Rasio Utang Naik, Strategi Sri Mulyani Dipertanyakan

Senin, 24/02/2020 21:29 WIB
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati

Jakarta, law-justice.co - Kementerian Keuangan RI secara agresif telah menerbitkan sejumlah Surat Utang Negara (SUN) pada awal tahun 2020, sebagai bagian dari kebijakan front loading.

Front loading adalah kebijakan memupuk persediaan lebih banyak di awal tahun dibandingkan di tengah maupun akhir tahun. Dengan kebijakan ini maka penerbitan SUN pada awal tahun lebih banyak dibandingkan dengan kuartal-kuartal berikutnya.

Total SUN yang telah diterbitkan dalam kurang dari 2 bulan mencapai Rp 102,5 triliun. Nilai ini masih ditambah dengan sejumlah instrumen ritel yang meraih dana Rp 2,26 triliun.

Hal ini tentunya berimbas pada rasio utang pemerintah. Posisi utang Pemerintah per akhir Januari 2020 berada di angka Rp 4.817,55 triliun, dengan asumsi PDB per kapita akhir Januari Rp 15.944,78, maka rasio utang pemerintah terhadap PDB menjadi 30,21%.

Namun, Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail Zaini menilai kebijakan front loading memang dilakukan setiap tahun yang tujuannya untuk mereduksi resiko yang terjadi sepanjang tahun.

"Biasanya di awal tahun resiko belum besar, jadi pemerintah menerbitkan (surat utang) di awal tahun," ujarnya, Senin (24/2/2020).

Lagi pula, lanjutnya, kebijakan front loading tersebut dilakukan mengingat likuiditas di awal tahun terhitung lebih banyak. Selanjutnya mengenai rasio utang, menurutnya ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama adalah seberapa besar penerbitan utang. Namun menurutnya, kenaikan rasio utang karena persoalan yang kedua.

"Kedua penerimaan pajak. Rasio (utang) kenapa naik karena kecenderungan penerimaan pajak turun. Penerimaan pajak cenderung turun sehingga defisit APBN melebar," terangnya.

Selanjutnya terkait dengan penerbitan utang yang diburu oleh investor tersebut, dia mengatakan jika surat utang saat ini memang diminati. Bahkan, dia menegaskan jika surat utang menjadi pilihan untuk safe haven atau aset investasi aman bagi masyarakat.

"Surat utang menjadi safe haven, selain emas. Karena cenderung aman, tak ada fluktuasi harga, ada kupon. Biasanya pertumbuhan ekonomi melambat akan terjadi volatilitas saham, sehingga investor cenderung memilih surat utang," tandasnya.

Hal tersebut tercermin pada penerbitan SUN, yang kerap mencetak rekor dari sisi permintaan. Pada lelang 21 Januari silam, jumlah permintaan yang masuk mencapai Rp 94,97 triliun dan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Adapun nilai yang lelang yang dimenangkan hanya Rp 20 triliun.

Rekor permintaan tersebut hanya bertahan 2 pekan karena pada lelang 4 Februari, jumlah permintaan mencapai Rp 96,9 triliun. Adapun nilai yang dimenangkan Rp 21 triliun.

Rekor ketiga atas permintaan SUN pecah pada 21 Februari, dengan jumlah permintaan Rp 127,12 triliun. Meski permintaan tembus rekor, namun jumlah yang dimenangkan pada lelang kali ini hanya Rp 18,5 triliun, terendah sepanjang 2020. (cnbcindonesia)

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar