Ribuan Burung Gagak & Foto Satelit Merah Menyala di Wuhan Bikin Ngeri

Jum'at, 14/02/2020 12:22 WIB
Burung Gagak. (Pojoksatu.id).

Burung Gagak. (Pojoksatu.id).

Jakarta, law-justice.co - Warga Wusi, Distrik Chengxi yang berdekatan dengan Kota Wuhan China dibuat geger dengan fenomena ribuan burung gagak terbang diwilayahnya.

Dalam budaya Cina, burung gagak dilambangkakan sebagai nasib buruk dan pertanda kematian.

Selain itu, gagak juga dianggap sebagai burung pemakan bangkai manusia.

Ribuan burung gagak mengepung Wuhan sejak kota itu dilanda virus corona.

Jumlah korang yang meninggal akibat terinfeksi virus corona di seluruh dunia hari ini sudah mencapai 1.357 orang.

Sebanyak 60.015 orang terjangkit virus corona di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 33.693 orang dirawat di rumah sakit Hubei, 1.437 di antaranya dalam kondisi kritis.

Fenomena burung gagak di Wuhan dikaitkan dengan mewabahnya virus corona yang telah menelan banyak korban jiwa.

Dalam sebuah rekaman terlihat burung gagak beterbangan di Wusi, Distrik Chengxi. Video tersebut diyakini diambil oleh salah satu warga Wuhan dari dalam kota Cina.

Burung-burung itu terlihat beterbangan, kemudian turun di jalan dan mematok sesuatu.

Dilansir dari Daily Star, Rabu 12 Februari 2020, beberapa orang percaya jika gagak-gagak tersebut sedang mencari mayat untuk dimakan.

Warga lainnya mengatakan burung-burung itu mungkin memakan abu mayat yang jatuh ke tanah.

Adapula yang menyebut burung serba hitam itu sedang memakan serangga atau hewan yang mati karena bahan kimia yang disemprotkan di jalan.

(pojoksatu)

 

Selain fenomen burung gagak, foto satelit Wuhan berwana kuning dan merah menyala juga menggegerkan publik.

Ilmuwan menyebutkan foto satelit itu ada kaitannya dengan pembakaran mayat korban virus corona.

Dilansir dari Daily Mail, Kamis (13/2/2020), peta satelit dalam beberapa hari terakhir telah menunjukkan tingkat SO2 yang mengkhawatirkan di sekitar Wuhan, kota Cina.

Tingkat sulfur dioksida yang tinggi di Wuhan bisa menjadi tanda kremasi massal, sebagaimana diklaim para ilmuwan.

Para ilmuwan mengatakan bahwa tubuh pengkremasi melepaskan SO2 bersama dengan polutan lain termasuk nitrogen oksida.

Badan Perlindungan Lingkungan AS mengatakan bahwa membakar limbah medis juga dapat menyebabkan emisi sulfur dioksida.

Selain di Wuhan, tingkat sulfur dioksida yang tinggi juga terlihat di kota Chongqing, bekas sub-provinsi dari pemerintahan provinsi Sichuan.

Pemerintah Cina belum memberikan keterangan pasti bahwa tingkat SO2 yang tinggi di Wuhan ada kaitannya dengan kremasi mayat virus corona.

(pojoksatu)

 

Daerah di sekitar Beijing dan Shanghai, yang tidak diisolasi, juga menampilkan tingkat SO2 yang tinggi, meskipun tidak setinggi yang lain.

China telah memutuskan bahwa tubuh korban virus corona harus dikremasi dalam pemakaman sederhana agar tidak menjadi perhatian publik.

Komisi Kesehatan Nasional negara itu mengatakan awal bulan ini bahwa mayat harus segera dikremasi.

Mayat harus dikremasi atau dibakar untuk mencegah penularan virus corona dari tubuh korban. (Pojoksatu.id).

(Ade Irmansyah\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar