Rapat Dengan DPR, Ini Curhatan Mengharukan Helmi Yahya Soal TVRI

Selasa, 28/01/2020 17:02 WIB
Helmy Yahya. (bola.com)

Helmy Yahya. (bola.com)

law-justice.co - Mantan Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) Helmy Yahya menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR, hari ini.

Rapat tersebut membahas masalah pemberhentiannya dari jabatan Dirut LPP TVRI oleh Dewan Pengawas.

Dalam rapat itu, Helmy Yahya menceritakan pernah dilarang sang kakak, Tantowi Yahya untuk mengurusi TVRI. Peristiwa itu terjadi sekitar 2,5 tahun lalu.

"Saya berdiskusi dengan kakak saya, Tantowi Yahya yang pernah menjadi salah satu pimpinan Komisi I DPR dan dia terus terang melarang saya, `ngapain kamu urusin TVRI, berat, sulit sekali`," ujar Helmy Yahya di Ruang Rapat Komisi I DPR RI Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Saat ini, Helmy Yahya menuruti perintah Tantowi. "Saya ikuti dia. Saya seorang adik penurut dan beliau adalah idola saya," ungkapnya.

Setelah itu, Helmy Yahya mengaku mendapatkan godaan yang besar. "Seseorang datang kepada saya, Helmy saya tahu anda mendapatkan popularitas, anda mendapatkan pencapaian ekonomi dari mana? Dari dunia televisi kan, dan TVRI adalah tempatmu belajar, iya saya belajar di TVRI 10 tahun," kata Helmy Yahya

Kemudian, Helmy Yahya berunding dengan istrinya. "Saya lawan larangan dari kakak saya," ungkapnya.

Lalu, Helmy Yahya memutuskan untuk mengikuti seleksi direksi TVRI."Alhamdulillah saya terpilih, mendapatkan amanah 29 November 2017," katanya.

Setelah aktif memimpin TVRI, Helmy Yahya percaya dengan apa yang dikatakan Tantowi Yahya. "Luar biasa kondisinya, betul kakak saya bilang, inilah kondisi TVRI beberapa tahun yang lalu, usia SDM tidak ideal 4.800 karyawan kami 72 persen itu usianya non-milenial alias kolonial, di atas usia 40 tahun," tuturnya.

Sementara karyawan TVRI yang usianya di bawah 40 alias milenial hanya 28%. "Tentu sangat tidak ideal untuk sebuah media, sebuah lembaga yang bergerak dalam industri kreatif. Ratingnya, sharenya juru kunci dari 15, kami nomor 15, logonya jadul kata orang, peralatannya sulit," ujarnya.

Selain itu, kata dia, anggaran dan remunisasi TVRI begitu kecil. "Tukin (tunjangan kinerja-red) belum turun, bagaimana memotivasi orang untuk bekerja dengan kondisi seperti itu," tuturnya.

(Gumilang Hidayat\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar