Sentil Soal Virus Corona, Presiden Iran Ancam Amerika

Rabu, 26/02/2020 19:47 WIB
Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Kompas)

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Kompas)

Jakarta, law-justice.co - Tak hanya soal konflik di Timur Tengah, Amerika Seriakt dan Iran kini berkonflik soal virus corona. Presiden Iran Hassan Rouhani bahkan mengecam Amerika Serikat (AS) karena menebar ketakutan tentang corona di negeri itu.

"Kita tidak seharusnya membiarkan Amerika menebarkan virus baru di atas corona virus yang disebut ... ketakutan ekstrem," katanya sebagaimana dikutip dari AFP, Rabu (26/2/2020).

"Amerika sendiri padahal tengah berjuang melawan corona. 16 ribu orang meninggal karena influenza di sana tetapi mereka tidak bicara soal kematian ini."

Komentar ini keluar setelah Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengatakan negerinya khawatir bahwa Iran masih menyembunyikan rincian detail soal penyebaran corona di negara tersebut. Ia pun meminta Iran untuk buka-bukaan soal corona.

Pompeo memperkirakan korban yang terdampak corona lebih banyak daripada yang diumumkan. Apalagi Iran dan China punya hubungan dagang yang kuat.

Sementara ini terdapat 95 kasus corona di Iran, dengan 15 korban tewas. Bahkan, Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi dinyatakan positif terinfeksi COVID-19.

"Iran mungkin adalah contoh pertama dari tingginya insiden COVID-19 di negara dengan infrastruktur kesehatan masyarakat yang relatif lemah," ujar Hasnain Malik, Direktur Pelaksana Strategi Ekuitas Pasar Perbatasan di Tellimer berbasis Dubai, dilansir dari CNBC Internasional.

Kementerian Kesehatan Iran bahkan menyatakan peristiwa ini merupakan hal yang paling fatal, di luar negara sumber wabah, yakni China. Selain itu, pemerintah Iran mendapat tuduhan karena dicurigai tidak melaporkan dengan benar jumlah kasus terkonfirmasi dan kasus kematian secara resmi.

"Kurangnya kepercayaan publik pada pemerintah berarti bahwa arahan untuk tetap tidak diikuti, karena orang-orang panik dan menuju ke rumah sakit untuk diuji, memperburuk penyebaran penyakit," kata Dina Esfandiary, seorang peneliti di Pusat Belfer Harvard Kennedy School.

"Sanksi mempersulit pejabat kesehatan untuk mendeteksi dan menangani wabah tersebut, yang pasti akan mempengaruhi penyebaran virus di luar perbatasan Iran, seperti yang terjadi selama beberapa hari terakhir," lanjut Dina.

Mayoritas kasus virus corona di Iran dikaitkan dengan Qom, yakni tujuan keagamaan utama bagi peziarah Syiah di 85 mil selatan Teheran. Seorang pejabat dari Qom mengklaim pada Senin (24/2/2020) lalu bahwa 50 orang telah tewas di kota tersebut. Namun Teheran dengan cepat menolak dan membantah klaim tersebut.

Akibat penyebaran virus yang cepat, hubungan Iran ke seluruh negara di Timur Tengah memburuk. Hampir semua negara tetangga Iran telah menutup perbatasan mereka dan menangguhkan penerbangan ke Iran.

Negara Turki, Armenia, Pakistan, dan Afghanistan telah menutup perbatasan mereka, sedangkan Irak memblokir perjalanan ke dan dari Iran. Sementara negara Bahrain, Oman, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab telah menangguhkan semua penerbangan ke Iran.

Irak juga telah menutup satu-satunya perbatasannya dengan Kuwait, yang kini memiliki tiga kasus yang dikonfirmasi. Semua kasus dilaporkan berasal dari masyarakat yang sebelumnya melakukan perjalanan dari Iran. (cnbcindonesia)

(Nikolaus Tolen\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar