Faisal Basri: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Ganjil!

Senin, 27/01/2020 10:46 WIB
Faisal Basri (Radar Palembang)

Faisal Basri (Radar Palembang)

law-justice.co - Harus diakui kalau hingga saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia tak bisa tumbuh di atas 5%.

Pemerintah selalu menyalahkan kondisi global tentang perlambatan ekonomi yang terjadi di Indonesia.

Apalagi mencapai impian Presiden Joko Widodo (Jokowi) di awal kampanye-nya yang menargetkan ekonomi 7%.

Ekonom Senior Faisal Basri menuliskan sebuah artikel menarik tentang Keganjilan Perekonomian Indonesia.

Dalam situs pribadinya, seperti dikutip Senin (27/1/2020) via CNBCIndonesia.com, Faisal menceritakan tentang alasan pemerintah.

Menurutnya, hampir semua penjelasan tentang kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia dikaitkan dengan kondisi perekonomian dunia, tak terkecuali penjelasan pemerintah.

"Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia meleset dari target, faktor eksternal yang dijadikan kambing hitam: perang dagang AS-China, kebijakan The Fed, harga minyak dunia, ketegangan di Timur Tengah, pertumbuhan ekonomi China yang melemah, harga komoditi dunia, proses pemakzulan Presiden Donald Trump, dan masih banyak lagi," tulis Faisal.

Foto: GDP (Dok. Faisal Basri)

Terakhir, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahkan mengatakan sedang menakar dampak virus Corona dari China terhadap perekonomian.

"Sudah barang tentu faktor eksternal turut mempengaruhi kita. Namun, jangan sampai kelemahan kita sendiri dikesampingkan," terangnya.

"Ibarat pepatah: gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang samudera tampak."

Observasi sederhana menunjukkan pergerakan ekonomi Indonesia kian kerap berlawanan arah dengan pergerakan ekonomi dunia.

Faisal menulis, pada tahun 2013-2014 misalnya, pertumbuhan ekonomi dunia mengalami peningkatan, sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot.

Sebaliknya, pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi dunia turun, sedangkan pertumbuhan ekonomi dunia naik.

"Hal yang sama terjadi lagi pada tahun 2018. Untuk tahun 2020, prediksi IMF untuk pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,3 persen, naik cukup signifikan dari 2,9 persen tahun 2019. Prediksi saya untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini turun menjadi 4,9 persen dibandingkan tahun lalu 5,0 persen," terangnya.

Foto: GDP (Dok. Faisal Basri)

Perbedaan pola lainnya menurut Faisal adalah ketika pertumbuhan ekonomi dunia merosot tajam, pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah lebih landai.

Yang paling kentara terjadi tahun 2009 ketika terjadi krisis finansial global.

"Kala itu perekonomian dunia mengalami resesi dengan pertumbuhan -0,1 persen. Ada pun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa melenggang dengan pertumbuhan positif 4,6 persen. Hanya segelintir negara yang tahun itu pertumbuhan ekonominya positif, antara lain China dan India," jelasnya.

Sebaliknya, ketika perekonomian dunia memasuki fase pemulihan atau ekspansi, kecepatan ekspansi Indonesia lebih lambat. Jika pola itu berlanjut tahun ini dan tahun depan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan meningkat tahun depan.

Faktor apa saja yang menyebabkan pola di atas?

Foto: GDP (Dok. Faisal Basri)

Pertama, faktor domestik jauh lebih menentukan ketimbang faktor eksternal. Kedua, interaksi perekonomian Indonesia dengan perekonomian global melemah.

Hal ini tercermin dari degree of openness Indonesia yang turun sejak krisis 1998. Indonesia tampaknya semakin tersisih dalam kancah persaingan global.

Hampir semua negara semakin terbuka perekonomiannya, tak peduli negara itu kecil atau besar berdasarkan jumlah penduduknya, apakah negara itu kapitalis atau komunis, dan tak peduli di benua mana negara itu berada.

"Degree of openness Indonesia mengalami penurunan konsisten sejak krisis 1998 hingga sekarang."

(Ade Irmansyah\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar