Sisi Gelap Sejarah Hari Valentine

Jum'at, 14/02/2020 00:01 WIB
Ilustrasi (Living Hours)

Ilustrasi (Living Hours)

law-justice.co - Hari Valentine dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk merayakan romansa, cinta, kesetiaan dan semua hal yang berbau kasih sayang. Namun, siapa sangka, di balik hari penuh cinta dan romantisme ini ada sejarah kelam di belakangnya. Berdarah-darah dan agak kacau. Di mulai di Kota Roma kuno, di mana laki-laki terbiasa untuk memukul perempuan 

Kota Roma yang Liar dan Gila

Orang-orang Romawi merayakan pesta Lupercalia pada setiap tanggal 13 hingga 15 Februari. Saat itu, para lelaki mengorbankan seekor kambing dan seekor anjing, lalu mencambuk para perempuan dengan kulit binatang yang baru saja mereka bunuh.

“Para lelaki itu mabuk dan telanjang," kata Noel Lenski, seorang sejarawan di University of Colorado di Boulder. “Perempuan-perempuan muda kemudian berbaris untuk dipukul oleh para lali-laki itu,” lanjut Lenski. Mereka percaya, ritual itu akan membuat mereka subur.

Bangsa Romawi kuno mungkin juga bertanggung jawab atas nama hari Valentine atau hari Kasih Sayang yang kini diperingati di zaman modern. Waktu itu, Kaisar Claudius II mengeksekusi dua orang - keduanya bernama Valentine - pada 14 Februari namun di tahun yang berbeda di abad ke-3 Masehi. Kemartiran mereka kemudian dihormati oleh Gereja Katolik melalui perayaan Hari St. Valentine.

Di abad ke-5, Paus Gelasius I lalu mengacaukannya dengan menggabungkan Hari St. Valentine dengan Lupercalia untuk mengusir ritual-ritual pagan. Tapi festival itu lebih merupakan interpretasi teatrikal dari apa yang terjadi dulu. Lenski menambahkan, "Itu sedikit lebih dari mabuk, tetapi orang-orang Kristen mengenakan pakaian itu. Tapi tetap hari itu diperingati sebagai hari kesuburan dan cinta."

Shakespeare in Love

Seiring berjalannya waktu, peringatan hari Valentine menjadi semakin manis. Chaucer dan Shakespeare membuatnya tambah romantis dengan karya-karyanya. Mereka meraih popularitas di seluruh Inggris dan Eropa. Kartu ucapan kertas buatan tangan menjadi primadona di Abad Pertengahan.

Tradisi itu akhirnya berhasil sampai ke dunia baru. Revolusi industri mengantarkan kartu buatan pabrik pada abad ke-19. Dan pada tahun 1913, Kartu Hallmark dari Kansas City, Mo, mulai memproduksi kartu Valentine secara massal. 

Perayaan hari Valentine menjadi lahan bisnis skala besar. Namun komersialisasi itu juga dianggap  merusak bagi banyak orang. Helen Fisher, seorang sosiolog di Rutgers University, mengatakan, kita hanya bisa menyalahkan diri sendiri.

Hingga hari ini, perayaan Hari Valentine terus berlangsung, dengan berbagai cara. Banyak yang menguras tabungannya di bank hanya untuk membeli perhiasan dan bunga untuk kekasih mereka. Namun ada juga yang merayakannya sendirian.  Beberapa bahkan mungkin menghabiskan hari itu dengan cara yang sama seperti yang dilakukan orang-orang Romawi awal. Bagaimana dengan Anda? (NPR)

(Liesl Sutrisno\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar