Ini Lima Hasil Penelitian Terbaru Corona, Tak Lahir Dari Pasar Wuhan

Minggu, 15/03/2020 21:38 WIB
Kota Wuhan (CNN Philipines)

Kota Wuhan (CNN Philipines)

law-justice.co - Dunia kini sedang berperang melawan Virus Corona jenis baru yang menyebabkan COVID-19. Mewabah sejak akhir Desember 2019 di Wuhan, virus bernama resmi SARS-CoV-2 ini makin merajalela ke berbagai penjuru dunia. Bahkan, WHO sudah menetapkannya sebagai pandemi.

Dunia pun bahu-membahu berupaya mengatasinya. Salah satunya dengan melakukan penelitian untuk terus mengatasi virus sekaligus meningkatkan penanganan pasien. Dari sejumlah penelitian, didapat berbagai penemuan yang cukup mengejutkan, mulai dari fungsi paru-paru yang bisa mengalami penurunan hingga tingginya kemungkinan perempuan untuk sembuh.

Ini 5 penelitian terbaru terkait Virus Corona.

1. Tidak `lahir` dari pasar Wuhan

Asal-usul Virus Corona jenis baru ini masih jadi tanda tanya. Dugaan pun mengarah pada daging hewan liar dan hewan eksotis yang dijualbelikan secara ilegal di pasar ikan Huanan, Wuhan, China. Namun, tim peneliti dari Kebun Raya Tropis Xishuangbanna di bawah Akademi Sains China dan Institut China untuk Riset Otak menemukan kalau virus itu `diimpor` dari tempat lainnya.

Dipimpin Dr Yu Wenbin, mereka mengurutkan data genom dari 93 sampel SARS-CoV-2 dari 12 negara. Dalam hasil yang dirilis pada 20 Februari, mereka yakin Virus Corona tersebut berasal dari luar pasar Huanan. Namun, ramainya kondisi pasar membuatnya menyebar cepat hingga ke seluruh kota sejak Desember 2019.

2. Sensitif pada suhu panas

Tim peneliti dari Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, China, menemukan penyebaran Virus Corona dipengaruhi musim dan suhu. Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan pada Februari 2020, disebutkan bahwa virus ini sangat sensitif terhadap suhu tinggi sehingga susah menyebar di negara bersuhu panas. Hasil analisis mereka menunjukkan penyebaran virus bernama resmi SARS-CoV-2 itu mencapai puncaknya pada suhu 8,72 derajat Celsius.

Di sisi lain, penelitian terpisah yang melibatkan ahli epidemiologi Marc Lipsitch dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard menemukan Virus Corona tetap mampu menyebar cepat di kondisi lembap. Artinya, cuaca dan kelembapan saat musim semi dan musim panas tidak akan membantu penurunan jumlah kasus jika tidak disertai upaya pencegahan kesehatan masyarakat. Jadi, melakukan pencegahan seperti menghindari keramaian dan menjaga kebersihan tetap harus diutamakan.

3. Menggerogoti fungsi paru-paru

WHO memperkirakan pada 3 Maret bahwa tingkat kematian akibat COVID-19 hanya sebesar 3,4 persen. Meski tingkat kematiannya rendah, Otoritas Rumah Sakit Hong Kong menemukan sebagian pasien Virus Corona yang sudah sembuh mengalami penurunan fungsi paru-paru. Penemuan ini telah dirilis pada 12 Maret.

Menurut Dr Owen Tsang Tak-yin, direktur medis Pusat Penyakit Infeksi Rumah Sakit Princess Margaret, sekitar 12 pasien yang telah sembuh menjalani pemeriksaan lanjutan. Hasilnya, 2-3 orang tak mampu melakukan aktivitas seperti sedia kala. Misalnya, mereka mengeluh terengah-engah saat berjalan cepat. Tsang menyebut sebagian pasien mengalami penurunan fungsi paru-paru hingga 20-30 persen.

Dari hasil `scan` paru-paru 9 pasien, ditemukan pola mirip kaca buram pada mereka semua. Artinya ada kerusakan organ. Namun, Tsang belum bisa memastikan apakah ada kemungkinan efek jangka panjang, seperti fibrosis paru-paru, kondisi di mana jaringan paru-paru mengeras dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Ia pun menyarankan pasien yang sudah keluar dari rumah sakit untuk melakukan latihan kardiovaskular, seperti berenang, untuk memulihkan fungsi paru-paru.

4. Wanita punya kemungkinan sembuh lebih tinggi 

Dalam penelitian Rumah Sakit Wuhan Union dan Beijing Tongren, Virus Corona diketahui cenderung menyerang pria, terutama yang punya penyakit penyerta, dan bisa berujung fatal. Melibatkan lebih dari 1.000 pasien di seluruh China daratan, termasuk 37 pasien yang meninggal di Wuhan, peneliti menemukan pria menderita efek yang lebih akut dan punya kemungkinan fatal yang lebih tinggi. Penelitian ini dipublikasikan pada 5 Maret di laman MedRxiv.

Sementara itu, di penelitian lain oleh Rumah Sakit Beijing dan Xuanwu, dari 47 pasien pneumonia akibat Virus Corona, pasien pria cenderung punya penyakit paru-paru sebelumnya sehingga terjadi infeksi sekunder, perlu perawatan kompleks, dan mengalami efek lebih buruk. Dalam suatu periode 2 minggu, 83 persen pasien yang kondisinya memburuk merupakan pria. Di masa yang sama, 80 persen pasien yang boleh meninggalkan rumah sakit adalah wanita. Penelitian  ini diunggah di laman yang sama pada 27 Februari.

5. Jumlah kasus meroket 10 kali lipat setiap 19 hari

Penelitian yang dipimpin ahli genetik Jin Li dari Universitas Fudan, Shanghai, menemukan kasus Virus Corona bisa meroket 10 kali lipat setiap 19 hari jika tidak dilakukan upaya pencegahan serius. Hasil penelitian ini dipublikasikan di laman Medrxiv pada 5 Maret. Jin pun mengimbau dunia agar melakukan upaya maksimal terkait kesehatan masyarakat.

Pakar lainnya pun memperingatkan pandemi ini mungkin saja masih berada di tahap awal. Pakar epidemiologi dari Harvard University memprediksi 40-70 persen populasi dunia akan tertular Virus Corona.

Sejak ditemukan kasus pertama pada 2 Maret, tercatat ada 117 kasus COVID-19 di Indonesia, berdasarkan data Worldometers pada Minggu (15/3). Untuk mencegah penyebaran yang lebih parah, beberapa tempat wisata telah ditutup, sedangkan sejumlah pemerintah daerah mulai `merumahkan` kegiatan belajar-mengajar untuk para siswa

Sumber: Akurat.co

(Gumilang Hidayat\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar