Takut `Kepleset` Lagi, Kepala BPIP: Saya Puasa Bicara Setahun!

Minggu, 01/03/2020 06:00 WIB
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. (Antara).

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. (Antara).

Jakarta, law-justice.co - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi mengaku akan puasa bicara di hadapan media. Yudian berencana untuk belajar bicara sesuai nasihat komisi II DPR RI.

"Saya harus belajar dulu, harus pakai humas harus pakai draft, ini demi kebaikan yang lebih baik. Jadi mohon maaf ini (tidak memberi keterangan)," ucap Yudian saat ditemui wartawan di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Sabtu (29/2/2020).

Menyoal apakah selanjutnya dia akan puasa bicara kepada awak media, Yudian pun mengamininya. "Iya (puasa bicara)," jawab Yudian sembari disambut gelak tawa awak media.

Yudian memperkirakan puasa bicaranya ini bakal berlangsung selama setahun. Ini dilakukan untuk belajar mengamati situasi kondisi sebelum memberikan pernyataan kepada publik.

"Ya kira-kira setahun lah saya belajar dulu. Intinya saya harus belajar dulu, mengamati dulu. Nanti rencananya kalau ada gini (doorstop) harus pakai draft, agar saya katakanlah tidak mudah terpeleset lah. Ini demi kebaikan Republik," ujar Yudian.

Yudian menyebut peringatan dari anggota Komisi II F-PDIP Johan Budi pada Selasa (18/2) lalu sebagai nasihat. Dia lantas menganalogikan apa yang dia lakukan sebagai ma`ruf nahi munkar.

"Kalau dalam Islam artinya amar ma`ruf, amar ma`ruf itu DPR memerintahkan kepada saya untuk melakukan yang baik-baik, apa? Kalau di depan publik pakai draft, pakai humas, kaya gitu. Jadi subjektivitas saya tidak terlalu menonjol," katanya.

"Yang dibilang munkar tadi, kepleset tadi kan munkar dalam arti yang luas. Ya, saya terima sebagai nasihat," lanjut Yudian.

Namun dia tidak secara gamblang apakah puasa bicaranya itu terkait dengan teguran dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasca-kontroversi agama dan Pancasila.

"Ya kamu lihat nggak di koran-koran (apakah Presiden menegur saya)," katanya.

Nasihat yang dimaksud Yudian mengemuka dalam rapat kerja BPIP dengan Komisi II, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (18/2/2020). Kala itu, anggota Komisi II F-PDIP Johan Budi meminta Yudian fokus pada tugasnya sebagai Kepala BPIP dan tidak memberi pernyataan ke media.

Johan bicara dalam konteks membahas kontroversi pernyataan Yudian soal hubungan agama dan Pancasila.

"Karena itu lebih baik Bapak menyerahkan statement dan lain sebagainya itu kepada, mungkin ada humasnya ya, ada juru bicaralah, Pak. Bapak lebih fokus kepada tugas sebagai Kepala BPIP saja, yang memberi laporan kepada Presiden, karena mandatnya adalah itu," kata Johan.

"Ini saya lihat ada Romo Benny (Stafsus Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo) yang juga biasa bicara dengan media. Mungkin bisa menugaskan Romo Benny atau Deputi daripada nganggur, nggak ada kerjaan," imbuhnya. (detik.com).

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar