Ini Penyebab Puluhan Ribu Kasus Corona Tak Terdeteksi Di Indonesia

Jum'at, 27/03/2020 10:26 WIB
korban terjangkit virus corona (Suryakepri)

korban terjangkit virus corona (Suryakepri)

Jakarta, law-justice.co - Indonesia diperkirakan memiliki puluhan ribu kasus corona yang tak terdeteksi. Respons lambat dan minim tes menjadi salah satu penyebabnya.

Hal itu disampaikan London School of Hygiene And Tropical Medicine Kamis (26/3/2020).

Para peneliti di lembaga itu memperkirakan jumlah 790 kasus positif corona yang terkonfirmasi pada Rabu (25/3/2020) hanya dua persen dari jumlah sesungguhnya.

Artinya, di Indonesia sebetulnya ada sekitar 39.500 kasus corona. Sayangnya, jumlah itu belum seluruhnya terdeteksi.

Sebagaimana melansir The Guardian, menyebutkan sejumlah alasan kenapa hal itu terjadi. Alasan yang pertama adalah respons lambat dan dan minim tes.

Tes yang dilakukan pemerintah mencapai 2.863 orang. Angka ini sangat jauh dari ideal jika mengacu pada jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 264 juta jiwa.

Tak hanya itu, pemerintah juga lambat dalam merespons kasus Covid-19. Pemerintah Singapura dan Malaysia misalnya melakukan gerakan penanganan corona pada Februari. Sedangkan, Indonesia baru memulainya pada Maret.

Bahkan, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto juga mengabaikan soal riset Harvard yang menyatakan ada kemungkinan virus corona tak terdeteksi di Indonesia.

Minim Layanan Kesehatan

Banyaknya kasus corona tak terdeteksi di Indonesia juga dipicu oleh minimnya akses layanan kesehatan. Analis Reuters menyebutkan sistem kesehatan Indonesia secara signifikan kurang memiliki sumber daya yang baik jika dibandingkan dengan Italia dan Korea Selatan (negara dengan wabah besar).

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan Indonesia memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Artinya, hanya 12 tempat tidur untuk 10.000 orang.

Selain itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2017 menyebutkan perbandingan dokter dan penduduk di Indonesia mencapai 4:10.000 atau ada satu dokter menanggung 2.500 orang. Padahal, anjuran WHO yakni 1 dokter menanggung 600 orang.

The Guardian juga mencatat peralatan medis Indoesia masih kurang. Bahkan, para tenaga medis mengenaka jas hujan untuk menggantikan pakaian hazardous material (hazmat).

Menyebar ke Daerah

Alasan lain banyaknya kasus corona tak terdeteksi di Indonesia adalah pandemi ini telah menyebar ke daerah, tak sekadar di Jakarta. Bahkan, di Papua Barat dilaporkan ada tiga kasus positif corona.

Penanganan kasus corona di daerah khususnya Indonesia bagian timur dinilai mengkhawatirkan. Selain lantaran fasilitas medis yang kurang, kesadaran masyarakat soal kesehatan juga rendah.

Di daerah timur misalnya perbandingan dokter dengan pasien mencapai 1 banding 6.250. Jumlah itu sangat jauh di bawah standar WHO yakni 1 banding 600.

Penasihat Senior Direktur Jendeal WHO, Dr. Bruce Aylward, mengatakan wabah virus corona masih sangat mungkin menyebar ke berbagai penjuru dunia selama berbulan-bulan ke depan.

Jika berkaca pada kasus di Tiongkok, identifikasi corona terjadi pada Januari dan memperkirakan akhir Maret akan terbebas dari Corona. Tiongkok memiliki waktu tiga bulan untuk menyelesaikan wabah di negaranya.

Namun, waktu itu akan berbeda bagi tiap negara jika tak memiliki respons seperti yang dilakukan Tiongkok maupun Korea Selatan.

"Sekarang kalau kita lihat Eropa, Amerika Utara dan Timur tengah, pertumbuhan kasusnya meningkat terus menerus. Negara-negara ini masih menghadapi tantangan selama berbulan-bulan ke depan," kaya Aylward.

Indonesia Berbenah

Kini, pemerintah Indonesia mulai menggeliat untuk menghadapi persebaran virus corona. Pemerintah mengubah Wisma Atlet menjadi rumah sakit darurat corona.

Alat-alat kesehatan mulai berdatangan termasuk Avigan dan Klorokuin sebagai pengobatan. Pemerintah juga berencana menggelar rapid test seluas-luasnya. (solopos.com).

(Annisa\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar