Mau Jadi Negara Maju, Bos PT Nuklir: Kembangkan Nuklir untuk Energi

Kamis, 13/02/2020 22:13 WIB
PT INUKI (persero) (Saibumi)

PT INUKI (persero) (Saibumi)

Jakarta, law-justice.co - Nuklir masih dianggap sesuatu yang tabu di Indonesia karena melekat dengan sesuatu yang berbahaya. Padahal penggunaan teknologi nuklir cakupannya luas antara lain untuk keperluan energi, pangan, dan lainnya.

Di Indonesia ada badan khusus yang menangani nuklir yaitu Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Namun, ada juga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang nuklir yaitu PT INUKI atau PT Industri Nuklir Indonesia (Persero).

Plt Dirut PT INUKI Syaifuddin menilai Indonesia harus lebih serius dalam mengembangkan nuklir sebagai energi jika ingin menjadi negara maju.

"Mengutip dari Bapak Presiden Pertama Indonesia (Soekarno), beliau pernah menyampaikan ketika meresmikan reaktor nuklir pertama di Indonesia bahwa kalau negara itu ingin maju harus kuasai dua bidang, pertama antariksa dan kedua bidang nuklir," kata Syaifuddin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (12/2/2020).

Namun sejauh ini, fokus penggunaan nuklir oleh PT INUKI bukan untuk senjata maupun Alutsista seperti yang dilakukan beberapa negara di dunia, yakni Iran dan Korea Utara.

INUKI menggunakan teknologi nuklir di bidang kesehatan antara lain bisnis utama produksi radioisotop serta Siklotron dan PET CT. Produknya banyak yang rencananya diekspor ke luar negeri.

"Target ekspor tahun ini untuk Colombia, Chile, Peru, dan Meksiko. Sebelumnya permintaan bahan baku tapi sekarang dalam produk kapsul untuk dipergunakan di 4 negara tersebut," katanya.

Pasar ekspor juga mencakup kawasan Asia antara lain China, Jepang, Malaysia, Vietnam, Filipina, Bangladesh serta India. "Untuk Filipina dan Bangladesh sudah dilakukan dan mulai tahun ini udah berjalan," papar Syaifuddin.

Sayangnya, di dalam negeri fasilitas nuklir untuk bidang kesehatan kurang mendukung. Sejauh ini hanya ada empat tempat yang menyediakan Siklotron atau mesin mempercepat partikel.

Tiga di Jakarta yakni di RS Kanker Dharmais, RS Gading Pluit, serta MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, selebihnya ada di Kalimantan. Sebanyak empat siklotron tersebut didukung 5 PET CT Scan. Jumlah tersebut masih jauh dari harapan. karena untuk memenuhi kebutuhan medis yang besar.

"Jadi untuk 265 juta penduduk Indonesia, kebutuhan diagnosa penyakit Kanker, Stroke dan jantung masih sangat minim sekali," kata Syaifuddin. (cnbcindonesia)

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar