BPIP Ngaku Tak Pernah Ingin Ganti Salam 5 Agama dengan Salam Pancasila

Sabtu, 22/02/2020 08:27 WIB
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. (Antara).

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. (Antara).

Jakarta, law-justice.co - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akhirnya merespon pemberitaan yang menyebutkan Kepala BPIP Yudian wahyudi hendak menggantikan salam 5 agama dengan salam Pancasila. Melalui keterangan pers dari Direktorat Sosialisasi Komunikasinya pada Sabtu (22/2/2020), BPIP mengaku tidak pernah punya keinginan untuk mengganti salam assalamulaikum dan salam agama lainnya dengan salam Pancasila.

BPIP memahami isu ini berangkat dari petikan wawancara program Blak-blakan detikcom dengan Kepala BPIP Yudian Wahyudi, videonya ditayangkan tanggal 12 Februari 2020, menit ke 29.08 hingga 32.56.

Awalnya, Yudian menjawab pertanyaan presenter Blak-blakan detikcom Sudrajat perihal salam assalamualaikum di hadapan publik. Yudian mengatakan, assalamualaikum diucapkan secara total sejak era reformasi tanpa pandang agama.

Kini, salam justru dilengkapi supaya genap dengan nuansa lima atau enam agama. Menrut Yudian, ini justru menjadi masalah baru. Yudian kemudian sepakat dengan ide salam Pancasila.

"Iya, Salam Pancasila. Salam itu kan maksudnya mohon ijin atau permohonan kepada seseorang sekaligus mendoakan agar kita selamat. Itulah makna salam. Nah Bahasa Arabnya Assalamualaikum Wr Wb," ujar Yudian dalam video Blak-blakan detikcom.

"Sekarang kita ambil contoh, ada hadis kalau anda sedang berjalan dan ada orang duduk, maka ucapkan salam. Itu kan maksudnya adaptasi sosial. Itu di jaman agraris. Sekarang jaman industri dengan teknologi digital. Sekarang mau balap pakai mobil, salamnya pakai apa? Pakai lampu atau klakson. Kita menemukan kesepakatan-kesepakatan bahwa tanda ini adalah salam. Jadi kalau sekarang kita ingin mempermudah, seperti dilakukan Daud Jusuf, maka untuk di public service, cukup dengan kesepakatan nasional, misalnya Salam Pancasila. Itu yang diperlukan hari-hari ini. Daripada ribut-ribut itu para Ulama, kalau kamu ngomong Shalom berarti kamu jadi orang Kristen," kata Yudian.

"Wong Nabi Muhammad SAW saja mendoakan raja Najasi yang Kristen saat wafat. Ada unsur kemanusiaan. Nah kita juga begitu, ngomong Shalom tidak ada unsur teologisnya. Wong kita sampaiukan (salam) supaya kita damai. Maaf, bagi orang Kristen mengucapkan salam juga tidak menjadi bagian teologis. Itu kode nasional yang tidak masuk dalam akidah. Kalau bisa dipakai tidak masalah." pungkas Yudian.

Dari pernyataan Yudian seperti tersebut di atas, BPIP menegaskan tidak ada satupun narasi yang semata menyatakan penggantian assalamualaikum dengan salam Pancasila.

Salam Pancasila sebagai salam kebangsaan diperkenalkan untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan serta menguatkan persatuan dan kesatuan yang terganggu karena menguatnya sikap intoleran.

"BPIP tidak pernah mengusulkan penggantian Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. Yang disampaikan adalah mengenai kesepakatan-kesepakatan nasional mengenai tanda dalam bentuk salam dalam pelayanan publik, dalam kaitan ini kesepakatannya adalah Salam Pancasila," kata BPIP.

Asal mula salam Pancasila

BPIP menjelaskan, salam Pancasila pertama kali dikenalkan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Dewan Pengarah BPIP di hadapan peserta Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor tanggal 12 Agustus 2017.

Salam Pancasila dilakukan dengan mengangkat lima jari di atas pundak dengan lengan tegak lurus. Makna mengangkat kelima jari di atas pundak adalah sebagai simbol penghormatan seluruh elemen masyarakat terhadap lima sila Pancasila. Penghormatan dan pelaksanaan sila-sila mesti dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari pejabat negara hingga seluruh anggota masyarakat.

Salam Pancasila sangat sejalan dengan makna dari kata `salam` itu sendiri. Kata `salam` memiliki arti sangat luas dan dalam, tidak hanya berarti keselamatan tetapi juga `perdamaian`. Salam berarti kedamaian yang dalam arti luas, berarti `kita bersaudara`, `kita dalam kedamaian` yang sama sekali membuang jauh unsur-unsur kebencian atau penolakan atas segala apapun yang telah kita sepakati.

Dahulu, Sukarno sekalu Presiden Pertama RI juga menyampaikan perihal salam merdeka untuk semua golongan dan agama. Salam Pancasila terilhami dari salam merdeka tersebut.

"Memperhatikan kondisi sekarang ini, Salam Merdeka yang sekarang diadopsi menjadi Salam Pancasila tetap relevan di tengah kecenderungan orang atau kelompok tertentu yang lantang mengucapkan salam keagamaan yang berisikan pesan damai, tetapi tidak berbanding lurus dengan perbuatannya yang tidak memberi damai kepada orang lain," kata BPIP.(detikcom)

 

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar