China bukan mitra yang dapat dipercaya dalam perang melawan COVID-19.

"Mereka berbohong kepada dunia tentang penularan virus dari manusia ke manusia, membungkam para dokter dan jurnalis yang mencoba melaporkan kebenaran, dan sekarang tampaknya menyembunyikan jumlah orang yang terkena dampak penyakit ini secara akurat," kata McCaul.

Untuk itu, dia dan anggota parlemen lainnya telah meminta Departemen Luar Negeri untuk meluncurkan penyelidikan ke dalam kasus yang disebutnya `menutupi kebenaaran` mengenai pandemi oleh China itu. (cnbcindonesia)

 

 

(Gisella Putri\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar